
"Entahlah," jawab Alio dengan ekspresinya yang tak kalah dingin dan terlihat tak peduli dengan nasib Olvi.
"E-entahlah!?" sahut Olvi yang benar-benar tak habis pikir dan mulai kesal dengan pria di depannya.
"I don't care," ucap Alio dingin dan tingkah lakunya itu membuat Olvi semakin kesal.
Apa-apaan Om ini!? batin Olvi lalu tersenyum sinis saat menatap Alio karena ia merasa sangat kesal.
Lalu, Alio melirik ke arah kepala pelayannya—Sebas, yang baru saja masuk sambil membawa sebuah nampan yang berisi teh kesukaannya.
"Sebas, jelaskan pada anak ini!" perintah Alio lalu ia menatap Olvi kembali.
Sebas yang sedang menyeduhkan teh untuk Alio dan Olvi pun berkata dengan hormat dan sopan. "Tuan muda Olvi, mulai dari sekarang dan juga seterusnya, Anda akan tinggal di mansion ini," jelasnya singkat.
"Apa!?" teriak Olvi yang sangat terkejut dan juga bingung karena tiba-tiba saja dirinya disuruh tinggal di mansion bersama orang yang sudah menculiknya.
Om-om ini tidak lagi bercanda, kan!? batin Olvi lalu berdiri dari sofa dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling mansion.
"Hmmm ... boleh juga. Tapi, saya akan memikirkannya," ucap Olvi tampak setengah setuju lalu menatap Alio.
__ADS_1
Alio menaikkan sebelah alisnya karena tak menyangka anak itu akan setuju, tapi...
"Memikirkannya?" sahut Alio masih dengan ekspresinya yang dingin.
"Saya tahu … kalau Mama saya tidak bisa menghasilkan uang yang banyak untuk membelikan saya sebuah rumah," jelas Olvi, membuat Alio tertarik untuk mendengarkan kisahnya.
"Kalau rumah saja saya tidak punya, saya tidak akan pernah bisa memiliki seorang istri. Tapi, dengan rumah sebesar ini ... saya bahkan bisa memiliki lima istri? Tidak, malah sepuluh istri!"
Sepuluh istri? batin Alio yang sedikit terkejut lalu terkekeh. Dengan tubuh sekecil itu dia ingin memiliki sepuluh istri?
Alio yang sebagai pemilik mansion saja ... tak mempunyai cita-cita sebesar itu.
"Ambisimu cukup besar," komen Alio.
Anehnya, Alio merasa semakin lama ia berbicara dengan Olvi ... terasa semakin menyenangkan. Perasaan seperti ini, sudah lama tak pernah ia rasakan.
"Ya, ini karena istri-istriku yang baik hati yang melayaniku dulu dirumah Kakek," Olvi pun melanjutkan ceritanya dengan penuh semangat.
"Istri-istri? Kau punya istri? Berapa banyak?" tanya Alio pada Olvi yang entah kenapa menjadi sangat penasaran dengan kehidupan yang dijalani oleh putranya itu selama ini.
__ADS_1
"Hmm," Olvi tampak berpikir keras lalu menjawab dengan wajah polos dan juga bangganya. "Lima?"
Alio mengerutkan keningnya bingung karena ada lima istri melayani putranya itu di kediaman kelurga Stein dulu.
Bukankah mereka itu disebut pelayan dan bukannya istri? batin Alio lalu menggelengkan kepalanya karena tak habis pikir setelah ia mengerti, sesekali ia tersenyum samar sambil menatap putranya.
Setelah itu, Sebas pun melanjutkan untuk memberitahu Olvi apa yang belum ia sampaikan. "Tuan muda, mulai hari ini juga ... nama Anda akan berubah menjadi Olvi Wilson."
"Hah, Olvi Wilson?" kaget Olvi lalu melanjutkan ucapannya. "Namanya terdengar jelek! Lagian ... kenapa juga saya harus mengubah nama saya menjadi Olvi Wilson!?" protes Olvi mengerutkan keningnya tak setuju.
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
Thankyou so much and see you next chapter~
__ADS_1