
Xiu Jikai melihat adiknya baik-baik saja, batu di hatinya pun terangkat. Dia tidak bisa menemukan adiknya di sekitar gua tapi tidak berniat untuk mencarinya. Dia selalu yakin jika Xiu Jimei ada bersama Ming Zise.
Melihat kemampuan Ming Zise yang luar biasa, saudari kembarnya tidak akan mengalami kecelakaan.
"Apakah kamu baik-baik saja?" Dia masih bertanya untuk menunjukkan perhatiannya. Jangan sampai adiknya lebih bergantung pada pria berwajah putih kecil itu.
"Kakak, aku baik-baik saja. Dari mana saja kamu?"
"Cari kayu bakar untuk membuat api unggun. Apakah kamu lapar? Kakak akan memanggang ikan untukku."
"Tentu saja aku selalu lapar setelah beraktivitas. Aku juga akan merebus telur." Xiu Jimei mengeluarkan telur besar berwarna merah kejinggaan.
Ular roh kuno membelalak saat melihat telur itu. Entah kenapa merasa sangat takut. "Ka-kalau begitu, bisakah aku pergi? Aku tidak lagi berguna di sini," katanya agak tergagap.
"Ke mana kamu pergi? Bukankah kamu harus kembali ke Dunia Kecil Array Kuno?" Xiu Jimei menatapnya dengan heran.
"Bisakah?" Ular hijau roh kuno tentu saja senang. Tidak ada hal yang baik di alam sekuler ini. Dia ingin kembali ke Dunia Kecil Array Kuno.
Xiu Jimei melirik Ming Zise. Pria itu mengangguk kecil padanya.
"Bisa."
"Kalau begitu aku akan menunggu tuan menjemput ku!" Ular hijau roh kuno dengan patuh tinggal tak jauh dari mereka.
"Bagaimana cara membangunkan mereka?"
"Mereka hanya tidur. Kabut hijau sudah tidak ada di luar. Seharusnya mereka tak lama lagi akan bangun dengan sendirinya. Lagi pula itu hanya racun tidur ringan. Tidak berbahaya bagi tubuh," jelas ular itu.
Xiu Jikai membuat api unggun sementara Ming Zise sudah mengambil air dan membuat tungku untuk meletakkan panci. Telur yang dipegang Xiu Jimei diletakkan di dalam panci berisi air yang sedikit demi sedikit mulai mendidih.
Sedangkan Wang Xuyue, Yan Yujie, Kin Wenqian, Jia Lishan serta Xuan Xing sudah bangun dari tidurnya. Mereka merasakan sedikit pusing dan menguap. Melihat sekitar. Bahkan Cip Cip sendiri langsung mengeluarkan suara ayam roh kuno yang khas hingga membuat ular hijau roh kuno pergi ke sisi nya.
Sebagai sesama jenis roh kuno, keduanya akan lebih akrab.
"Di mana ini? Apakah Xiao Mei baik-baik saja?" Yan Yujie terkejut mendapati dirinya ada di dalam gua.
"Aku baik-baik saja." Xiu Jimei duduk di dekat api unggun sambil menunggu telur yang direbus nya matang.
"Apakah kita masih di hutan?"
"Ya."
__ADS_1
"Ah, sejak kapan ada ular hijau?" Kin Wenqian melihat ular hijau roh kuno yang kini sedang berbincang dengan Cip Cip.
"Lewat saja." Xiu Jimei tidak perlu menjelaskan terlalu banyak.
"Ternyata ular yang numpang berteduh juga. Aku baru sadar jika di luar hujan," kata Wang Xuyue.
"..." Ular hijau roh kuno pura-pura tidak mendengar apa-apa. Siapa yang numpang berteduh? Ini wilayahku! Batinnya.
"Sepertinya perjalanan kita tertunda lagi," keluh Jia Lishan.
Dia melihat pakaiannya sedikit kotor. Merasa tidak berdaya. Jika bukan Yan Yujie yang jatuh menimpanya saat itu, pakaiannya tidak akan terkena lumpur seperti ini.
"Apakah ada sungai terdekat di sekitar sini? Aku ingin membersihkan diri," imbuhnya.
Ular hijau roh kuno mengingat satu tempat. "Ada kolam air terjun tak jauh dari sini."
"Kamu bisa bicara?" Jia Lishan serta yang lain menatap ular hijau roh kuno.
"Tidak bisakah aku bicara?"
"..." Terserah, batin mereka.
Para gadis tidak mau pergi karena cuacanya agak dingin. Mereka memilih untuk menghangatkan diri di dekat api unggun, membantu Xiu Jikai mengurus ikan yang akan dibakar.
"Telur apa itu?"
"Telur burung," jawab Xiu Jimei.
"Kamu merebusnya? Tapi kurasa telur itu hidup?" Xuan Xing mengerutkan kening.
"Guru berkata jika telur itu memiliki kemampuan, dia akan menetas sendiri. Jika tidak, lupakan saja."
"..."
Kedua gadis itu melihat Ming Zise yang sama sekali tidak memiliki ekspresi apa-apa. Apa guru pendamping mereka begitu berdarah dingin? Merebus telur burung yang akan menetas?
Telur merah kejinggaan yang direbus di dalam panci sedikit bereaksi saat kepanasan. Air roh yang dijadikan untuk merebus itu pun memiliki energi spiritual yang cukup besar sehingga telur itu menyerapnya.
Selama air mendidih, telur yang direbus itu juga mulai menunjukkan tanda-tanda akan menetas. Xiu Jimei memperhatikan permukaannya yang mulai pecah. Mau tidak mau mengeluarkannya dari panci.
"Guru, telurnya menetas."
__ADS_1
"Yah, ada kemampuan," timpal Ming Zise.
"..." Apakah guru menyimpan rahasia dariku? Batinnya.
Telur merah itu menetas sedikit demi sedikit. Paruhnya mematuk cangkang telur bagian dalam hingga celahnya semakin besar. Tak lama, cangkang telur terbagi dua dan seekor burung jingga kekuningan duduk sambil berkicau kecil.
Burung itu sebesar dua kepalanya tangan orang dewasa, gemuk, sedikit bulat dan berbulu halus seperti anak ayam. Tapi ada jambul merah dan ekor kecil yang indah.
Sekilas, anak burung jingga kekuningan itu tampak menggemaskan. Tapi karena tinggal di air rebusan cukup lama, tubuh anak burung itu mengepul oleh uap.
Berkicau!
Anak burung itu melihat Xiu Jimei dan terbang dengan sayap kecilnya. Meski baru menetas, anak burung roh ini sudah mampu terbang tapi tidak bisa lama-lama.
"Lucunya!" Wang Xuyue tidak bisa menahan diri dengan sesuatu yang sangat menggemaskan. Dia ingin mengambilnya untuk dilihat-lihat tapi anak burung itu tidak mau.
"..." Wang Xuyue merasa dibenci.
Berkicau!
Anak burung jingga kemerahan itu bersarang di pelukan Xiu Jimei. Dia menatap Wang Xuyue tidak senang. Tentu saja dia lebih memilih Xiu Jimei yang lebih kuat. Tapi saat melihat Ming Zise menatapnya tidak suka, anak burung itu menggigil di pelukan Xiu Jimei hingga pantatnya menghadap Ming Zise.
"Guru, kamu menakutinya," kata Xiu Jimei.
Ming Zise memiliki firasat jika untuk hari ini hingga ke depannya, anak burung ini akan menjadi penghalang. Dia harus memikirkan cara agar burung ini tidak manja pada Xiu Jimei.
"Aku hanya menatapnya." Ming Zise terlihat teraniaya.
Xiu Jimei menjadi serba salah. Baiklah, anak burung ini masih takut dengan lingkungan baru. Belum lagi baru saja menetas, pasti tidak mengenal siapapun.
"Burung roh jenis apa ini? Kenapa seperti anak ayam?" Xuan Xing memperhatikan bulu burung tersebut. Benar-benar mirip anak ayam.
"Benar! Hanya saja warnanya jingga kemerahan. Jika itu warnanya kuning, aku pikir benar-benar anak ayam roh kuno seperti Cip Cip." Wang Xuyue mengangguk.
Anak burung roh itu akhirnya mengangkat kepala dan menunjuk Wang Xuyue dengan sayap kecilnya. "Siapa yang kamu bilang anak ayam? Aku ini seekor burung! Aku ini leluhur burung yang luar biasa. Jangan menghina leluhur burung!"
Wang Xuyue dan Xuan Xing terkejut. Anak burung roh ini bisa bicara, padahal baru saja menetas. Xiu Jikai juga menyipitkan mata. Anak burung roh ini tidak biasa. Apakah tidak apa-apa dibesarkan oleh adiknya?
"Kamu bisa bicara?" Xiu Jimei juga tidak menyangka akan menemukan seekor anak burung yang baru menetas dan bisa bicara dengan lancar.
Selama ini, bintang roh yang baru saja menetas tidak memiliki banyak kesadaran ilahi. Jangankan untuk bicara, mengenal orang tuanya saja belum jelas.
__ADS_1