Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Xiao Mei, Peluk Guru


__ADS_3

Pada akhirnya, hidangan tumis campur-campur itu habis kurang dari lima menit. Lalu ada juga sup ayam yang tampak biasa. Ada sayuran seperti kentang, kol, lobak serta ditaburi seledri yang harum. Mereka mencicipinya dan kemudian menjadi rebutan lagi.


Mereka tidak pernah makan sesuatu yang seenak ini sebelumnya. Perut akhirnya kenyang.


"Tim mana yang memasak ini? Sangat enak. Aku akan memberikan nilai penuh," kata perwakilan negeri lain.


"Ya, aku juga."


"Aku juga nilai penuh."


"Apakah makanan ini masih ada lagi?" tanyanya pada pengawas ujian memasak yang mengantar hidangan tersebut.


Pengawas ujian itu menggelengkan kepala. "Sudah tidak ada lagi. Hanya ada sepiring. Ini dibuat oleh kelompok yang dipimpin oleh Xiu Jimei."


"Xiu Jimei? Dari negeri mana orang ini?"


"Gadis ini dari Sekte Atas."


"Oh, negeri Atas! Sejak kapan kalian memiliki talenta luar biasa seperti gadis ini? Aku jadi ingin bertemu dengannya." Pihak lain sepertinya memikirkan bisnis.


"Jangan mengambil ide murid sekte kami!" Perwakilan negeri Atas memperingatinya.


"Aku hanya ingin membuat bisnis."


"Lupakan saja, itu tidak akan berhasil jika kamu terlalu licik. Apakah kamu tahu siapa Xiu Jimei sebenarnya?"


"Bukankah dia murid sekte mu?"


"Maksudku identitasnya yang lain." Perwakilan negeri Atas tersenyum sedikit misterius.


"Memangnya siapa dia? Apakah keturunan koki terkenal?"


"Bukan!"


"Xiu Jimei? Apakah Marganya Xiu?" tanya yang lain sepertinya sedikit familiar dengan nama ini.


Perwakilan negeri Alam Baka tertawa. Dia jelas tahu siapa pihak lain. "Dia adalah cucu perempuan Fu Heng."


Keluarga Fu? Lalu kenapa marganya tidak Fu?


"Huh, cepat katakan!" Mereka mulai bergosip.

__ADS_1


"Nama lainnya adalah Fu Jimei. Namun dia menggunakan marga ayahnya saat di negeri Atas. Ayah gadis itu adalah legenda Dunia Langit seratus tahun lalu. Ayahnya adalah Xiu Jichen, raja neraka sekaligus raja iblis dan mantan dewa iblis." Perwakilan negeri Alam Baka berkata dengan lancar.


Xiu Jimei ini terkenal di negeri Alam Baka karena merupakan cucu berbakat dari keluarga Fu. Fu Heng adalah ayah Fu Chan Yin dan sangat memanjakan cucunya. Belum lagi, keluarga Fu juga sangat hebat.


"..." Kenapa identitas ayah gadis itu begitu banyak? Serakah?


Keheningan di ruang penilaian akhirnya terjadi dan hanya tawa perwakilan negeri Alam Baka saja yang membuat mereka sakit kepala. Identitas Xiu Jimei ini tidak kecil.


Setelah bergosip cukup para penilai akhirnya menentukan siapa yang menjadi pemenang di ujian memasak kali ini. Bahkan mereka tidak malu untuk meminta Xiu Jimei membuat beberapa hidangan lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di penginapan ibu kota negeri Atas setelah kembali dari Dunia Kecil Array Kuno.


Saat Xiu Jimei tahu keserakahan mereka, dia hanya bisa marah dan melempar panci ke sudut lain. Dia awalnya ingin membuat bakpao isi daging. Tapi kini moodnya sedang jelek.


"Siapa yang ingin memasak untuk mereka? Mimpi!" Xiu Jimei menggembungkan pipinya seperti ikan buntal.


Ming Zise yang menemaninya di dapur terkekeh dan merasa jika bintang phoenix nya ini sangat imut. Dia menusuk lembut pipi gadis itu dengan jari telunjuknya.


"Yah, jangan marah. Kalau begitu lupakan saja. Mereka tidak bermaksud begitu," katanya.


Ming Zise ingin makan bakpao isi daging buatan Xiu Jimei. Jadi dia sengaja datang ke dapur untuk membantunya beberapa sambil menumbuhkan perasaan.


Xiu Jimei menenangkan diri dan mengambil kembali panci yang ditendangnya ke sudut dapur. Ming Zise menggeleng kepala. Panci itu akan digunakan untuk mengukus bakpao. Tentu saja Xiu Jimei tidak mungkin mengabaikannya di sudut dapur penginapan.


Tiba-tiba saja Xiu Jimei menghela napas tidak berdaya dan sedikit takut. "Bagaimana ini?? Pancinya berlubang!"


Seperti Xiu Jimei menendang panci terlalu kuat sebelumnya.


"Kenapa begitu khawatir? Beri saja uang pada pengurus penginapan untuk membayar panci yang rusak. Suruh mereka untuk menyiapkan yang baru."


"Ya, aku tahu! Tapi guru ... Berapa banyak uang kira-kira untuk mengganti panci yang berlubang ini?" Xiu Jimei memperhatikan lubang di tengah-tengah alas panci. Cukup besar.


"Mungkin beberapa keping perak. Atau mungkin beberapa batu roh kualitas rendah," jawabnya.


Batu roh merupakan alat tukar mata uang di Dunia Langit yang masih berlaku. Tapi sekarang kebanyakan sudah menggunakan keping. Oleh karena itu, batu roh lebih mahal nilainya dibandingkan keping perak.


"Sangat banyak?!" Xiu Jimei terkejut. Dia segera menghitung uang yang ada di ruang cincin penyimpanan.


Tak lam kemudian, Xiu Jimei menghela napas. Untung saja uangnya masih menggunung. Belum hilang satu keping pun.

__ADS_1


Ming Zise diam-diam tersenyum saat mengintip berapa banyak uang yang dimiliki gadis itu. Ternyata sangat suka uang dan berhemat sebanyak mungkin seolah-olah terlihat miskin. Gadis ini benar-benar pelit.


Tanpa sadar, Ming Zise memikirkan berapa banyak kekayaan yang dia miliki di Istana Minglan. Seharusnya sudah cukup untuk menghidupi gadis itu.


"Jangan khawatir, guru akan membayar panci yang berlubang ini." Ming Zise mengajukan diri.


Mata Xiu Jimei berbinar. "Benarkah?"


"Ya. Tapi ada syaratnya." Pria itu memegang beberapa helai rambut panjang Xiu Jimei, memelintirnya sedikit.


"Uh ... Apa syaratnya?"


Xiu Jimei sedikit malu. Guru sangat tampan. Apa lagi dengan rambut putih keperakan dan jubah brokat putih yang elegan, tampak seperti makhluk yang sangat suci di dunia ini.


Ibunya pernah berkata jika orang yang terlihat suci di dunia ini adalah Han Yuye, dewa pencipta Dunia Langit. Dulu pria itu pernah ingin menjadikan Xiu Jimei sebagai calon istrinya tapi dewa jodoh berkehendak lain. Xiu Jimei sudah terlahir sebagai bintang phoenix seseorang namun itu bukan Han Yuye.


Mau tidak mau, dewa pencipta Dunia Langit itu hanya bisa mengubur keinginannya dan pergi ke Alam Para Dewa. Sampai sekarang belum pernah terlibat.


Mungkinkah dewa pencipta Dunia Langit bersedih?


"Syaratnya tidak banyak. Xiao Mei peluk guru," kata Ming Zise.


"Peluk? Itu saja?"


"Ya. Bukankah Xiao Mei suka wajah putih kecil guru?"


"Hah ... Memang!" Wajah Xiu Jimei memerah lagi. "Bisakah?"


"Tidak ada orang lain di sini." Ming Zise terkekeh.


Tidak tahu kenapa, keduanya seperti sepasang kekasih yang diam-diam berpacaran agar tidak ketahuan orang lain. Terutama oleh Xiu Jikai.


"Bukankah itu tidak sopan? Pria dan wanita tidak bisa saling bersentuhan begitu saja. Itu merusak reputasi wanita," jelas Xiu Jimei.


"Selama yang dipeluk hanya guru, maka tidak apa-apa, apa. Apa yang ditakutkan Xiao Mei?"


"Tapi jika pria yang ditakdirkan eh bintang phoenix ku muncul, bagaimana ...? Aku merasa tidak enak dengannya suatu hari nanti."


"Dia tidak akan marah. Percayalah." Ming Zise sangat gemas dengan gadis itu, ingin mencubit kedua pipinya yang kenyal.


Siapa yang akan marah? Pria yang ditakdirkan untukmu ada di depan mata ... Batin Ming Zise.

__ADS_1


"Kalau begitu, oke!"


__ADS_2