Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Perubahan Arus (1)


__ADS_3

Beberapa hari kemudian setelah selesai berkemah, Xiu Jimei dan Xiu Jikai kembali ke istana Golden Lotus. Ming Zise tidak bisa kembali bersamanya. Dia masih memiliki urusan yang harus diselesaikan di Alam Para Dewa bersama Dewa Binatang dan Han Yuye.


Seperti yang diharapkan si kembar. Fu Chan Yin dan Xiu Jichen kembali setelah mendapatkan kabar tersebut dari penjaga gelapnya.


“Bu, ke mana ayah? Kenapa tidak ada di rumah?” tanya Xiu Jimei saat kembali dan melihat Fu Chan Yin sedang berlatih pedang di halaman belakang.


Fu Chan Yin memberikan pedangnya pada Roh Bunga yang setia menemaninya. Dia melihat putrinya baru saja kembali berkemah dengan teman-teman sebayanya. Xiu Jikai mengikuti di belakang tapi tidak banyak bicara.


Karena sama-sama berada di ranah kekosongan dan umur ibu dan anak itu tidak beda jauh sekilas, Fu Chan Yin dan Xiu Jimei seperti saudara kandung. Hanya saja Fu Chan Yin lebih tinggi dari Xiu Jimei. Bagaimana pun juga, perawakan Xiu Jimei memiliki penampilan layaknya gadis berusia lima belas tahunan tidak terlalu tinggi.


“Ayahmu pergi ke Alam Para Dewa untuk membantu.” Fu Chan Yin tidak berdaya, bagaimana pun juga Xiu Jichen merupakan mantan dewa iblis sebelumnya. Datang ke sana untuk membantu sama sekali tidak ada yang salah.


“Apakah Ibu tahu pengkhianatan dewa bencana terhadap Alam Para Dewa dan kini menjadi raja iblis di Alam Neraka?”


“Tentu saja.”


Xiu Jichen memberi tahu Fu Chan Yin tentang masalah tersebut. Fu Chan Yin tidak terlalu peduli dengan hal ini. Dia selalu acuh tak acuh tentang masalah orang lain. Tapi jika berhubungan dengan anak-anak dan kerabatnya, dia tentu tidak akan tinggal diam.


Melihat putra dan putrinya telah tumbuh dewasa sedikit demi sedikit, Fu Chan Yin merasa jika waktu telah berlalu begitu cepat. Dia akhirnya mengambil keputusan lain.


“Karena kalian ada di sini, ada sesuatu yang ingin Ibu ajarkan pada kalian. Tapi tidak hari ini, tapi besok. Hari ini, kalian istirahat dengan baik, besok mungkin akan sedikit melelahkan,” ujarnya.


“Apakah Ibu ingin memberi kita jurus baru?”


Fu Chan Yin tersenyum. “Ini hanya teknik kecil yang akan berguna di masa depan.”


Fu Chan Yin tidak memberi tahu apa pun. Si kembar hanya bisa menyerah untuk menebak dan kembali ke dalam istana untuk membersihkan diri dan istirahat.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Xiu Jichen tidak kembali hingga keesokan harinya. Fu Chan Yin tidak khawatir sama sekali. Dia mengajak kedua anaknya ke halaman belakang untuk latihan.


Sebelum latihan, Fu Chan Yin meminta keduanya untuk olahraga pagi terlebih dahulu. Ini adalah kebiasaannya saat berada di zaman modern saat itu. Setelah melakukan pemanasan selama beberapa kali, Fu Chan Yin membiarkan kedua anaknya untuk belajar teknik teleportasi.


"Apakah teknik teleportasi ini yang selalu dipakai oleh Ibu?" tanya gadis itu terkejut. Bahkan Xiu Jikai juga menunjukkan ekspresi yang sama.


Keduanya memakai pakaian yang sedikit kembar, sama seperti hari-hari biasanya. Fu Chan Yin selalu menyiapkan pakaian yang hampir sama untuk keduanya sehingga terlihat serasi.


Fu Chan Yin mengangguk. "Benar. Ini teleportasi jarak jauh yang bisa digunakan antar dunia sekalipun. Ibu tidak pernah membiarkan kalian mempelajari ini sebelumnya karena khawatir kalian pergi ke tempat yang terlalu jauh. Tapi sekarang situasi nya berbeda. Tidak tahu kapan Alam Neraka dan Alam Para Dewa akan berperang kembali, Dunia Langit pasti akan terkena dampaknya kali ini."


Fu Chan Yin melihat Xiu Jimei yang menjadi incaran Ning Siyu saat ini, hatinya gelisah. Tapi Xiu Jichen sudah memberinya jaminan jika Xiu Jimei akan baik-baik saja. Biarkan anak-anak mencari pengalaman atas kesulitan yang dihadapinya sendiri sehingga lebih mandiri di masa depan.


Tapi Fu Chan Yin selalu khawatir.


"Aku sudah menantikan teknik ini sejak lama," kata Xiu Jimei.


"Lalu begitu, mari kita lakukan." Xiu Jikai tidak suka membuang-buang waktu.


Fu Chan Yin tidak merasa Xiu Jikai bosan dengannya. Lalu dia mulai mengajari keduanya selama setengah hari sebelum menyadari jika Xiu Jichen sudah kembali dari Alam Para Dewa. Dan dia tidak kembali sendiri. Ada Ming Zise bersamanya.


Xiu Jichen dan Ming Zise memiliki perawakan yang hampir sama. Mungkin karena keduanya memiliki usia yang hampir sama sehingga Xiu Jimei selalu merasa bahwa Ming Zise adalah ayah keduanya. Tapi jika dia mengatakan hal itu di depan Ming Zise, mungkin pria itu tidak akan bahagia.


"Ayah, akhirnya kamu kembali," kata Xiu Jimei.


Xiu Jikai juga menatap Xiu Jichen sesuai dengan ajaran bakti kepada orang tuanya. Xiu Jichen menepuk bahu putranya dan memeluk putrinya yang sudah lama tidak dia lihat.

__ADS_1


"Kenapa kamu belum tumbuh tinggi?" Xiu Jichen mengukur tinggi Xiu Jimei yang tampaknya tidak ada bedanya saat terlahir kali dia kembali.


Xiu Jikai yang melihat ayahnya begitu memanjakan Xiu Jimei mau tidak mau mendengkus. "Ini belum seratus tahun Ayah dan ibu pergi, tentu saja dia belum tumbuh ini."


"Kamu tidak tahu perasaan seorang Ayah."


Xiu Jichen menatap putranya dengan ketidakpuasan. Lupakan saja, pria harus mandiri lebih awal dibandingkan wanita. Dia memanjakan anak perempuannya merupakan hal yang benar.


Xiu Jichen mengajak Ming Zise untuk makan siang. Xiu Jimei secara sadar langsung duduk di samping Ming Zise saat pria itu memintanya. Membuat Xiu Jichen merasa kosong entah kenapa. Jika bukan karena Fu Chan Yin ada di sampingnya, dia mungkin akan protes pada Ming Zise tidak yang telah merampok putrinya.


Belum lagi, Fu Chan Yin memperlakukan Ming Zise seperti menantu yang baru saja berkunjung ke rumah untuk menginap.


Karena kedatangan Ming Zise, makan siang kali ini lebih banyak. Terutama karena Xiu Jimei merupakan orang yang makan paling banyak. Fu Chan Yin jarang makan banyak setelah melahirkan anak tapi dia lebih sering makan di waktu-waktu tentu dalam jumlah yang sedikit.


"Ayam goreng, mi kari, ayam panggang dan sate sapi bumbu kecap! Semuanya sangat enak," kata Xiu Jimei seraya menguasai sepiring ayam goreng di depannya.


Fu Chan Yin merasa sakit kepala melihat kebiasaan putrinya. "Mei'er, jangan serakah. Bagi dengan saudaramu."


"Aku tahu." Xiu Jimei tidak mungkin lupa dengan kakaknya sendiri dan mulai membaginya. Tapi tetap saja tidak adil. Dia mendapatkan lebih banyak bagian daripada kembarannya.


Tapi Xiu Jikai tidak terlalu peduli. Dia jarang makan seperti adiknya.


"Apa yang terjadi di Alam Para Dewa saat ini?" Fu Chan Yin mengambil topik pembicaraan saat makan.


"Mengatur lebih banyak pasukan untuk berjaga-jaga di perbatasan," jawab Ming Zise.


"Apakah perang akan segera berlangsung?"

__ADS_1


"Tidak. Tapi perbatasan Alam Para Dewa dan Alam Neraka tidak dalam keadaan yang baik. Lebih baik membuat persiapan lebih awal."


"Kupikir Alam Para Dewa tidak akan menunjukkan diri pada Dunia Langit," gumam Fu Chan Yin.


__ADS_2