
Dulu, Fu Chan Yin sangat ingin tahu tentang tempat para dewa melalui Xiu Jichen. Tapi pada saat itu, Xiu Jichen tidak berkata lebih banyak. Mungkin karena kali ini takdir telah banyak berubah, Alam Para Dewa tidak terlalu tertutup lagi tentang tempat mereka.
Di saat empat orang dewasa sedang berdiskusi, Xiu Jimei sudah menghabiskan sepiring ayam goreng dan ayam panggang utuh. Tapi dia masih belum kenyang. Bahkan Ming Zise memberikan bagiannya untuk gadis itu.
Setelah makan siang, mereka juga minum teh bersama. Seberapa enggan nya Xiu Jimei dan Xiu Jikai untuk minum teh sebagai tradisi cuci mulut, di bawah pengawasan Fu Chan Yin, keduanya tidak pergi ke mana pun.
"Berapa lama kalian akan tinggal di istana?" Ming Zise bertanya setelah si kembar pergi untuk mencerna makanan.
Di gazebo, Xiu Jichen dan Fu Chan Yin menghilangkan ekspresi santainya. Keduanya jelas bisa tinggal lebih lama jika mau. Tapi Xiu Jichen tidak mau berurusan dengan masalah ini.
"Jika situasi nya serius, kami akan datang. Alam Para Dewa seharusnya sudah cukup mampu untuk mandiri," cibir Xiu Jichen.
Sebagai mantan dewa iblis, Xiu Jichen enggan untuk mengingat masa lalu, apa lagi tentang perang dia alam saat itu. Sekarang dia memiliki keluarga untuk diurus.
Sayangnya, Tuhan mungkin masih memiliki rahasia untuk semua umatnya. Putrinya yang paling dia sayangi justru tidak bisa dilihat nasib atau takdir masa depan nya. Xiu Jichen tidak berdaya.
Sepertinya arus kultivasi di masa depan akan mengalami banyak perubahan.
Ming Zise menyesap tehnya lagi. "Jangan khawatir, masalah Mei'er, aku akan menjaganya dengan baik."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pada malam harinya, Ming Zise tidak segera kembali. Dia pergi ke halaman tempat tinggal Xiu Jimei yang merupakan tempat paling indah di Istana Golden Lotus.
Seperti biasanya, setelah makan malam, Xiu Jimei akan fokus membaca buku tentang mantra atau kultivasi. Berbeda pada hari biasanya yang selalu ceroboh dan ceria, Xiu Jimei sebenarnya merupakan orang yang serius.
Ketika serius, dia mirip dengan Xiu Jikai.
Saat ini, Xiu Jikai juga ada di halamannya untuk menemani gadis itu belajar.
"Keringkan rambutmu dulu sebelum bersantai. Jangan sampai masuk angin," kata Xiu Jikai ketika melihat rambut kembarannya yang basah.
"Oh, Kakak keringkan untukku," pintanya tanpa mengalihkan pandangan dari buku.
__ADS_1
Xiu Jikai menghela napas. Dia menggunakan elemen angin untuk mengeringkan rambutnya dalam sekejap mata. Setelah dikeringkan, Xiu Jikai juga menyisir rambut halus adiknya dengan hati-hati, lalu memakai jepit rambut sederhana agar rambutnya tidak menghalangi wajah.
Apa yang dilakukan Xiu Jikai jatuh ke mata Ming Zise yang baru saja datang. Pria itu penuh cuka di perutnya. Namun demi dua saudara kembar yang tampak harmonis, dia tidak menegur sama sekali.
"Apakah kamu datang untuk menculik adikku?" cibir Xiu Jikai seraya melirik ke arah pintu kamar yang tidak ditutup sejak awal.
Para pelayan di halaman langsung pergi ke ruang samping setelah mendapatkan instruksi dari Xiu Jikai.
Xiu Jimei melihat kedatangan Ming Zise, sedikit terkejut. Dia pikir Ming Zise akan sibuk malam ini dan kembali ke Alam Para Dewa setelah makan malam.
"Ming Ming, kenapa kamu ke sini?" tanyanya juga bingung.
"Datanglah dan temui tunanganku. Apakah ada yang salah jika aku merindukan Mei'er?" Ming Zise sedikit tak tahu malu dan melemparkan senyuman menggoda.
Helaian rambut putih keperakannya jatuh ke pundak. Ditambah jubah brokat putih halus yang mahal, Ming Zise terlihat lebih bersih.
Xiu Jimei terbatuk ringan dan sedikit malu. Pria itu sungguh tak kenal tempat dan waktu. "Apakah orangtuaku tahu kamu di sini?"
"Tentu saja. Dia bahkan meminta saudaramu untuk pergi ke ruang belajar ayahmu. Sepertinya ada sesuatu yang harus dibahas," jawabnya.
"Pangeran, raja meminta Anda untuk datang ke ruang belajar," kata pelayan itu sopan.
Xiu Jikai menghela napas panjang dan meletakkan sisir di meja nakas. Dia memandang Xiu Jimei. "Kakak akan pergi dulu. Ingat, Jangan tidur terlalu larut."
"Aku tahu." Xiu Jimei sedikit tidak yakin saat Ming Zise ada di sini.
Xiu Jikai segera meninggalkan halaman Xiu Jimei bersama pelayan yang datang untuk memberi tahunya. Kini tinggal mereka berdua di kamar. Ming Zise menutup pintu kamar dengan hati-hati dan mendekati gadis itu.
"Apakah Mei'er tidak merindukan ku?" tanyanya.
"Kita bertemu hampir setiap hari," jawab Xiu Jimei.
"Oh, ternyata Mei'er tidak merindukan ku," katanya seraya duduk di samping gadis itu.
__ADS_1
Xiu Jimei baru saja mandi dan langsung membaca buku sihir. Aroma stroberi dan susu menguar dari tubuhnya. Ming Zise tidak tahan untuk mencium rambutnya yang halus dan terlihat lebih licin.
"Jangan membuat masalah," kata gadis itu.
"Apa yang Mei'er pikirkan?" Ming Zise menaikkan sebelah alisnya.
Gadis itu cemberut. "Jangan pikir aku tidak tahu apa yang kamu inginkan. Bukankah kamu datang untuk memuaskan keinginan mesummu?" tebaknya.
Tanpa diduga, Ming Zise tertawa ringan dan mengetuk dahi Xiu Jimei dengan punggung jari tengah.
"Kenapa kamu begitu pintar? Sudah cukup lama kita tidak bersama. Apakah Mei'er keberatan? Lagi pula, hubungan ranjang baik untuk keharmonisan."
"Cari alasan," gumam nya.
Ming Zise mengambil buku sihir dari tangan Xiu Jimei dan mencium bibirnya sebelum gadis itu protes. Di saat Xiu Jimei hampir kesulitan bernapas, Ming Zise mengakhiri ciuman.
"Jangan lupa untuk menarik napas," kata pria itu.
Saat dicium, pikiran Xiu Jimei sedikit kosong sehingga tidak ingat untuk mengambil napas dalam-dalam. Bersandar di pelukan pria itu, Xiu Jimei mulai mengambil topik pembicaraan lain.
"Ming Ming, apakah kali ini Alam Neraka akan marah karena portal spiritual mereka dihancurkan?" tanyanya.
"Tentu saja." Ming Zise masih tahu temperamen Ning Siyu dan Lu Zheng. Bagaimana mungkin mereka tidak marah?
Saat Ming Zise pergi ke perbatasan Alam Para Dewa dan Alam Neraka, wilayah tempat portal spiritual Alam Neraka hancur dan membunuh banyak prajurit Alam Neraka sebelumnya. Ning Siyu jelas marah dan mengambil alih wewenang untuk sementara waktu. Lu Zheng berada di pintu tertutup untuk berkultivasi sehingga Ning Siyu memegang kekuasaan sementara.
Tapi malam ini Ming Zise tidak berniat untuk membicarakan hal tersebut dengan Xiu Jimei. Dia datang untuk melepaskan rindunya yang telah lama dipendam.
"Mei'er, aku datang karena merindukanmu. Maukah kamu bersamaku malam ini?" bisiknya.
"Apakah kamu minum anggur terlalu banyak malam ini?" Xiu Jimei mencium aroma anggur dengan kadar yang kuat dari tubuh Ming Zise. Ayahnya sering meminum anggur kuat ini. Sekali minum, pasti akan membuat orang biasa mabuk berat.
"Minumlah sedikit. Ayahmu masih cemburu padaku."
__ADS_1
Anak gadis Xiu Jichen diculik Ming Zise yang usianya hampir sama. Bagaimana mungkin Xiu Jichen tidak marah? Untung saja Dewa Jodoh tidak menjadi sasaran balas dendam Xiu Jichen sebelumnya.