Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 175


__ADS_3

Setelah meminta Olivia untuk beristirahat, Rena berpamitan pada sahabatnya dan pulang sendirian.


Jarak di antara kediaman keluarga Wilson dan gerbang sangatlah jauh. Apalagi, mobil tamu dilarang masuk, cukup merepotkan bagi Rena saat bertamu di tempat ini.


Untungnya, kediaman Presiden menyediakan mobil khusus untuk pengunjung. Jadi, Rena menunggu mobil tersebut di depan pintu dengan sabar.


Tak lama kemudian, sebuah mobil sedan warna hitam datang dan berhenti dengan perlahan tepat di depan Rena.


Rena mengira kalau mobil itu adalah mobil yang dikirim oleh staf kediaman Presiden, jadi saat ia hendak membuka pintu dan memberi salam hangat.


Tiba-tiba ... senyum di wajah Rena langsung menghilang saat ia melihat pria yang duduk di kursi pengemudi.


"Masuk!" ucap Dr. Lay yang dengan perlahan menurunkan kaca mobilnya, memperlihatkan wajahnya yang sangat tampan.


"Tidak, terimakasih. Aku ingin berolahraga dan aku bisa berjalan ke luar sendiri," tolak Rena kemudian berjalan dengan sepatu hak tingginya.


Lay Hason menatap wanita itu dan menyadari sepatu hak tingginya hampir 8cm yang membuat Rena tampak tinggi dan ramping.


Rena sudah besar dan dewasa.

__ADS_1


Dibandingkan dengan gadis yang polos enam tahun yang lalu. Sekarang, Rena sudah tumbuh menjadi wanita dewasa yang sangat cantik, batin Lay Hason lalu tersenyum samar.


"Jarak dari sini sampai pintu gerbang sejauh 3 km, sebaiknya kamu masuk ke dalam mobil," ucap Lay sambil melaju perlahan mengejar Rena.


Rena menoleh ke samping lalu tertawa. "Dokter Lay, Anda sangat perhatian dengan wanita lain, kalau Nyonya Hason tahu, dia akan sangat marah."


Setelah mendengar itu, Lay semakin menguatkan cengkramannya pada setir dan ekspresi pria itu terlihat muram.


Namun, perasaan rumit itu hanya sementara, setelah Dr. Lay mencoba mengendalikan dirinya dan bertindak setenang mungkin.


"Aku sudah menganggapmu seperti adikku sendiri, jadi dia tidak akan cemburu meskipun dia mengetahuinya," ucap dokter Lay sambil tersenyum hangat.


Rena sangat terkejut, sampai ia berdiri sedikit tak seimbang dan akhirnya terjatuh hingga kakinya terkilir.


Saat Rena terjatuh, rasa sakit yang ia rasakan selama ini sudah tak bisa ia pendam lagi dan matanya sudah dipenuhi dengan air mata.


... —oOo—...


Julia mengurung diri di kamarnya dan menangis sekencang-kencangnya karena ia merasa sangat terhina!

__ADS_1


Dan boneka beruang yang menjadi objek pelampiasan amarahnya itu Julia lempar ke sudut ruangan.


Namun, sebelum Julia melempar boneka itu ke sudut ruangan, Julia menikamnya dengan gunting beberapa kali seolah-olah itu adalah Olivia.


Tak lama kemudian, Jesi mendatangi putrinya dan melihat sang putri yang terpuruk dengan mata yang dipenuhi air mata.


Melihat itu, sebagai seorang ibu, Jesi merasa sangat sakit hati.


"Julia, letakkan guntingnya sekarang juga! kamu bisa melukai dirimu sendiri!" ucap Jesi memegang putrinya dengan satu tangan dan mengambil gunting itu dengan tangannya yang lain.


Setelah itu, Jesi bertanya-tanya pada putrinya. "Sayang, beritahu Mama, kamu kenapa? Apa yang terjadi padamu saat kamu mendatangi Olivia di kediaman Presiden? Apakah Olivia menggertakmu? Kalau begitu, Mama akan membantumu membalasnya!"


— Bersambung —


***


Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~


Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~

__ADS_1


Thankyou so much and see you next chapter~


__ADS_2