Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Kakek Meng


__ADS_3

Mendengar suara pria tua itu, mereka semua berbalik dan melihat seorang kakek berambut putih dengan janggut yang cukup panjang berdiri di bawah pohon rindang. Pria tua itu memegang tongkat untuk memudahkannya berjalan. Pakaiannya sederhana namun rapi dan bersih.


Wajahnya yang keriput membuat matanya sedikit tenggelam oleh kulitnya yang mengendur seiring bertambahnya usia.


Tapi Xiu Jimei terkejut ketika melihat kakek itu. Usianya sudah lebih dari 500 tahun dan berada di ranah kekosongan. Yang lebih mengejutkannya lagi, ia tak bisa mengetahui keberadaannya sama sekali. Pria tua itu pasti memiliki benda curang di tubuhnya bukan?


"Siapa kamu?" tanya Xiu Jikai.


Pria tua itu melirik Xiu Jikai tapi tidak menjawabnya. Dia hanya mengajak mereka ke suatu tempat. Tempat yang mereka tuju sedikit terpencil dan lebih rimbun. Hanya saja setelah berjalan cukup lama, mereka membuat sebuah tanah lapang yang tidak terlalu besar. Ternyata sudah api unggun yang menyala serta aroma ikan bakar membuat mereka lapar.


Bukan hanya itu, anak beruang putih roh kuno juga tengah memakan ikan bakar. Kemudian menatap mereka tanpa rasa bersalah sama sekali.


Yan Yujie yang awalnya ingin protes pada anak beruang itu terhenti oleh banyaknya ikan di dalam ember. Semua ikan itu ditangkap oleh beruangnya. Jika dia tahu, dia tak perlu repot-repot memikirkan cara untuk memancing ikan.


"Ternyata ada tempat seperti ini di hutan," gumam Kin Wenqian.


"Apakah kalian ingin makan ikan dulu? Mari kita bicara santai seraya makan," kata kakek itu sangat ramah. Lalu mencoba duduk di sepotong kayu yang cukup kokoh. "Duh, pinggangku sakit sekali. Sakit, sakit!"


Pria tua itu mengeluh, lalu melirik Xiu Jikai. "Nak, bantu aku untuk duduk. Lututku sedikit kaku saat digerakan," katanya sangat menyedihkan.


"..."


Xiu Jikai yang sangat acuh sejak awal langsung maju dan membantunya duduk. Dia melakukannya dengan hati-hati tanpa rasa kesal atau jijik sama sekali. Keduanya sama-sama dibeanah kekosongan sehingga ia masih bisa memaksa energi spiritual yang kuat di tubuh tuanya.


Wang Xuyue adalah yang paling polos di antara yang lain. Dia duduk tak jauh dari pria tua itu. Dsn sengaja atau tidak, tempat duduk dari sepotong kayu yang tersedia sangat pas untuk jumlah mereka.


"Kakek, apa yang kamu lakukan di hutan seperti ini? Semalam turun dan hujan masih lembap saat ini. Bagaimana jika bertemu dengan binatang buas?" tanyanya khawatir.


Wang Xuyue tidak mampu melihat seberapa kuat kultivasi pria tua itu. Dia masih terlalu lemah untuk merasakan tingkat kultivasi pihak lain yang jauh lebih tinggi darinya. Meski demikian, dia tahu pria tua itu tidak sederhana.

__ADS_1


Selain Xiu Jimei dan Xiu Jikai yang mampu merasakannya, mungkin Yan Yujie yang tahu seberapa tinggi kultivasi pria tua tersebut.


Setelah duduk dibantu oleh Xiu Jikai, pria tua itu menghela napas tidak berdaya. "Apa boleh buat. Aku harus mencari tanaman obat dan beberapa tanaman beracun untuk kebutuhan para alkemis."


"Apakah Kakek seorang alkemis?"


Pria tua itu tertawa ringan dan mengangguk. "Benar, aku sudah lama menjadi alkemis dan terbiasa mencapai bahan obat sendiri. Nak, apakah kamu tertarik menjadi seorang alkemis?"


Wang Xuyue buru-buru menggelengkan kepala. "Tidak, tidak, terima kasih. Aku tidak memiliki bakat ini."


Namun Xiu Jimei tiba-tiba saja bertanya yang melenceng dari percakapan mereka saat ini. "Jadi, apakah kamu datang untuk menjemput kami ke desa obat?"


Lagi-lagi, pria tua tertawa setelah tertegun sebentar. Ini membenarkan apa yang ditanyakannya. Seperti yang diharapkan dari anak pasangan itu, Xiu Jimei sungguh peka.


Pria tua itu memperkenalkan diri sebagai Kakek Meng. Dia adalah kepala alkimia di pedesaan obat. Para alkemis senior terkadang bertahan di sana setelah lulus ujian.


"Sebenarnya aku memang mencari tanaman herbal. Bukan hanya disengaja menjemput kalian. Lagi pula, ujian spiritual gabungan ini masih panjang, jadi jangan terburu-buru." Kakek Meng menjelaskan seraya mengelus janggutnya. "Mari kita makan lebih dulu dan lanjutkan tugasnya nanti."


Semua orang akhirnya mendapatkan satu tusuk ikan besar gemuk. Xiu Jimei membumbuinya dengan takaran yang pas sehingga saat dipanggang, aromanya sangat menggugah selera.


Kakek Meng pernah mencicipi salah satu hidangan yang dibawa Bai Shiyu di masa lalu. Dikatakan bahwa orang yang memasaknya adalah Fu Chan Yin, ibunya si kembar. Rasa masakan Fu Chan Yin sangat enak dan kayak rasa. Aroma rempahnya juga beragam.


Sayangnya ia tidak pernah mencicipinya lagi meski rasanya selalu dirindukan.


Kali ini ia bisa mencicipi rasa masakan dari anak wanita itu. Dicium dari aromanya saja sudah tahu jika bumbu yang dimasukkan tidaklah sedikit.


"Dulu kami hanya memanggang ikan yang dilumuri garam dan wrasan jeruk nipis. Sekarang ada banyak cara dan bumbu hingga rasa ikan akan menjadi sangat enak." Kakek Meng sedang bernostalgia. "Nak, apakah kamu bisa memberiku benih semua rempah yang kamu miliki? Pria tua ini ingin menanamnya di halaman rumah," pintanya.


"Sepertinya sangat sulit untuk ditanam jika tidak bisa merawatnya." Xiu Jimei tidak pelit tapi hanya khawatir benih yang diberikannya hanya akan menjadi sia-sia di masa depan.

__ADS_1


"Bagaimana mungkin? Aku sudah lama menjadi seorang alkemis. Bukan hanya menemukan tanaman herbal dan memanennya, tapi juga membudidayakan semua. Tanaman rempah-rempah dapur tidak sulit untuk dirawat." Perkataan Kakek Meng agak sombong.


Xiu Jimei tidak banyak menjelaskan dan akhirnya memberikan semua benih atau bibit rempah-rempah yang dimiliknya. Kakek Meng sangat senang hingga menyerahkan semua iakn hasil tangkapan beruang itu padanya.


"Omong-omong, anak anjing putih ini sangat lucu. Apakah itu milikmu?" Kakek Meng melihat Yan Yujie.


Sudut mulut Yan Yujie berkedut sedikit. "Pak Tua, dia anak beruang putih, bukan anjing!"


Yan Yujie tidak percaya jika pria tua itu tak bisa membedakan antara anak beruang dan anak anjing. Bahkan anak beruang putih roh kuno pun mengeluarkan suara khasnya, menandakan protes.


Pria tua itu sengaja mengatakannya hanya karena aku sangat patuh bukan? Anak beruang putih roh kuno membatin di kepala kecilnya.


"Bagaimana mungkin? Bukankah dia anak anjing?"


Sebenarnya pria tua itu sedikit mengalami buta wajah. Dia kadang tak bisa mengingat antara anak bintang berbulu yang memiliki sedikit kemiripan.


Yan Yujie masih sabar untuk menjelaskan meski jiwa raja hantunya sudah ingin memaki. "Lihat, dia tidak memiliki ekor panjang, jelas ekor beruang, bukan anjing," katanya seraya menunjuk si ekor anak beruang.


"Kupikir dia anak anjing tidak berekor," gumam pria tua itu masih tidak percaya.


Mendengar hal itu, Yan Yujie sangat marah hingga dia benar-benar akan berteriak kali ini. Namun untungnya Jia Lishan menghentikannya tepat waktu. Dia berbisik jika pria tua itu mengalami sedikit buta wajah. Kemarahan Yan Yujie mereda banyak.


"Kenapa tidak bilang sejak awal?" gumam Yan Yujie.


"Dia mungkin lupa."


"..."


Sejak kapan pria tua itu mengalami buta wajah hingga tanpa sadar sering lupa?

__ADS_1


__ADS_2