Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 323


__ADS_3

Setelah tidur nyenyak semalam, Olivia masih merasa bingung, ia yakin telah memesan taksi kemarin malam, jadi kenapa Alio yang datang menjemputnya?


Olivia juga tak pernah berpikir d


ia akan berakhir di kediaman presiden dan tidur di sana bersama Alio.


Beruntung, Alio tak melakukan apa-apa padanya.


"Mama, aku sangat mengantuk~" Olvi menguap malas, berbalik, berbaring dan berkata tegas. "Mama, aku pikir Papa agak menyukai Mama!"


Olivia terkejut mendengarnya. Apakah mungkin Alio benar-benar menyukaiku?


"Tadi malam, ketika aku meminjam laptop Papa dan mengatakan pada papa kalau akan mencarikan Mama Pria. Akibatnya, Papa menjadi marah dan memukul pantatku, bahkan Papa juga membuat laptop itu terbelah jadi dua."


Memikirkan hal ini, bocah kecil itu marah dan mengecam. "Aku pikir Papa benar-benar seorang B*Jing*an, Papa bisa menikahi wanita lain. Tapi, tidak membiarkan Mama jatuh cinta pada pria lain."


Olivia tak memberikan respons apa pun, namun memikirkan kata-kata anaknya. Setelah beberapa saat tak ada jawaban, Olvi menoleh ke arah ibunya dan menatap dengan matanya yang besar dan imut. "Mama, Apakah Mama setuju dengan pendapatku?"

__ADS_1


"Mungkin kamu merasa sedih karena Mama tidak menyetujui, tapi Mama pikir kamu tidak boleh mengatakan hal-hal kasar seperti itu pada Papamu. Bagaimanapun dia adalah Papamu dan itu tidak bisa diubah."


"Baiklah, Mama."


Setelah berbincang-bincang dengan Olvi, Olivia tak bisa tidur lagi dan memutuskan untuk turun ke ruang makan untuk sarapan.


Namun, Alio sudah pergi. Selain urusan politik, pria itu juga terlibat dalam pertunangan yang mungkin akan membuatnya sangat sibuk.


Saat turun, Olivia melihat para maid sedang membersihkan tangga dan menghias dinding. Beberapa dari mereka memegang sapu sementara yang lain sedang sibuk dengan dekorasi.


"Hati-hati, jangan bertindak ceroboh. Ya, gantung di situ."


Olivia menyadari bahwa kepala pelayan tersebut khawatir akan melukai perasaannya, jadi ia segera menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa, gantung saja. Aku tahu hanya beberapa hari lagi acara tersebut akan berlangsung, kalian semua sudah bekerja keras untuk menyiapkannya. Kalau menunggu dipasang nanti, mungkin tidak akan sempat."


Kepala pelayan berdiri di sana dengan perasaan tidak nyaman, namun Olivia tak bisa menyalahkannya karena itu adalah perintah yang harus mereka lakukan.


Olivia merasa tak nyaman berada di sekitar seseorang yang akan menjadi milik orang lain setelah membuat panggilan telepon yang salah semalam.

__ADS_1


Ketika para maid memandang kepala pelayan, ia tak harus memperhatikan mereka.


Namun, kepala pelayan terus memandang Olivia.


"Tidak masalah," ucap Olivia dengan lembut sekali lagi.


Kepala pelayan kemudian mengangguk kepada para maid dan memberi isyarat agar mereka tetap melanjutkan pekerjaan mereka.


Olivia tak diam untuk melihat lagi, tetapi berjalan menuju ruang makan tanpa suara.


Sebas mengikuti Olivia dan mengatakan. "Sebenarnya ini bukan perintah dari Presiden, tapi dari Nyonya Besar yang mengirimkannya. Ini adalah perayaan tradisional untuk memohon berkat. Nyonya Besar akan datang untuk memeriksa semuanya secara langsung dalam beberapa hari ke depan. Saya mengerti perasaan Nyonya, tapi kami juga tidak bisa melawan perintah atasan."


— Bersambung —


***


Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~

__ADS_1


Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~


Thankyou so much and see you next chapter~


__ADS_2