
Sambil menikmati makanannya, Olivia melihat sekeliling ruangan. "Jadi, kamu bakal menginap disini selama beberapa hari, ya?" tanyanya.
"Iya. Untuk sementara waktu, aku tidak mau terlalu berurusan dengan media. Aku sangat sibuk selama beberapa hari ini, dan aku tidak mau diganggu sama mereka," jawab Alio menjelaskan dengan santai.
Olivia merespon dengan anggukan ringan, lalu ia teringat dengan kegaduhan yang terjadi di media, oleh karena itu ia masih merasa khawatir.
"Apakah kamu sudah siap, sama konferensi pers beberapa hari lagi?" tanya Olivia.
Alio mengangguk, lalu menjawab. "Jangan khawatir, aku pasti akan menyelesaikannya dengan baik."
"Apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Olivia lagi.
Olivia tahu, dibandingkan dengan Alio dan keluarga Scarlett, kekuatannya benar-benar tak ada apa-apanya, tapi pada saat-saat seperti ini, ia berharap bisa membantu walaupun sedikit.
Alio berpikir sejenak, lalu menganggukkan kepalanya. "Ya, ada."
"Benarkah?" ucap Olivia yang terlihat sangat excited, ia mendongakkan kepalanya dan menatap Alio dengan ekspresi tulus. "Lalu, apa yang bisa aku bantu?"
Tatapan Olivia membuat hati Alio berdebar-debar, akhirnya pria berkata dengan pelan. "Mari kita makan dulu, lalu setelah itu kita akan membicarakannya."
...—oOo—...
__ADS_1
Awalnya, Alio tak terlalu tertarik dengan makan malam di hotel, mungkin karena ia makan bersama dengan Olivia, nafsu makannya jadi meningkat.
Mereka berdua bahkan kelihatan menikmati makanannya dengan lahap, dan berhasil ngabisin semua makanan yang ada di meja.
Hingga tengah malam pukul 12, Alio baru meletakkan sendoknya ketika handphonenya berdering lagi, pria itu menerima telepon yang tak ada habisnya.
Di dapur, Olivia membereskan bekas mereka makanan dan melihat jam tangannya, sudah saatnya ia pulang.
Olivia mengetuk pintu beberapa kali hingga pintu kamar itu terbuka secara otomatis, ia langsung melihat sosok Alio yang tinggi dan tegap berdiri di dekat jendela besar sambil menatap pemandangan di luar jendela.
Saat itu, meski Alio sedang sibuk menelepon, ia membalikkan kepala sebentar saat melihat Olivia masuk dan memberikan isyarat dengan matanya agar wanita itu mendekat.
Tanpa bermaksud menghindari kecurigaan, Olivia masuk dengan perlahan-lahan.
Olivia berjarak beberapa meter dari Alio, ia bersender di jendela besar dan diam-diam memandangi bintang-bintang di langit.
Akhir-akhir ini, Alio sangat fokus pada upaya perlindungan lingkungan dan hasilnya sangat terlihat. Dahulu, melihat bintang di negara ini benar-benar sulit. Namun, belakangan ini semakin banyak bintang di langit dan semakin terang pula.
Olivia memandangi bintang-bintang, lalu melihat ke arah pria itu. Saat Alio sedang menelepon, sikapnya sama seperti ketika sedang bekerja, tenang dan penuh wibawa.
Alio berdiri di sana dengan sikap yang memancarkan rasa percaya diri, seolah-olah pria itu memiliki kekuatan untuk memerintah negara ini.
__ADS_1
Olivia teringat kembali dengan ucapan Lucas kemarin. Kali ini, masalahnya tak bisa diselesaikan dengan mudah seperti halnya urusan pertunangan biasa.
Perasaan Olivia menjadi agak terbebani.
Alio seakan merasakan tatapan Olivia, ia sedikit menundukkan kepalanya dan menatap mata wanita itu.
Olivia buru-buru mengalihkan wajahnya dan melihat ke arah bintang-bintang di luar jendela.
Langit malam yang luas terlihat sangat indah, benar-benar luar biasa, Olivia merasa sangat senang setiap melihat pemandangan sebagus ini.
"Kemarilah!"
Ketika Olivia sedang melamun, ia tak sadar kapan Alio menutup telepon dan berbaring di tempat tidur berukuran king size itu.
Begitu mendengar suara itu, Olivia menoleh ke belakang dan melihat Alio melempar handphonenya ke sembarang tempat, lalu telapak tangan pria itu menepuk-nepuk tempat tidur disampingnya.
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
__ADS_1
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
Thankyou so much and see you next chapter~