
"Bantu dia mendisinfeksi seluruh tubuhnya! Dan Juga … Siapkan pakaian APD untuknya!" perintah Dokter Lay dengan wajah datar.
"Baik."
Kemudian, Dokter Lay berbalik dan berjalan keluar. Namun, saat ia sampai di pintu, pria itu tiba-tiba berhenti dan memperingatkan. "Pakaikan dia APD dengan hati-hati! Jangan berikan kesempatan untuk virus!"
Sikap pria itu tetap dingin.
"Baik, Anda bisa percayakan pada kami," sahut staf medis merespons secara berurutan.
Pria itu tak berlama-lama berada disana dan hanya meninggalkan mereka dengan sikap yang tak berperasaan.
Rena tak melihat ke arah pintu sampai pria itu benar-benar menutupnya, kemudian … Rena menatap pintu untuk waktu yang lama, meski tak ada yang bisa dilihat.
Rena merasa air mata sudah mulai menetes, sulit baginya untuk menahan emosi.
Semuanya terjadi terlalu tiba-tiba … seperti mimpi.
Semuanya terasa sangat tak nyata. Namun, pria itu tadi benar-benar muncul di hadapannya.
...—oOo—...
"Anda teman Dokter Lay?" tanya salah seorang staf medis saat mereka mendisinfeksi Rena.
"Sepertinya Dr. Lay gugup dengan Anda," tambah seorang perawat.
__ADS_1
"Oh, mungkin dia gugup dengan setiap wanita ya?" balas Rena sambil tersenyum kecut, merasa tak enak hati.
"Itu tidak mungkin," sahut perawat yang lain t,ak setuju.
Rena menatap perawat tersebut dan tiba-tiba teringat akan masa lalu. "Anda kenal dia? Anda pernah bertemu dengan istrinya? Cantik tidak istrinya?"
Para staf medis terkejut dengan serangkaian pertanyaan Rena.
Tiba-tiba Rena merasa sangat bosan. Sudah berapa lama sejak mereka putus? Sekarang Lay Hason sudah menikah, dan Rena masih peduli dengan istrinya. Bukankah itu bodoh? Apakah istrinya cantik atau tidak, itu bukan urusan Rena.
Setelah memikirkan hal itu, Rena berkata dengan malu. "Lupakan saja, saya hanya bertanya dengan sembarangan. Abaikan saja pertanyaan-pertanyaan itu."
Perawat itu menggelengkan kepalanya. "Sejujurnya, Dokter Lay sangat menjaga privasinya dengan ketat. Meskipun kami sudah bekerja bersamanya selama bertahun-tahun, kami tidak tahu banyak tentang kehidupan pribadinya, termasuk pernikahannya."
Lay Hason pasti sangat mencintai istrinya...
...—oOo—...
Di sisi lain.
Saat Dokter Lay masuk ke kamar Alio, Alio sedang ngobrol dengan Arnold soal beberapa masalah.
Kedatangan dokter Lay memotong obrolan mereka.
Dokter Lay duduk di sofa dan ngeloyor tangan tanpa sadar. "Jangan pedulikan aku, lanjutkan saja."
__ADS_1
"Aku pikir kau udah pergi," celetuk Alio.
"Nanti aku pergi," ujar dokter Lay sambil senyum-senyum.
Kemudian, Alio meninggalkannya pria itu sendirian, toh Alio juga tak peduli saat sahabatnya itu berniat untuk pergi atau tidak.
Alio terus berdiskusi dengan Arnold.
"Revitalisasi industri sangat mendesak sekarang. Setelah krisis epidemi selesai, aku akan segera bertemu dengan Menteri Keuangan, aku….," ucap Alio tiba-tiba berhenti.
Sementara itu, dokter Lay bangkit dari duduknya, mondar-mandir sebentar, lalu duduk lagi.
Setelah beberapa saat, dokter Lay bangkit lagi, mondar-mandir lagi, dan kemudian duduk kembali.
Alio mulai merasa khawatir saat dokter Lay melakukan itu untuk keempat kalinya. Alio benar-benar tak tahan lagi.
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
Thankyou so much and see you next chapter~
__ADS_1