
"Kau bisa menyuruh para maid untuk mengambilkanmu air." Yang mengejutkan Olivia, Alio menjawabnya dengan acuh tak acuh.
Kemudian, Alio memerintahkan seorang maid. "Ambilkan air untuk Nona Olivia!"
"Ya, Pak Presiden." Maid itu bergegas ke dapur.
Sekarang, Olivia tak punya alasan untuk tetap berada di sana.
Wanita itu mengucapkan terima kasih dengan canggung, lalu berbalik dan berjalan ke atas. Dibandingkan dengan langkah kakinya yang terburu-buru sebelumnya, sekarang Olivia berjalan jauh lebih lambat.
Arnold dan beberapa bodyguard tak tinggal lama di kediaman Pak Presiden, mereka pergi setelah beberapa saat.
Merasa sangat lelah, Alio melambaikan tangannya ke semua maid dan mengusir mereka pergi.
Pria itu duduk sendirian di ruang tamu, tak ada orang lain di sana dan akhirnya, wajah pria itu menunjukkan ekspresi kesakitan selain kelelahan.
Olivia menatap Alio dari lantai atas dan merasa pria itu menyedihkan.
Setelah mempertimbangkan dengan hati-hati, Olivia akhirnya berjalan ke bawah tanpa suara dan menuju ke dapur.
"Minum air ini."
Sebuah suara lembut masuk ke telinga Alio, lalu perlahan-lahan pria itu membuka matanya sambil bersandar di sofa dan wajah polos Olivia tampak di matanya.
Olivia meletakkan secangkir air hangat di tangan Alio, kehangatan tiba-tiba menyebar dari telapak tangan ke kedalaman lubuk hati pria itu.
"Apa kamu minum obat hari ini?" tanya Olivia.
__ADS_1
"Ya, Dokter Lay juga sudah memeriksa lukaku."
"Kamu ... apakah kamu baik-baik saja?" Olivia menatap Alio di bagian yang terluka.
Pria itu sedikit mengangguk sebagai jawaban.
Alio meminum air, Olivia berpikir sejenak dan berkata. "Aku telah menunggumu pulang dan ingin mengucapkan terima kasih."
Alio menatapnya dari atas ke bawah. "Untuk apa?"
Olivia baru saja akan berbicara, tapi handphone di saku baju tidurnya berbunyi, wanita itu mengeluarkan handphonenya dan melihat layar dengan terkejut.
Ternyata itu adalah Lucas.
"Aku harus menjawab telepon dulu."
"Kenapa kamu menelepon tengah malam begini?"
"Aku tidak bisa tidur, aku merindukanmu," jawab Lucas sambil menggoda.
Olivia tersenyum karena merasa lucu. "Berhentilah bercanda!"
"Kurasa, kamu pasti sangat senang sekarang. Jadi, kamu juga tidak bisa tidur saat ini."
"Bagaimana kamu tahu bahwa aku senang?"
"Aku tidak hanya tahu bahwa kamu sangat senang tapi juga tahu alasannya."
__ADS_1
"Benarkah? Kalau begitu tolong beritahu aku kenapa aku sangat senang!" Olivia tak percaya kalau Lucas adalah orang yang tahu segalanya, ia pikir pria itu hanya menebak.
"Kamu kembali mendapatkan pekerjaan di kementerian luar negeri, kan?" Lucas berkata sambil menyeringai. "Aku tahu itu ... kamu sangat profesional sehingga Kementerian Luar Negeri pasti akan mempekerjakanmu lagi cepat atau lambat."
Olivia terkejut selama beberapa detik.
"Bagaimana kamu tahu itu?"
Lucas terkekeh. "Bagaimana menurutmu? Aku tidak berpikir kamu bodoh sehingga tidak bisa mengetahui alasannya. "
"Jadi, alasan mengapa aku bisa kembali ke Kementerian Luar Negeri adalah kamu?"
"Mhm," Lucas tidak memberikan jawaban langsung.
Sekarang, Olivia menyadari apa yang terjadi, ia melirik Alio.
Begitu...
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
Thankyou so much and see you next chapter~
__ADS_1