
Pada keesokan harinya, langit cukup cerah. Tapi tetap saja rasanya suram bagi kultivator yang telah hidup di bawah sinar matahari cerah sepanjang hidupnya.
Mereka melanjutkan memancing ikan dan menangkap sisa jiwa hantu yang berkeliaran. Sedangkan kelompok Xiu Jimei sudah lebih dulu menyelesaikan misi dan dinilai langsung oleh petugas ujian.
Walaupun ikan yang ditangkap tidak banyak, tapi hasilnya sudah memuaskan. Lalu Xiu Jimei menyerahkan botol kaca pada petugas penilaian.
"Ini jin botol," katanya.
"..."
Petugas penilaian ujian tidak mengerti apa yang dibicarakan Xiu Jimei. Tapi masih memperhatikan beberapa sisa jiwa hantu yang tampak pingsan karena tidak menghirup oksigen.
"Apakah kamu ingin membunuh mereka sejak awal? Kenapa tidak diberi lubang udara?" tanya salah satu pengurus penilaian ujian.
Xiu Jimei merasa bingung. "Apakah mereka masih harus menghirup udara? Bukankah itu hanya hantu?"
"... Mereka juga hidup di Dunia Hantu. Tentu saja harus bernapas."
"..." Aku tidak tahu bahwa hantu butuh bernafas, batin Xiu Jimei.
Ia sengaja menutup rapat botol kaca karena khawatir sisa jiwa hantu-hantu itu keluar dari celah lubang.
Setelah menyelesaikan ujian pertama di Dunia Hantu, semua kelompok mendapatkan cabang ujian kedua. Kali ini mereka diminta untuk mengumpulkan semua domba hantu roh yang ada di padang rumput hitam menuju ke wilayah pegunungan bebatuan.
Tugas ini sekilas tidak rumit tapi ... agak aneh.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Suara domba mengembik berulang kali terdengar oleh semua kelompok ujian setibanya di padang rumput hitam yang tak jauh di wilayah kaki bukit pegunungan batu.
Suara domba-domba roh hantu tampaknya biasa saja, sama seperti domba pada umumnya. Hanya saja mereka belum melihat adanya domba satu ekor pun.
"Di mana domba-domba itu berada?" Yang lain masih mencari keberadaan domba roh hantu.
Tiba-tiba saja, seekor domba putih roh hantu jatuh dari atas dan hampir saja menimpa Yan Yujie. Jika laki-laki itu tidak refleks menghindar, mungkin kepalanya akan pecah.
Domba berbulu putih yang gemuk itu memiliki tanduk merah melengkung ke belakang, matanya merah dan mengembik pada Yan Yujie sebelum akhirnya pergi seperti ketakutan.
"Kenapa kamu malah diam saja? Tangkap domba itu!" Xiu Jimei sudah mengejar domba yang jatuh tadi.
Akhirnya mereka penasaran bagaimana domba jatuh begitu saja. Saat mereka menengadah, ternyata ada banyak objek berbulu putih di dahan-dahan pohon besar, sedang memakan dedaunan.
Bagaimana bisa ada domba di atas sana? Mereka bingung.
__ADS_1
Tidak heran mereka mendengar suara mengembik tapi tidak melihat wujudnya.
"Haruskah kita naik dan menangkap mereka?" Lei Mo melihat batang pohon hitam raksasa dan ragu.
Apakah semua domba itu terbang?
Memiliki cakar di kaki?
"Coba saja." Huang Fu Shi sedang menimbang sesuatu di hatinya.
Tak jauh dari mereka, Meng Meng menghela napas. "Apakah ini domba gunung apa domba pohon?" gumamnya.
Kelompok Xiu Jimei sudah mencoba untuk naik ke dahan pohon raksasa. Xiu Jimei sendiri baru saja kembali dengan sekeor domba roh hantu di sampingnya.
Domba itu tampak memasang ekspresi wajah tidak senang, duduk di dekat Ming Zise, sangat patuh.
"Bagaimana kamu menjinakkannya?" Lei Mo penasaran.
"Oh, tepuk saja kepalanya. Itu akan menjadi sedikit bodoh." Xiu Jimei berkata alakadarnya.
"..." Lei Mo yang baru saja melihat Yan Yujie menepuk kepala domba di atas sana pun langsung tak percaya.
Yan Yujie saja langsung diamuk domba dan diseruduk tanpa alasan apapun.
"Tadinya aku ingin makan domba panggang, tapi yang satu ini gemuk bulunya saja. Dagingnya kecil dan alot, jadi lupakan saja," kata Xiu Jimei.
"Apakah kamu hanya memikirkan makanan di kepalamu?" Lei Mo tampak tidak berdaya, sedikit tersenyum getir. Jika dia menikahi gadis seperti ini, rumahnya akan menjadi gudang makanan.
Tak lama setelah itu, Lei Mo mendengar suara perut Xiu Jimei yang berbunyi. Gadis itu menyentuh perutnya dan merasa heran. Dia baru saja selesai makan.
"Guru, aku lapar," katanya pada Ming Zise.
"Duduklah dan makan dulu. Domba itu tidak akan lari," kata Ming Zise seraya melihat domba yang duduk dis sampingnya dengan tatapan membunuh.
Domba roh hantu itu menggigil dan merasa jika tubuhnya botak saat ini. Jika tidak, bagaimana bisa sedingin ini?
Ming Zise mengeluarkan makanan yang sudah dibawa sejak berada di pulau. Dia membuatkan gadis itu makan dengan lahap.
"..." Lei Mo curiga, hubungan guru pendamping dan murid sekte ini tidak benar.
Semua murid kultivator kini sedang sibuk menjinakkan domba. Ada yang berhasil dalam sekali percobaan, ada juga yang mati-matian hingga hampir pingsan.
Sudah pasti, Yan Yujie kini berhasil menjinakkan beberapa domba roh hantu setelah melihat tanda api hantu berwarna biru keputihan di keningnya. Para domba itu sepertinya tunduk padanya.
__ADS_1
Namun tetap saja masih ada domba yang tidak mau dijinakkan olehnya. Terutama domba-domba yang sudah tua dan memiliki badan lebih besar.
Yan Yujie bahkan memeluk Xiu Jikai untuk mencari perlindungan.
"Kenapa domba yang satu ini tidak mau dijinakkan olehku?"
"Mungkin kamu terlalu lemah." Xiu Jikai menyodok hatinya.
"..." Yan Yujie akui itu.
Pada akhirnya, domba roh hantu masih dijinakkan oleh Xiu Jikai.
......................
Di sisi lain, Mei Rong, Fan Li dan Mi Sai memperhatikan dari jauh. Mereka sesekali akan diseruduk domba roh hantu di sampingnya. Para domba itu tidak suka ketiga kultivator hantu itu menduduki wilayahnya.
Tapi ketiganya cuek. Mereka sibuk memperhatikan Yan Yujie yang kini begitu dekat dengan para domba roh hantu.
"Sialan! Bagaimana bisa simbol raja hantu muncul di keningnya?!" Mei Rong mengepalkan kedua tangannya, enggan untuk tunduk.
"Mungkin saat ditelan ikan buntal," jawab Mi Sai.
"Apa hubungannya ini dengan ikan buntal? Apakah kamu pikir ikan itu begitu ilahi?" Mei Rong mencibir.
Fan Li tidak mau bertengkar. "Jangan lupa, dia adalah calon raja hantu yang asli. Wajar jika simbol itu muncul padanya. Sekarang masalahnya, bagaimana kita bisa menjauhkan dia dari kelompok dan membunuhnya."
"Apakah ada perintah dari raja?" Mei Rong menenangkan diri.
Fan Li menggeleng. "Raja sepenuhnya memberikan tugas ini kepada kita."
"Raja ingin tangannya bersih." Mi Sai tahu jika ketiganya kini dijadikan senjata oleh raja hantu, tapi tidak terlalu peduli.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Buat para domba mengamuk dan menyerang semua kultivator. Lalu kita buat ..." Fan Li segera membagikan rencananya diam-diam. Keduanya mengangguk.
Setelah itu, mereka menggunakan sebuah ramuan untuk membuat para domba roh hantu mengamuk.
Kurang dari lima menit, semua domba roh hantu memiliki perilaku aneh. Kecuali domba roh hantu yang dijinakkan sebelumnya. Para kultivator kini berlarian dan berteriak jika domba itu mengamuk.
Para domba mengembik dan mendengus keras, menubruk semua kultivator yang ada di sekitarnya.
"Sial! Apakah domba-domba ini salah makan rumput?!" Yan Yujie yang menjadi sasaran para domba roh hantu pun menghindar dengan cepat.
__ADS_1