
Tak lama kemudian, terdengar suara Alio yang sedang menelepon.
Meskipun Olivia tak dapat mendengar dengan jelas, apa yang sedang Alio bicarakan, tapi panggilan telepon itu berlangsung sampai makanan yang dipesan oleh Olivia tiba—tanpa adanya tanda-tanda panggilan tersebut berakhir.
Olivia memesan banyak sekali makanan untuk mereka berdua, karena selama beberapa hari terakhir ini, ia tidak selera makan karena terlalu khawatir pada Alio.
Karena takut makanannya dingin—Olivia pun mengetuk pintu kamar Alio.
Beberapa saat kemudian, setelah Alio mengakhiri sambungan teleponnya, iapun keluar dari dalam kamarnya, dengan hanya mengenakan robe.
"Sudah selesai, ya?" tanya Alio dan hanya dijawab oleh Olivia gelengan kepala sambil menunjuk kereta makanan yang ada di ruang tamu.
"Aku nggak bisa memasak, karena bahan makanannya kurang lengkap dan aku nggak mau kamu kecewa sama masakanku yang nggak enak karena kurang totalitas," jelas Olivia. "Jadi, aku memutuskan memesan makanan melalui room service."
Alio mengernyitkan alisnya, tampak jelas kekecewaannya dari wajah tampannya.
Alio merasa, kalau selera makannya sekarang sudah berubah. Dulu, Alio sangat menyukai hidangan-hidangan mewah dan ia seringkali memanjakan lidahnya dengan cita rasa yang dihasilkan oleh koki-koki terbaik di King Hotel yang sangat terkenal di negaranya.
__ADS_1
Namun, kini, Alio justru lebih menyukai masakan sederhana atau lebih tepatnya masakan rumahan yang dibuat oleh Olivia.
"Ayo kita makan," ajak Olivia, lalu menggandeng tangan Alio dan berjalan menuju meja makan dengan excited.
"Katanya sih, chef yang ada di hotel ini direkrut langsung dari restoran bintang 5 di luar negri. Jadi, aku yakin masakannya tidak akan mengecewakan," lanjut Olivia.
Alio menundukkan pandangannya, lalu melihat tangan Olivia yang sedang menggenggam erat tangannya dan sentuhan kecil itu berhasil membuat jantung Alio berdebar kencang.
Tanpa Alio sadari, ia hanya berjalan mengikuti langkah Olivia yang menuntunnya menuju meja makan.
Sesampainya di meja makan, Alio langsung duduk, sedangkan Olivia berbalik mengambil makanan dari kereta makanan, lalu menyajikan semua makanan yang ia pesan ke atas meja.
Olivia sadar, kalau Alio sedang memperhatikan dirinya, jadi ia hanya menundukkan kepalanya sambil pura-pura fokus makan dan mencoba untuk terlihat biasa-biasa saja.
Walaupun Olivia dan Alio sudah saling mengenal, tetapi tetap saja rasanya agak canggung saat Olivia diperhatikan oleh Alio sampai sebegitunya.
"Aku pikir kau akan menelponku," ujar Alio, sembari melirik handphone yang tergeletak di sebelahnya, lalu melihat ke arah Olivia lagi.
__ADS_1
Setelah mendengar itu, Olivia pun mendongakkan kepalanya, lalu melihat wajah Alio yang terlihat sangat lelah.
Olivia yang merasa kasihan dengan Alio pun menggelengkan kepalanya, "Aku tahu kamu sangat sibuk, jadi aku tidak mau merepotkanmu," jawabnya.
Perkataan Olivia berhasil membuat mood Alio—yang tadinya buruk, menjadi lebih baik.
"Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik aja."
Meskipun kalimat yang diucapkan oleh Alio sangat simpel, tapi saat Olivia mendengarnya, itu membuat Olivia tenang.
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
__ADS_1
Thankyou so much and see you next chapter~