
"Hanya mengundang Nona Olivia?" Jesi melirik Olivia dan bergantian melirik putrinya, Julia. "Ada dua 'Nona Stein' disini, Anda tidak salah, kan? Saya pikir orang yang diundang oleh Pak Presiden pastilah dia, dia juga Nona Stein."
Saat berbicara, Jesi mendorong Julia ke depan. "Buka matamu dan lihat, dia jauh lebih cantik dan anggun daripada Olivia!"
Di mata Jesi, putrinya ribuan kali lebih baik daripada Olivia! Bagaimana bisa Pak Presiden mengundang Olivia alih-alih putrinya?
"Benarkah? Maafkan penglihatan mata saya yang buruk, tapi saya benar-benar tidak bisa melihatnya," jawab Dokter Lay dengan acuh tak acuh. "Saya pikir, di mata saya Nona Olivia yang lebih baik. "
Dokter Lay menyebutkan 'Olivia' dengan jelas.
Setelah itu, dokter Lay berbalik dan melanjutkan tanpa melihat Julia.
Sekarang, wajah Julia memerah karena ia merasa dipermalukan dan khayalan Jesi tiba-tiba menjadi sangat konyol.
"Ada masalah apa dia? Dia hanya seorang dokter! Bagaimana dia bisa menganggap dirinya seperti seorang Presiden!" kesal Jesi.
"Cukup! Lihat apa yang sudah kau lakukan? Kau membuat Julia kehilangan muka karena tingkah konyolmu itu." Wanita tua itu marah pada Jesi, Julia juga menarik tangan ibunya dan diam-diam berdiri di belakang Yuta.
__ADS_1
Wajah Jesi langsung berubah suram, tapi ia juga menatap Olivia dengan kebencian. Semua pusat perhatian diberikan kepada anak itu! Kenapa?!
"Nenek, aku akan pergi dulu." Olivia sudah lama terbiasa dengan kepribadian Jesi, jadi ia hanya mengabaikan wanita itu dan berpamitan kepada neneknya. "Nenek pergilah ke ruang cctv, aku akan memberitahu Ayah kalau kalian semua ada di sini."
"Oke." Wanita tua itu memegang tangan Olivia dengan erat. "Kamu harus memberitahu ayahmu untuk tidak putus asa. Semuanya akan baik-baik saja, karena kita semua ada disini bersamanya dan mendoakannya!"
Neneknya itu berbicara dengan suara agak serak di tenggorokannya dan berusaha menahan air mata.
"Tentu saja, Nek."
Jesi tak ingin berbicara dengan Olivia, tapi sekarang ia juga memiliki sesuatu untuk ditanyakan kepada suaminya.
"..." Olivia terdiam. Jadi ini adalah alasan mengapa ibu tirinya itu sangat cemas?
Olivia hanya mengabaikan Jesi dan mengikuti dokter Lay ke ruang ganti.
...—oOo—...
__ADS_1
Segera setelah Olivia pergi, neneknya itu dan yang lainnya diajak ke ruang cctv.
Jesi mulai lagi. "Ada apa dengan Pak Presiden? Bahkan jika dia ingin memilih anggota keluarga untuk mengunjungi pasien, dia harus memilih orang yang tepat, kan? Bagaimana Olivia bisa dibandingkan dengan Juliaku?"
Di sisi lain, si nenek tak berbicara, seperti sedang bermeditasi dan menenangkan pikirannya.
Julia merasa malu dan tak bisa menahan diri untuk mengeluh dengan marah. "Ma, bisakah Mama berhenti membandingkan aku dengan Olivia? Itu sangat menyebalkan!"
Julia jarang marah, terutama saat ada dihadapan Yuta. Jadi, Yuta berbalik dan menatap wanita itu dengan heran.
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
__ADS_1
Thankyou so much and see you next chapter~