
Luo Chan merupakan wanita yang cantik. Tapi dibandingkan dengan Xiu Jimei, kecantikan itu masih tergolong biasa. Ketika Luo Chan membuka tudungnya, berarti ia ingin salah satu dari keduanya jalanya.
Xiu Jimei menyipitkan mata. Luo Chan memiliki mata hijau, mungkinkah siluman? Apakah ada siluman di alam sekuler ini?!
Sayangnya Whitely yang ada di ruang spiritual bawaan menjelaskan jika penyihir memang memiliki keunikan mata. Jadi tidak mengherankan jika ada iris mata yang berbeda dengan manusia pada umumnya.
"Bagaimana, apakah aku cantik?" tanya Luo Chan. Tanpa sadar, sebenarnya ia sedang menghipnotis mereka semua.
Sayangnya Xiu Jimei menggelengkan kepala. "Yah, tidak buruk," jawabnya. Ia melirik Elder Chi serta kelompoknya. "Jangan tatap matanya, dia sedang menghipnotis."
Luo Chan tertawa mengejek. "Kamu masih tahu hal-hal ini rupanya. Tidak buruk!"
Ia langsung menggerakkan kedua tangannya untuk melantunkan sebuah bawaan mantra. Sasaran Luo Chan jelas adalah Xiu Jimei dari awal hingga akhir.
Luo Chan kehilangan kesabarannya. Ia menyesal karena Xiu Jimei tidak mudah ditipu. Pasti akan membutuhkan banyak usaha untuk mengecohnya. Tidak peduli apakah ada orang atau tidak di sekitar gadis itu, Luo Chan menyerang tanpa pandang bulu.
Sayangnya Luo Chan tidak berniat untuk melawan Xiu Jimei saat ini. Ia hanya datang untuk menguji kekuatannya. Xiu Jimei menggerutkan kening saat Luo Chan melompat ke salah satu dahan pohon.
"Sayangnya, kita akan berpisah di sini lebih dulu." Luo Chan langsung menghilang setelah berkata demikian.
Elder Chi serta yang lainnya bingung. Kemudian menggelengkan kepala. "Nona Xiu, dia bukan wanita yang mudah. Berhati-hatilah saat di perjalanan nanti."
"Terima kasih atas perhatiannya. Tapi aku baik-baik saja sekarang."
__ADS_1
Di mata Xiu Jimei, Luo Chan tidak perlu diributkan. Lagi pula, Xiu Jimei datang ke sini hanya untuk menyelamatkan Tuit Tuit sebelumnya. Sekarang situasinya menjadi cukup rumit, ia hanya bisa mengikuti Elder Chi saat ini.
"Ceritakan padaku tentang klan penyihir," katanya.
Elder Chi mengembuskan napas tidak berdaya. Sebenarnya ia tidak terlalu tahu tentang klan penyihir apalagi Luo Chan. Lagi pula, klan penyihir tidak pernah muncul ke permukaan. Walaupun Elder Chi sendiri tidak tahu banyak tentang Luo Chan.
"Lalu kenapa dia muncul dan pergi begitu saja?" Xiu Jimei sungguh tidak mengerti apa yang diinginkan Luo Chan saat ini.
Xiu Jikai mengerutkan kening. "Sepertinya dia hanya ingin mengetahui seberapa tinggi basis kultivasi mu," tebaknya.
Xiu Jimei mencibir. "Dia belum layak tahu seberapa kuat aku."
"Lupakan itu. Habiskan makananmu dan istirahat. Besok masih harus melanjutkan perjalanan," kata Xiu Jikai.
"Terima kasih untuk malam ini," katanya usangat tulus. Yang lain juga sama.
"Masalah kecil." Xiu Jikai tersenyum ringan. Ia tidak berniat untuk tidur malam ini dan hanya akan menjadi api untuk mereka. Siapa tahu saja, Luo Chan akan kembali lagi nanti dan membunuh mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara di sisi lain, Luo Chan yang telah berhasil pergi sejauh mungkin, mau tidak mau memuntahkan seteguk darah. Ia merasa jantungnya diremas sangat kuat. Setelah beradu energi spiritual dengan Xiu Jimei, ia akhirnya menyadari jika pihak lain lebih kuat.
"Siapa sebenarnya wanita itu? Jika dia ikut campur dalam urusan klan penyihir, pasti akan merepotkan."
__ADS_1
Luo Chan memuntahkan seteguk darah lagi dan kali ini wajahnya pucat. Selama ia hidup dari kecil hingga hari ini, tidak mudah bagi orang lain untuk mengalahkannya. Tapi hanya Xiu Jimei, hanya dengan dirinya saja sudah mampu membiayai mengalami cedera internal.
"Kalian berdua turunlah!" Luo Chan memberikan perintah setalah melihat ke arah lain.
Tak lama, dua pria berjubah hitam keluar dan berlutut di belakang Luo Chan. Keduanya menunggu perintah.
Luo Chan menenangkan dirinya. Meski dadanya masih terasa sakit, tapi tidak separah sebelumnya.
"Kalian berdua pergi dan awasi kelompok gadis itu. Besok, aku ingin kalian mengacaukan mereka, setidaknya jangan sampai mati. Jika tidak bisa melawan, lebih baik pergi dan selamatkan diri. Apakah kalian paham?"
"Ya, kami mengerti!" Keduanya langsung menghilang dari tempatnya.
Kini hanya tinggal Luo Chan sendirian. Ia sendiri segera meninggalkan hutan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya, kelompok Elder Chi melanjutkan perjalanan. Mereks masih berjalan kaki dan tidak ada satu pun bintang roh yang mau datang untuk mengganggu mereka.
Xiu Jimei dan Xiu Jikai tahu ada dua kultivator yang mengamati sejak malam tadi. Tidak perlu dicari tahu, pasti orang-orangnya Luo Chan. Dan niat kedua kultivator itu tidak baik tentunya.
Tiba-tiba saja Elder Chi berhenti. "Nona Xiu, mati kita istirahat dan melanjutkan perjalanan setelah makan siang."
Ia ingat jika Xiu Jimei seding makan makanan ringan di sepanjang. Elder Chi berpikir dia mungkin sudah lapar. Lagipula, mereka sudah berjalan selama setengah hari.
__ADS_1