Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Bermimpi Lagi


__ADS_3

Ming Zise tertegun dan akhirnya ingat dengan mimpi Xiu Jimei sebelumnya. Tapi kemudian dia menegaskan jika semua itu tak akan seburuk yang dibayangkan.


"Tidak, aku pasti akan kembali. Setelah kembali, kita akan menikah dan hidup bahagia."


Selama satu jam lamanya Ming Zise membujuk Xiu Jimei perlahan hingga akhirnya gadis itu melepaskannya. Xiu Jimei tahu tak ada gunanya menjadi egois. Ketika pria itu maka harus pergi.


Apapun yang terjadi dengan mimpinya itu, Xiu Jimei tidak peduli. Dia hanya ingin Ming Zise baik-baik saja.


"Kapan kamu pergi?" tanyanya setengah lesu.


"Malam ini."


"Sangat cepat?" Xiu Jimei terkejut.


"Mau bagaimana lagi, pintunya hanya terbuka malam ini."


Jika tidak pergi malam ini, pintu kultivasi tertutup akan disegel lagi secara otomatis. Dan Ming Zise harus menunggu seratus tahun lagi untuk masuk. Waktunya sempit. Ia hanya punya waktu hingga tengah malam.


"Kalau begitu sebelum pergi, temani aku tidur sampai pulas."


"Ya, tidurlah lebih awal." Ming Zise tidak keberatan.


Tidak tahu kapan dia akan kembali, momen ini memang menjadi adegan perpisahan sementara mereka.


Dengan memeluk Ming Zise di sampingnya, gadis itu dengan cepat tertidur. Mungkin Ming Zise juga menggunakan sedikit kekuatan spiritual untuk membuatnya lebih nyaman saat tidur.


Ketika tertidur, Xiu Jimei kembali bermimpi banyak hal. Dari sebuah negeri yang tidak diketahui hingga dirinya dan Ming Zise tinggal di alam sekuler.


Semua mimpi itu aneh. Dan adegan dalam mimpi berpindah lagi. Kali ini masih mimpi yang sama seperti sebelumnya, kekacauan di Alam Para Dewa.


Mimpi tentang kekacauan tersebut kini menjadi semakin jelas dari sebelumnya. Ia melihat Ming Zise terkurung dalam sebuah array misterius. Kemudian, Xiu Jimei melihat Ning Siyu di belakang Ming Zise yang duduk dalam keadaan meditasi.


Ning Siyu tersenyum pada Xiu Jimei dan memeluk Ming Zise. Seolah-olah berkata jika pria itu adalah miliknya.


Xiu Jimei kaget dengan mimpi tersebut dan mau tidak mau langsung berteriak. "Tidak!!"


Ia terbangun dari tidurnya dan semua mimpi berakhir. Keringat dingin membasahi pakaiannya. Mimpi tadi rasanya sangat panjang.


Xiu Jimei linglung untuk sementara waktu. Akhirnya dia menyadari jika waktu masih malam.


"Mei'er? Apakah kamu bermimpi buruk?" Ming Zise menemaninya tidur. Dia terkejut dengan Xiu Jimei yang berteriak.

__ADS_1


Xiu Jimei menatap Ming Zise, lalu memeluknya dengan erat. "Kamu belum pergi."


"Kenapa? Baru dua batang dupa saat kamu tidur."


Dua batang dupa (±1 jam)? Xiu Jimei merasa tidak percaya. Rasanya dia sudah lama tidur. Semua mimpi itu sangat panjang. Bagaimana mungkin hanya dua batang dupa saja?


"Aku bermimpi buruk. Mimpi sekarang lebih kelas dari sebelumnya. Mingming, aku merasa kamu akan pergi jauh dariku. Ning Siyu masih menginginkanmu."


"Ayo cerita, mimpi apa saja yang kamu alami." Ming Zise merasa jika mimpi Xiu Jimei memang sebuah pertanda.


Akan lebih baik jika dia mengetahuinya lebih awal. Sehingga bisa mengambil tindakan pencegahan.


Xiu Jimei tanpa ragu menceritakan semuanya. Ming Zise terdiam ketika mendengar apanyang dimimpikannya. Ia akan terjebak dalam array misterius?


Jika mendengar secara rinci array seperti apa dalam mimpi itu, Ming Zise menebak sesuatu. Tapi tidak memberi tahu Xiu Jimei.


"Jangan khawatir, aku tahu apa yang harus kulakukan. Mei'er tidak perlu panik."


"Tapi aku merasa tidak nyaman." Xiu Jimei sama sekali tidak mau Ming Zise pergi.


"Baiklah, ayo tidur lagi. Kali ini mimpi itu tidak akan datang. Aku ada di sini." Ming Zise mencoba menenangkannya kembali.


Di saat Xiu Jimei menajamkan mata, Ming Zise menggunakan kekuatannya untuk membuat tidur gadis itu lebih nyenyak.


Ming Zise tuun dari tempat tidur, menarik tirai dan menutupi tubuh gadis itu dengan selimut. Setelah menatapnya cukup lama untuk diingat, Ming Zise akhirnya menghilang dari pandangan.


Hanya ada tirai kasa tempat tidur yang bergoyang lembut saat Ming Zise menghilang. Dan ekspresi tidur Xiu Jimei juga lebih damai dari sebelumnya.


"Cumi pedas asam manis ...," gumamnya tanpa sadar mengigau dalam mimpi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ming Zise kembali ke Alam Para Dewa. Dia tidak langsung pergi ke pintu tertutup melainkan menemukan Dewa Mimpi lebih dulu.


Saat ini, Dewa Mimpi sedang memilah beberapa mimpi yang sedang dialami manusia. Tak terkecuali para binatang. Kedatangan Ming Zise membuatnya sangat terkejut.


Sepertinya ini pertama kalinya pria itu datang ke istananya.


"Apa yang membaws Tuan Ming ke tempatku larut malam seperti ini? Kudengar kamu akan pergi ke pintu tertutup?" Dewa Mimpi terlihat paruh baya tapi suaranya masih muda. Ia suka berpenampilan seperti itu.


"Bertanya saja, apakah kamu memberikan mimpi pada tunanganku?"

__ADS_1


"Tunanganmu? Putri mantan raja iblis itu? Ya, tentu saja. Semua orang akan bermimpi dan dia tak terkecuali."


"Apakah kamu memberinya mimpi buruk?"


"Tidak!" Dewa Mimpi langsung membela diri. "Aku tak berani memberi dia mimpi buruk. Ini hanyalah mimpi tentang makanan saja. Bukankah dia pencinta makanan?"


"Hanya itu?" Ming Zise curiga.


"Jika kamu curiga, lihatlah sendiri." Dewa Mimpi menyerahkan buku mimpi padanya.


Ming Zise melihat nama Xiu Jimei dan mimpi yang ditakdirkan. Ini memang tentang makanan. Saat ini saja, Xiu Jimei sedang memimpikan cumi bakar saus pedas asam manis.


Melihat penampilannya yang bingung, Dewa Mimpi mau tak mau bertanya. "Ada apa dengan ini? Apakah bintang phoenix mu mengalami mimpi buruk atau pertanda?"


"Ya, semacam penglihatan masa depan tapi bukan sesuatu yang bagus."


"Kalau begitu aku tidak tahu tentang masalah ini. Lagi pula, mimpi itu mungkin langsung diberikan oleh Dewa Pencipta Alam Semesta. Hanya dia yang akan melakukannya sebagai peringatan di masa yang akan datang. Aku tidak memiliki kemampuan ini," tuturnya.


Dia tak melanggar hukum mimpi manusia. Atau berani menyalagunakan mimpi manusia. Jika seperti itu, bukankah ia akan mati?


"Kamu datang hanya untuk ini? Kupikir kamu sudah tahu tentang hal-hal seperti ini."


"Tidak, aku datang untuk hal lain."


"Katakanlah cepat. Kamu juga akan terlambat jika mengobrol lama denganku di sini."


"Apakah array mimpi masih ada padamu?" tanyanya.


"Array mimpi? Jika kamu tidak bertanya, mungkin aku sudah lupa. Array itu hilang beberapa tahun lalu. Aku tidak tahu siapa yang mencurinya. Kenapa bertanya tentang ini?"


"Bukan apa-apa. Hanya memastikan sesuatu saja. Mungkin array itu dicuri makhluk Alam Neraka. Entah Ning Siyu atau Lu Zheng."


"Kamu ... Apakah kamu yakin?" Dewa Mimpi terkejut.


"Hanya mereka yang memiliki kemampuan ini."


"Tapi untuk apa array mimpi itu? Mungkinkah mereka akan mengurung kita dalam mimpi saat perang terjadi di masa depan? Tapi ... Array mimpi itu hanya bisa berdampak pada satu orang saja."


"Masalah ini aku tidak tahu."


"..." Dewa Mimpi tidak mendapatkan jawaban yang pasti.

__ADS_1


Tapi ... dari mana Ming Zise tahu tentang array mimpinya?


__ADS_2