
Yuta berhenti sejenak dan duduk dengan tak bersemangat, bahkan suaranya menjadi lebih dalam dan lebih pelan. "Aku tidak pernah mencintaimu, aku adalah pria yang egois yang hanya ingin mencari pengganti Olivia. Namun, aku mengetahui bahwa … kalian adalah dua orang yang sangat berbeda."
Julia terengah-engah karena sangat marah.
"Aku minta maaf, jika kamu marah, lampiaskan saja amarahmu padaku. Tapi, Olivia benar-benar tidak ada hubungannya dengan semua masalah ini, jadi aku harap kamu tidak akan marah padanya lagi."
"Kak Yuta! Kamu…," Julia terlalu marah untuk mengatakan apapun, karena Yuta mengambil alih semua tanggung jawab untuk melindungi Olivia.
"Kalian berdua tidak tahu malu! Kak Yuta, tidak apa-apa jika kamu ingin mencampakkanku, tapi kamu tidak akan pernah bisa bersama Olivia! Selama aku menderita, kamu akan membayarnya semua ini!!!"
Setelah itu, Julia menutup telepon dengan tiba-tiba. Yuta menghela nafas saat ia melihat layar handphonenya menjadi gelap.
Pria itu tahu ini bukan waktu yang tepat untuk mengungkapkan isi hatinya, tapi situasinya bisa menjadi lebih buruk jika ia terus ragu-ragu.
...—oOo—...
Alio membawa Olivia ke kamar tamu dan menenangkan wanita itu.
Setelah beberapa saat, dokter Lay dan timnya datang ke kediaman Presiden.
__ADS_1
Seluruh tim medis mengenakan pakaian APD berwarna putih, lengkap dengan masker dan sarung tangan, dokter Lay melakukan pemeriksaan dasar pada Olivia.
Di sisi lain, seseorang memeriksa suhu tubuh Alio.
"Nona Olivia, saya mendapatkan semua hasil Anda di Rumah Sakit hari ini. Dari hasil yang tersedia, kami tidak bisa memberikan diagnosis yang akurat untuk saat ini. Namun, tidak ada infeksi paru-paru yang ditemukan, jadi kami akan mengobatinya sebagai flu biasa terlebih dahulu."
Dokter Lay menjelaskan dengan Olivia sambil memeriksa dokumen.
"Terima kasih atas kerja keras Anda, sekarang sudah larut malam," ucap Olivia dengan suara lemah dan infus terpasang di tangannya.
"Jangan berkata seperti itu, ini adalah tugas kami," balas Dokter Lay. "Tim medis akan menginap di sini hari ini. Jika Anda mengalami muntah atau gejala lain terjadi di tengah malam, segera bunyikan bel, mengerti?" lanjutnya kemudian.
"Baik," ucap Olivia dan berkedip sebagai persetujuan.
Olivia menggelengkan kepalanya. "Tidak, saya tidak punya nafsu makan."
Mendengar perkataan Olivia, Alio akhirnya tahu kenapa wanita itu tak bisa berjalan dengan benar. Bahkan, orang normal pun bisa jadi lemah jika sehari saja tak makan, apalagi orang sakit.
"Minta orang-orangmu untuk menulis menu dan mengirimkannya ke dapur," suruh Alio kepada dokter Lay.
__ADS_1
Dokter Lay mengangguk, sementara Olivia menggelengkan kepalanya. "Aku benar-benar tidak punya nafsu makan."
"Lakukan apa yang aku katakan!" ucap Alio tegas.
"..." Olivia cemberut, pria ini selalu berbuat sesuka hati!
...—oOo—...
Tim medis menginap di kediaman Presiden, sementara dokter Lay langsung pergi.
Alio sendiri yang mengantar dokter Lay keluar, meninggalkan Olivia sendirian di kamar.
Olivia ingat kalau ia harus izin cuti dari pekerjaannya besok, jadi ia mengeluarkan handphonenya dan ternyata habis betrai.
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
__ADS_1
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
Thankyou so much and see you next chapter~