Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 207


__ADS_3

Alio tampak cukup puas dengan telpon Yuta karena ia terlihat tak sedingin sebelumnya.


"Maaf, kami sedang sibuk sekarang, mari kita bicara lain kali," tambah Alio kemudian.


Setelah itu, Alio langsung menekan tombol tutup telpon dan mengikuti Olivia.


...—oOo—...


Saat mendengar suara telpon ditutup, Yuta masih belum sadar dari pikirannya.


Setelah ibunya datang dan menepuk pundaknya, pria itu tiba-tiba sadar.


Saat itu juga, Yuta seperti kehilangan jiwanya dan bersandar di sofa dengan lemas.


...—oOo—...


Begitu Olivia turun dari bus, Arnold menghentikannya.


Mengingat adegan di dalam bus, Olivia menunduk untuk menghindari tatapan Arnold.


Mereka semua pasti pernah melihat adegan itu.


"Tolong ... biarkan aku pergi," ucap Olivia kepada Arnold sambil mengelak ingin pergi.


Tapi ... baru dua langkah, Olivia dihentikan lagi oleh pria lain.


Olivia agak putus asa dan kelelahan.


Lalu, wanita itu menoleh dan melototi Alio yang memegang tangannya seolah tak terjadi apa-apa.


Alio menatap Olivia dan menunjukkan handphone di tangannya. "Apakah kau tidak menginginkannya lagi?"

__ADS_1


Olivia tiba-tiba ingat bahwa ia menyimpan nomor pribadi Alio dengan nama 'Suami Masa Depan'—yang tak diubah Olvi meskipun ia telah mencoba semua metode.


Jika Alio melihat itu sekarang, Olivia akan menjadi lelucon bagi pria itu!


Olivia mencoba meraih handphonenya, tapi Alio tiba-tiba mengangkat handphonenya tinggi-tinggi.


Oleh karena itu, Olivia jadi melompat ke pelukan pria itu.


Alio menatapnya dari atas. "Kenapa kau panik?"


Olivia menggigit bibirnya dan melangkah mundur. "Kembalikan handphoneku!"


Alio menatap wanita itu sejenak, ia bisa melihat dengan jelas bahwa Olivia memiliki rahasia dari ekspresinya.


Tapi pria itu tak memeriksa handphone Olivia seperti mata-mata.


Sambil memegang handphone Olivia, pria itu menarik pintu mobil. "Ayo masuk ke mobil!"


Alio memiliki kesabaran setipis tisu, pria itu menarik Olivia hingga menabrak dadanya yang bidang.


Olivia menatap Alio dengan marah. "Apa yang sedang kamu lakukan?"


"Masuk sebelum aku habis kesabaran!" sahut Alio dengan nada galak.


"Tidak bisakah kamu berhenti menggangguku?" ucap Olivia sambil menunduk, suaranya tiba-tiba menjadi serak dan matanya berkaca-kaca. "Kamu punya banyak wanita di sampingmu, Nona Scarlett dan wanita yang lain. Pergilah bersama mereka, kenapa kamu masih menggangguku? "


Saat Olivia berbicara, ia merasa getir saat menatap mata Alio yang ingin tahu. Kemudian, Olivia melepaskan tangan pria itu dan berbalik lalu melangkah pergi.


Olivia masih ingat hari itu, saat dimana Alio memintanya untuk keluar dan tak pernah kembali lagi, ia juga memiliki harga diri, jadi ia tak bisa setebal itu dan pulang ke kediaman Presiden bersama pria itu.


Sebenarnya, Olivia sudah memutuskan untuk tak berurusan lagi dengan Alio.

__ADS_1


Tapi ... dalam sekejap mata, sosok pria itu benar-benar mengganggu hidup Olivia lagi.


Alio terdiam sejenak, setelah itu ia melangkah maju dan menghentikan wanita itu.


"Olivia, apa yang kau bicarakan tadi? Jelaskan!" ucap Alio menarik Olivia dan menekan wanita itu ke lampu jalan di terminal bus dengan paksa.


Mereka berhadapan di bawah cahaya redup lampu jalan dan bayangan Alio menutupi Olivia.


"Terakhir kali pada hari ulang tahunmu, kamu kehilangan kesabaran saat aku meninggalkanmu. Itu karena ... aku pikir kamu bersama wanita lain, jadi ... mungkin lebih baik aku tidak mengganggu," jelas Olivia sembari menatap dalam mata Alio.


Olivia merasa jantungnya berdebar, jadi ia menjawabnya langsung kali ini.


Olivia berhenti berbicara ketika ia melihat tatapan Alio yang panas.


Tiba-tiba Olivia merasa tak nyaman dan sulit bernapas, ia mendorong Alio menjauh dengan pelan.


Tapi, Alio mengangkat dagu Olivia dan bertanya. "Siapa yang memberitahumu bahwa aku bersama dengan wanita lain malam itu?"


Sekarang, Alio bingung! Pria itu berada di rumah orang tuanya pada waktu itu. Bagaimana Alio bisa berkencan dengan wanita lain?


"Kamu benar-benar tidak tahu?" jawab Olivia balik bertanya dan matanya menjadi lembab.


Alio mengerutkan kening. "Saudariku memberitahuku bahwa kau menelponku malam itu, dia bilang kau akan meneleponku lagi sepuluh menit kemudian, tapi kau tidak menelponku dan aku bahkan tidak bisa menghubungimu. Olivia, kau tinggal bersama dengan pria lain dan kau benar-benar lupa hari ulang tahunku! Dan sekarang kau pikir itu salahku?"


— Bersambung —


***


Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~


Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~

__ADS_1


Thankyou so much and see you next chapter~


__ADS_2