Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Dewa Bencana Menghilang


__ADS_3

Yuu tidak lagi merasakan energi spiritual milik Ning Siyu di Alam Para Dewa. Dia menyipitkan mata dan curiga jika wanita itu telah meninggalkan Alam Para Dewa.


Daripada bingung, Yuu segera menguarkan energi spiritual miliknya ke seluruh penjuru Alam Para Dewa untuk mencari keberadaan Ning Siyu.


Tapi mengetahui bahwa saat ini ada salah satu dewa yang juga meninggalkan Alam Para Dewa, Yuu mencibir.


"Dewa Bencana ini benar-benar tidak mengecewakan ku. Akhirnya dia pergi juga sesuai dengan perkiraan Ming Zise," gumamnya langsung cemberut.


Yuu melihat gua yang telah ditinggali Ning Siyu untuk waktu yang cukup lama. Akhirnya dia menghancurkan gua tersebut dan pergi setelah meratakan tempat sekitarnya.


Saat ini, Alam Para Dewa belum terlalu menyadari jika Dewa Bencana telah meninggalkan istana tanpa berkata-kata.


Tapi Dewa Pencipta Alam Para Dewa sudah tahu hal itu. Dia menghela napas dan mengingat sosok Dewa Bencana yang selalu tenang dan jarang membuat masalah. Bahkan saat menjalani tugasnya, Dewa Bencana jarang mengeluh.


Siapa yang tahu jika di tulangnya terdapat sebuah ambisi besar untuk menjadi penguasa.


Karena Dewa Bencana meninggalkan Alam Para Dewa saat ini, dewa-dewi yang lainnya kebingungan. Ada juga berspekulasi bahkan menyangkal tentang pengkhianatannya. Namun dihadapkan dengan bukti-bukti kuat, mereka akhirnya diam.


"Apakah jejak kepergian Dewa Bencana ditemukan?" tanya Han Yuye.


Para bawahannya menggelengkan kepala. Aula pertemuan menjadi sunyi lagi. Mereka sulit untuk percaya jika kondisinya akan menjadi seperti ini. Alam Para Dewa mungkin akan berubah di masa depan.


"Kemungkinan besar dia sudah tidak ada di Alam Para Dewa lagi," ujar Dewa Jodoh.


"Jika tidak ada di sini, lalu ke mana dia akan pergi?" Yang lainnya penasaran.

__ADS_1


Sebelum Dewa Jodoh mengatakan sesuatu, Yuu muncul dari udara tipis.


"Dewa Bencana tidak ada di Alam Para Dewa. Kemungkinan besar dia pergi ke Alam Neraka." Suara Yuu yang kekanak-kanakan langsung menarik perhatiannya untuk mereka.


Dewa Obat masih ragu. "Tidakkah dia memiliki kesempatan untuk melarikan diri ke dunia lain?"


"Tidak." Yuu menggelengkan kepala. "Dia memiliki energi spiritual ku di tubuhnya. Dan aku tahu ke mana dia pergi," jawabnya.


Yuu tampak percaya diri tentang ini. Para dewa-dewi tidak yakin awalnya sehingga bertanya apa yang membuatnya begitu yakin. Dewa Pencipta Alam Para Dewa tidak banyak berkomentar. Tapi dewa lainnya curiga.


Anak laki-laki berjubah brokat hijau daun ini tampak sangat polos dan lembut tapi sepertinya memiliki banyak kemampuan tersembunyi. Murid Dewa Pencipta Alam Para Dewa tidak akan sesederhana itu.


Jadi setelah Yuu berkata demikian, mereka semakin penasaran dengan rahasia yang dibawa Yuu di tubuhnya.


"Bagaimana kamu tahu bahwa dia meninggalkan Alam Para Dewa?" tanya Dewi Takdir.


Tapi yang lain masih tidak percaya padanya. Kenapa Dewa Bencana memiliki energi spiritual Yuu di tubuhnya? Setiap dewa-dewi berkultivasi mengandalkan pohon keabadian untuk meningkatkan aura spiritual.


Melihat jika mereka semua tidak percaya, sudut mulut Yuu berkedut ringan. Dewa Pencipta Alam Para Dewa tidak banyak bicara dan mendengarkan diskusi mereka dengan tenang. Baik Dewa Bencana ada atau tidak, sistem Alam Para Dewa tidak akan terganggu. Tapi mungkin bencana alam di beberapa dunia akan terpengaruh.


Tiba-tiba saja terdengar tawa Dewa Binatang yang kini berwujud merak. Suara tawa merak itu sedikit menjengkelkan. Dia menatap Yuu sedikit meremehkan tapi tidak serius.


"Kamu bilang energi spiritual nya berasal dari mu? Kenapa begitu percaya diri?"


Yuu tidak tersinggung sama sekali. "Hanya karena aku adalah wujud pohon keabadian. Tentu saja semuanya mungkin."

__ADS_1


"..."


Aula menjadi hening. Mereka semua lagi-lagi menatap Yuu tanpa berkata-kata untuk sementara waktu. Tak terkecuali Dewa Binatang yang berwujud merak—tiba-tiba saja ingin berteriak kaget.


Pohon keabadian diungkit lagi. Tapi jika perkataan nya keluar dari mulut seorang anak, mereka sulit untuk mempercayainya. Mau tidak mau, para dewa-dewi menatap Dewa Pencipta Alam Para Dewa yang duduk di kursi kekuasaannya.


Dewa Pencipta Alam Para Dewa menghela napas panjang dan mengangguk. "Dia adalah wujud dari pohon keabadian saat ini. Karena pohon keabadian memulihkan vitalitas nya, tentu saja wujud manusia langit masih bisa dibentuk. Tapi karena baru saja membentuk wujud manusia, perawakannya hanya anak-anak saat ini."


"..." Para dewa-dewi membelalakkan mata dan menatap Yuu seperti memperhatikan harta panas yang harus diperebutkan.


Dewa Binatang menjadi salah satu yang pulih saat ini. "Kamu ternyata pohon keabadian? Kenapa aku tidak mencium aroma kayu dari tubuhmu?" tanyanya.


"Aroma kayu?" Yuu mencibir. "Aku bukan kamu yang memiliki bau ayam."


"Siapa yang kamu panggil ayam??! Aku ini merak! Burung merak!" Merak biru itu marah saat diejek oleh Yuu dan ingin segera mematuknya hingga mati.


Jika bukan Dewa Obat yang menahannya, mungkin Dewa Binatang akan kehilangan banyak bulu merak hari ini. Yuu bukan vegetarian. Anak-anak suka bermain dengan binatang berbulu dan mencabuti bulu mereka bukan?


Yuu tidak terpengaruh sama sekali. "Merak juga seekor burung."


"..." Dewa Binatang ingin muntah darah.


Beberapa dewa mencoba untuk menahan tawa saat Yuu mengejek Dewa Binatang yang terkenal mudah marah.


Akhirnya Dewa Hakim yang juga hadir saat ini menatap merak biru di tangan Dewa Obat—masih memaki Yuu berulang kali.

__ADS_1


"Kenapa kamu mempertahankan wujud binatangmu saat ini?" tanyanya.


__ADS_2