
Setelah Xiu Jimei meninggalkan Istana Dewa Welas Asih bersama Ming Zise, Ye Jue menghela napas lega. Menjamu gadis itu tidak sulit. Hanya perlu ada makanan enak, semuanya berjalan lancar. Tapi di sisi lain, ia juga merasa agak sial.
"Dewa, bukankah bagus mendapatkan pujian dari putri Xiu? Dia bahkan masih mendo’akan Dewa untuk beruntung dan beruntung," ucap kepala pelayan kepercayaannya.
"Benarkah? Kenapa rasanya aku tidak merasakan keberuntungan tapi juga sedikit sial?"
Kepala pelayan tidak mengerti pada awalnya. Lalu tak lama kemudian, surat gulungan datang dari Istana Dewa Pencipta Alam Para Dewa. Isi surat itu mengatakan jika Dewa Welas Asih penyayang dan murah hati. Dewa Pencipta Alam Para Dewa membiarkannya pergi alam sekuler untuk memberikan berkah pada orang-orang terpilih.
Setelah membaca surat, Ye Jue terdiam. Tapi kepala pelayan sangat senang.
"Dewa, ini benar-benar keberuntungan. Mendapatkan tugas khusus dari Dewa Pencipta Alam Para Dewa sungguh mulia."
"..."
Sayangnya Ye Jue tidak berpikir demikian. Ia merasa jika ini bukan keberuntungan. Bukankah dia akan lebih sibuk lagi jika dikirim ke alam sekuler? Berpura-pura miskin di alam sekuler itu sungguh melelahkan. Dia tidak mau lagi dijual oleh manusia dan dijadikan vas bunga (pajangan/kecantikan yang hanya bisa ditonton tapi tidak memiliki bakat).
Benar saja, firasat nya tidak pernah salah. Ia seharusnya tidak membiarkan gadis itu memberikan do’a untuknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ming Zise kembali bersama Xiu Jimei ke Dunia Langit. Keduanya diam-diam mendapatkan kabar jika urusan Alam Neraka datang untuk membawa kembali Tongluo.
Saat ini, Tongluo sebenarnya berada di penjara Istana Kekaisaran Langit. Dijaga ketat dan tidak ada siapapun yang bisa mengunjunginya. Belum lagi masih ada orang-orang Ming Zise bercampur.
Anak buah Ming Zise sangat cakap dan mampu mendeteksi sesuatu yang tidak wajar. Tepat saat utusan Alam Neraka ingin mengambil kembali Tongluo, mereka langsung memberikan pukulan fatal. Dan akhirnya rencana utusan itu tidak berhasil.
“Kenapa mereka tiba-tiba ingin membawa Tongluo pergi? Bukankah sebelumnya Ning Siyu tidak peduli?”
Xiu Jimei mengerutkan kening. Dia sungguh tidak mengerti apa yang sebenarnya ingin dilakukan oleh Ning Siyu dan Lu Zheng. Sebelumnya mereka tidak memedulikan masalah ini. lagi pula Tongluo sudah ditangkap oleh mereka cukup lama.
Jika mereka membutuhkan Tongluo kembali, bukankah harusnya membawanya sejak lama?
__ADS_1
Ming Zise juga tidak tahu. Namun menurut tebakannya, Tongluo terlahir dari siluman rubah Alam Para Dewa dengan iblis rubah Alam Neraka. Darah di tubuhnya merupakan campuran dua alam. Tentu saja memiliki keistimewaannya sendiri. Belum lagi bisa tumbuh selama bertahun-tahun lamanya, sangat langka.
“Apa pun tujuannya pasti bukan untuk hal yang baik. Mereka juga mencari tahu tentang orang tua Tongluo,” jelas Ming Zise.
“Apakah mereka ingin mengancam Tongluo jika tidak berani kembali?”
“Ya. Untungnya orang tua Tongluo telah diamankan oleh Wuming dan Yamla sebelumnya sehingga mereka tidak akan menemukannya.”
“Di mana kamu menempatkan orang tua Tongluo?”
“Di wilayah istana Dewa Binatang.”
"Bisakah aku bertemu dengan mereka?"
"Tentu saja. Besok aku akan mengantarmu ke sana."
......................
Pada malam harinya, Xiu Jimei menghubungi Istana Kekaisaran Langit. Dia menyapa Kaisar Huang terlebih dahulu dan bertemu dengan Huang Fu Shi. Ming Zise juga mengikutinya. Walaupun sudah berpenampilan sederhana mungkin, auranya tidak bisa diabaikan.
Huang Fu Jung tidak banyak berubah kecuali telah menjadi pria dewasa yang matang. Dia dan Huang Fu Shi memiliki banyak kemiripan sehingga secara tidak sadar seperti Huang Fu Jung remaja.
"Paman Huang, aku datang untuk sesuatu."
"Mari bicarakan sambil makan." Huang Fu Jung ingin menggiring pasangan itu untuk makan malam bersama.
Xiu Jimei tidak menolak. Ming Zise hanya mengikutinya dengan patuh. Saat makan malam, Xiu Jimei mengutarakan maksud kedatangannya. Tentu saja Huang Fu Jung tidak akan menolak kunjungan mereka untuk Tongluo. Lagi pula dengan adanya Ming Zise, bagaimana mungkin bisa menolak.
Namun Huang Fu Jung masih mengkhawatirkan sesuatu. "Meski penjara bawah tanah sangat ketat dan keamanannya terjamin, aku tidak bisa menjamin Tongluo patuh untuk mengobrol dengan kalian," jelasnya.
"Tidak masalah. Jika menyangkut orangtuanya, dia pasti akan mengobrol dengan baik." Xiu Jimei sudah menyusun rencana dalam hatinya.
__ADS_1
"Ayah, aku akan menemani mereka," ujar Huang Fu Shi setelah menyelesaikan makan malamnya.
Huang Fu Jung tidak memedulikan putranya ini dan mengizinkannya pergi. Setelah makan malam, mereka pergi ke penjara bawah tanah yang dijaga ketat oleh belasan penjaga berkultivasi tinggi.
Ketika melihat Xiu Jimei, Ming Zise dan Huang Fu Shi, para penjaga yang melihat langsung membungkuk hormat. Kepala Penjaga penjara bawah tanah langsung menyambut mereka dengan nada sopan tapi tegas.
Kaisar sudah memberi tahu Kepala Penjaga jika ketiganya akan datang untuk melihat Tongluo.
"Apakah semuanya baik-baik saja?" Huang Fu Shi memerhatikan sekitar.
Kepala Penjaga mengangguk sopan. "Jangan khawatir, Pangeran. Semuanya telah diatur dengan baik. Dipastikan jika tahanan aman."
Huang Fu Shi mengangguk. "Pimpin jalan."
Kepala Penjaga segera mengantar ketiganya menuju ke sel di mana Tongluo berada. Anak laki-laki berkepala rubah merah itu ditempatkan di penjara yang cukup luas. Di mana rantai mengikat kedua kaki dan tangannya dengan erat. Bahkan rantai spiritual juga membelenggu lehernya.
Ketiak bergerak, rantai kan saling bergesekan. Tongluo sedang duduk bersila, sangat bosan hingga ia makan daging ayam panggang perlahan. Meski di penjara, ia masih bisa makan enak.
Telinga berbulunya mendengar suara langkah yang mendekat. Ketika melihat siapa yang datang, Tongluo berteriak takut-takut saat melihat Xiu Jimei.
Paha ayam panggang yang sedang dimakannya hampir terlepas dari tangannya.
"Kamu— kamu gadis yang melanggar hukum alam! Apa yang kamu lakukan di sini?" Semua bulu kepala rubah hampir berdiri semua.
Tongluo ingat jika gadis itulah yang membuat elemen apinya tidak berguna. Ia sudah sangat percaya diri sebagai wakil jenderal pasukan iblis Alam Neraka. Tapi siapa yang tahu di mata gadis itu, semuanya hanyalah lelucon.
Seberapa bagusnya Tongluo bertingkah layaknya anak kecil yang ingin tahu, tidak ada yang mempercayainya. Oleh karena itu, rencana untuk merayu orang gagal. Ia pun berhenti berpura-pura menjadi konyol.
Sekarang Xiu Jimei datang tanpa diundang. Angin apa yang membuatnya datang untuk mengunjunginya? Tongluo lebih suka dia tidak datang untuk melihatnya.
"Rubah kecil, kamu semakin menggemakan!" Xiu Jimei ingin mencubit telinga rubah Tongluo yang besar dan tampak lembut.
__ADS_1
Namun Tongluo yang mendengarnya hanya merinding di sekujur tubuhnya. Dia menyentuh kepala berbulunya dengan frustasi.
"Jangan menyanjung. Katakan saja apa yang kamu inginkan." Tongluo akhirnya mengambil inisatif untuk memulai percakapan serius.