Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Buah Reinkarnasi


__ADS_3

Kali ini, bukan hanya padang rumput yang terlihat, tapi juga sebuah gazebo indah tiba-tiba muncul di belakang mereka. Melalui kekuatan Ming Zise, sebuah gazebo dari Istana Minglan sendiri bahkan bisa dipindahkan.


Lalu, segala jenis hidangan tersaji dan mereka bisa mencium aroma makanan enak yang menggugah selera.


"Apakah ini nyata?" Xiu Jimei tidak mempercayainya.


Melihat domba di padang rumput sambil makan sesuatu di gazebo, ini baru menyenangkan. Mendapatkan dua dalam satu kali tarikan, bukankah luar biasa?


"Tentu saja nyata." Ming Zise tersenyum. Melihat gadis itu senang, dia juga menghela napas lega.


Menatap kedua pria tak jauh darinya, dia acuh tak acuh. Bintang phoenix nya sendiri, tidak perlu orang lain untuk membantu menyenangkannya.


"..." Han Yuye dan Zhishu langsung kalah di tempat.


Xiu Jimei senang tapi dia juga tidak lupa sesuatu. "Tapi Guru, ini tidak bisa dinikmati sepanjang waktu. Bukankah buang-buang energi jika bolak-balik peri untuk menikmati pemandangan sambil makan di gazebo seperti ini?"


Ming Zise memikirkannya dan dia diam-diam memutar cincin di jari manis tangan kirinya. Melihat sekawanan domba dan padang rumput yang luas, Ming Zise memiliki cara untuk membuat dunia kecil di dalam cincin.


Jadi, dia melepaskan cincin batu gioknya yang mahal dan diubah menjadi ruang kehidupan.


Tiba-tiba saja, semua domba di padang rumput langsung menghilang, bersamaan dengan gazebo dan makanannya.


Mereka kebingungan. Saat Ming Zise melepaskan cincin dan memberikannya pada Xiu Jimei, Han Yuye dan Zhishu bahkan lebih yakin akan sesuatu.


Ming Zise pasti ia membuat ulah diam-diam.


"Guru, untuk apa semua ini?" tanyanya.

__ADS_1


"Cobalah periksa dan masuk."


Xiu Jimei penasaran dan mau tidak mau dirinya memejamkan mata untuk melihat ke dalam ruang cincin. Lalu dia terkejut dan membuka matanya kembali, menatap Ming Zise dengan kekaguman.


"Luar biasa. Aku akhirnya bisa mengunjungi domba-domba itu kapan saja. Tapi ... Apakah tidak apa-apa domba roh dewa ada di dalam ruang cincin ini?"


"Jangan khawatir, semuanya baik-baik saja jika ada Guru di sini."


"..." Han Yuye dan Zhishu ingin memuntahkan sesuatu di dalam hatinya. Bisakah pria itu berhenti menaburkan makanan anjing (hal-hal romantis) di mana-mana?


Akhirnya Xiu Jimei bisa menjadi tenang.


Tak lama, mereka sudah berada di Istana Langit lagi.


"Pangeran Agung, apakah ada buah reinkarnasi di sini?" tanya gadis itu.


"Ya."


Zhishu serius saat ini dan sepertinya dia masih memiliki beberapa buah tersebut di istananya. Jadi mereka kembali ke di istana untuk mengambil buah reinkarnasi.


Tak lama, pelayan membawa sebuah kotak cendana merah yang isinya buah reinkarnasi. Meski buah itu mirip apel dan tambak harum tapi kegunaannya tidak sembarangan.


Buah reinkarnasi ini aku petik beberapa dekade yang lalu dan telah matang. Mengingat burung kecil itu sudah lama tidak mengenali identitas aslinya sendiri, Zhishu berpikir jika buah reinkarnasi yang disimpan lebih lama akan sangat efektif.


"Tuit Tuit, cobalah makan ini dan mungkin bisa melihat semua masa lalu," ujar Xiu Jimei.


Tuit Tuit tidak munafik dan mematuk beberapa potong buah reinkarnasi beberapa kali. Awalnya tidak ada yang terjadi. Namun lama-kelamaan, tubuhnya kesakitan dan kepalanya pusing. Tuit Tuit tumbang di atas meja seperti burung yang sedang sekarat.

__ADS_1


Xiu Jimei terkejut. Namun Zhishu menjelaskan jika ini adalah efek awal buah reinkarnasi. Lambat laun, Tuit Tuit akan baik-baik saja dan kemungkinan saat ini Tuit Tuit sedang melihat masa lalu.


Setidaknya membutuhkan waktu seharian bagi Tuit Tuit untuk mencerna semua kehidupan sebelumnya.


Pada saat itu juga, Xiu Jimei bosan dan menginap di Istana Langit sambil menunggu Tuit Tuit bangun.


"Siapa yang mengusir Dewa Binatang di masa lalu?" tanyanya pada Ming Zise. "Apakah itu Guru?"


"Bukan." Ming Zise menggelengkan kepala. "Meski Guru memiliki wewenang, tapi waktu itu kejadiannya terlalu mendadak dan Dewa Pencipta Alam Para Dewa mengambil keputusan besar untuk insiden tersebut."


Karena itu, Ming Zise tidak banyak tahu tentang masalah tersebut. Tapi dia cukup kenal dengan Dewa Binatang ....


Di tempat tidur kecil, Tuit Tuit akhirnya bangun. Burung kecil itu sedikit merintih hingga bingung setelah siuman.


"Tuit Tuit, akhirnya kamu sadarkan diri. Apakah tubuhnya tidak nyaman? Mimpi buruk?" tanya Xiu Jimei seraya memperhatikan burung kecil yang baru saja


Tuit Tuit tertegun dan menggelengkan kepala kecilnya. "Tidak, tidak ada. Aku akhirnya tahu beberapa fragmen kehidupan lampauku. Tapi semuanya baik-baik saja."


"Tuit Tuit, coba ceritakan semuanya dari asal hingga akhir."


"Tidak! Leluhur ini lelah dan ingin istirahat. Kamu jaga diri baik-baik," kata Tuit Tuit langsung menghilang dari tempatnya.


"..." Xiu Jimei yang awalnya tampak senang kini harus kembali menelan pil pahit.


Dia yakin jika Tuit Tuit Tuit sudah mengetahui masa lalunya secara penuh. Tidak mungkin berakhir sia-sia setelah setelah koma seharian.


Sudut mulutnya berkedut sedikit. Burung yang tak bisa memotong rumput itu tampak menghindari pertanyaan.

__ADS_1


__ADS_2