Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Ular Roh Api yang Takut Dijadikan Sup


__ADS_3

Di sisi lain, Xiu Jikai sudah menyadari jika tempat ini tidak aman. Dia sudah menemukan ular lebih dulu namun belum melihatnya lagi sepanjang waktu.


Xiu Jimei dan Ming Zise menghampiri Yan Yujie yang kini wajahnya sedikit kemerahan.


"Tenanglah. Ular apa yang kamu maksud?" Xiu Jimei bertanya dengan suara datar.


"Di ... Di sana. Ada banyak ular di langit-langit cabang gua itu!" Yan Yujie menunjuk ke tempat di mana dia baru saja keluar.


Sebelum Xiu Jimei melihatnya lebih pasti, mereka sudah melihat ada ular merah kecil melata dari langit-langit cabang gua keluar. Bukan hanya satu atau sepuluh, tapi diperkirakan jumlahnya ada ratusan. Semuanya memenuhi langit-langit dan mulai turun permukaan gua.


Wang Xuyue dan Yan Yujie berpikir jika mereka sebelumnya berdiri di antara ratusan ular yang melata di atas mereka. Jika bukan karena kehadiran Cip Cip, mungkin mereka sudah dimakan ratusan anak ular.


"Ini ular roh api. Ular yang suka berada di dekat sumber panas. " Xiu Jimei sama sekali tidak terkejut. Dia mengambil salah satu ular roh api kecil dan mengamatinya dengan cermat. "Giginya saja belum tumbuh kuat. Ini tidak ganas sama sekali. Sedikit lucu," jelasnya seraya mengelus kepala ular roh api kecil.


"..." Ular roh api kecil yang memiliki kesadaran ilahi itu pun bingung saat melihat Xiu Jimei tidak takut padanya. Padahal ada banyak dari mereka.


Sayangnya, ular roh api dewasa yang berada jauh di lubang cabang gua sama sekali tidak memiliki niat untuk menyerang mereka. Sebagai bintang roh yang memiliki kesadaran, para ular roh api dewasa tahu kekuatan pihak lain.


Terutama saat melihat Xiu Jimei dan Ming Zise. Kedua kultivator itu seperti bukan manusia. Energi spiritual di tubuh mereka sangat besar.


Xiu Jimei tertawa saat menyentuh sisik ular roh api kecil yang tampak agak halus. Tubuhnya kenyal. Sayang sekali masih kecil.


"Jika sedikit lebih besar, aku ingin makan sup ular roh yang bergizi ini," celetuk gadis itu, tanpa sadar menakuti ular roh api kecil di tangannya.


Tubuh ular itu menggigil. Dalam bayangannya, Xiu Jimei memegang pisau dan menatapnya seperti mangsa yang siap untuk dikuliti. Hingga bayangan psikologis mengerikan itu menghantui pikiran, ular roh api kecil di tangan Xiu Jimei pingsan.


"..." Xiu Jimei melihatnya begitu lemas mau tidak mau menghela napas. Apa yang salah dengan ucapannya? Dia hanya bercanda.


"..." Semua ular roh api kecil yang melihat rekan mereka pingsan, mau tidak mau langsung berbalik arah dan kembali ke dalam cabang gua yang dalam.


Kelompok Xiu Jimei bingung dan menganga saat melihat fenomena itu. Apakah Xiu Jimei begitu menakutkan?


Cip Cip sendiri menggigil di samping Wang Xuyue. Berbeda dengan harimau putih roh kuno yang memutar bola matanya, mendengus dan akhirnya duduk santai tak jauh dari mereka.

__ADS_1


Di samping harimau putih roh kuno, Yan Yujie yang masih lemah pun bersandar pada hewan besar itu dan mengelus dadanya.


"Ini masih adik sepupuku yang sangat luar biasa. Binatang roh saja takut padanya." Yan Yujie mengagumi Xiu Jimei.


Harimau putih roh kuno ingin mencibir jika mulutnya mampu melakukan itu. "Kenapa kamu tidak mau mengakui jika dirimu saja yang lemah?" ejeknya.


"..." Harimau putih tanpa hati nurani, batin Yan Yujie.


Di sisi lain, Xiu Jimei meletakkan ular roh kecil yang pingsan di sisi cabang gua. Membiarkannya bangun secara alami. Dia sama sekali tidak berniat untuk membunuhnya.


"Kupikir kelompok ular roh api ini akan menyerang kita," kata Xiu Jimei. "Padahal jika mereka menyerang, aku sudah siap untuk membuat ular roh panggang. Kebetulan lava di sini sangat panas dan kita bisa memanggang di atasnya."


Gua tampak lebih sunyi dari sebelumnya setelah Xiu Jimei berkata seperti itu.


Ming Zise hanya tersenyum. Gadis ini selalu senang menjaili mereka yang ingin menjadi nakal di depannya. Padahal tanpa sadar, Xiu Jimei lebih nakal dari mereka. Di mana pun Xiu Jimei berada, semua bintang roh yang mengenali esensi delapan dewa-dewi takut padanya.


"Apakah kalian sudah selesai?"


Mereka mengangguk.


"Kalau begitu ayo kita keluar. Aku khawatir tempat ini tidak aman. Bagaimana jika induk ular roh api datang dan menyerang mereka setelah tahu anak-anak mereka ketakutan?"


Wang Xuyue memiliki banyak pikiran tak sehat saat ini. Membayangkan jika ular roh api raksasa akan muncul dari cabang gua dan menerkam mereka


Xiu Jimei mengerutkan bibirnya sesaat, tampak mengejek ular roh api yang kini bersembunyi. "Humph! Jangan khawatir, daging mereka lebih tebal dan empuk. Aku pasti akan membuatnya menjadi sup dan obat yang bagus untuk kultivator yang saling. Ular juga bergizi," jelasnya.


"Ya, adikku benar." Jarang sekali Xiu Jikai mendukungnya.


"..."


Ular roh api dewasa yang bersembunyi jauh di dalam cabang gua semakin menyusutkan diri. Tolonglah dewa, biarkan para manusia ini menghilang dari gua ini dan jangan kembali lagi, pikir mereka.


Di saat mereka hendak keluar gua, tempat di sekitarnya tiba-tiba saja bergetar. Beberapa debu dan tanah berjatuhan dari langit-langit gua hingga membuat Xiu Jimei dan kelompoknya berhenti sejenak untuk memastikan.

__ADS_1


Lama kelamaan, getaran semakin kuat. Ini gempa.


"Apakah ini gempa di gunung? Mau meletus?" Jia Lishan menebak.


"Meletus? Begitu cepat?" Xuan Xing juga bingung.


Terjadi ledakan di kolam lava yang mengejutkan mereka. Langit-langit kolam lava terkikis oleh ledakan lava yang kini menguap semakin banyak. Ledakan kembali terjadi hingga menyebabkan kelompok Xiu Jimei mundur sedikit.


Mereka menyaksikan fenomena lava yang meledak di dalam gunung tersebut. Tapi gempanya juga semakin besar. Bahkan bebatuan dari langit-langit gua mulai berjatuhan.


"Kita harus segera keluar dari sini. Batu-batu di sini mungkin bisa menutup jalan keluar," kata Kin Wenqian.


Harimau putih kuno dan Cip Cip sudah berlari lebih awal dan meninggalkan majikan mereka.


"Lari, selamatkan diri dari bencana alam ini! Gunung akan meletus!" Harimau putih roh kuno mengaum dan larinya sangat cepat.


"Ah, Zebra!" Xiu Jimei melihat hatimu putih roh kuno sudah tak terlihat di depan mata, sudut mulutnya berkedut. "Apakah ini sangat menakutkan?"


Ming Zise sendiri tidak mau main-main dengan bencana alam. "Ayo segera keluar. Ini tidak baik."


"Guru?" Xiu Jimei menatap Ming Zise yang berekspresi serius.


"Xiao Mei, patuh. Ayo segera keluar demi keselamatan teman-temanmu."


Xiu Jimei tahu itu. Dia akhirnya meminta mereka untuk segera keluar dari gua.


Akhirnya, gempa semakin parah dan lava yang meluap dari bawah gunung semakin merajalela. Tiba-tiba saja sebuah batu besar menutup lubang gua lava sehingga Xiu Jimei tidak bisa melihatnya lagi.


Mereka segera menyelamatkan diri.


Saat keluar dari gua, ledakan di puncak gunung sudah terjadi. Abu panas vulkanik gunung api itu membumbung ke langit disertai percikan lahar.


Wang Xuyue yang melihat itu akhirnya ketakutan. "Ya Tuhan, gunung ini benar-benar meledak! Lihat itu, lihat itu!" Dia menunjuk dengan tangan gemetar.

__ADS_1


__ADS_2