Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Awal Mula Bencana


__ADS_3

Xuan Xing juga terbangun dan melihat ke luar gua. Masih hujan dan kini tambah lebat. Bukan hanya itu, bahkan kabut juga mulai muncul. Kemunculan kabut ini membuat garis pandang mereka sedikit terganggu.


Wang Xuyue yang sudah mengantuk sejak lama, tidak terlalu memedulikan dan kembali tidur.


"Lupakan saja. Mungkin ini badai di luar sana. Besok adalah hari yang baru dan semuanya akan berakhir," gumamnya. Wang Xuyue menguap dan membenarkan posisi tidurnya sendiri.


Yang lain juga mencoba untuk kembali tidur. Xuan Xing sendiri tidak mau pusing memikirkannya. Wang Xuyue benar, besok akan baik-baik saja.


Mereka akhirnya kembali tidur. Tanpa disadari, kabut putih yang pergaulan muncul sebenarnya memiliki sedikit warna merah. Kemunculan kabut itu tidak hanya ada di sekitar tempat kelompok Xuan Xing berteduh. Tapi juga menyelimuti hampir semua daratan benua terkait.


Banyak binatang roh yang berburu di malam hari berlari ketakutan. Mereka menghindari kabut itu seperti melihat sesuatu yang mengerikan. Energi spiritual di udara jelas berubah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di sisi Xiu Jimei yang juga mengetahui hal ini, hanya bisa menyaksikan dari tempat lain bersama Xiu Jikai dan Ming Zise. Sepertinya bencana besar baru saja di mulai. Ini hanyalah permulaan.


Mereka menduga jika besok adalah hari tenang terakhir sebelum badai.


"Mungkinkah kita harus mengevakuasi penduduk di sekitar?" saran Xiu Jimei.


"Elder Chi serta orang-orangnya akan mengurus masalah ini. Tapi aku tidak tahu apakah waktunya cukup atau tidak. Lagi pula, siapa yang menduga kabut akan muncul malam ini bukan?" Xiu Jikai bersandar malas di batang pohon besar di sampingnya.


Khawatir ada sesuatu yang terkandung dalam kabut, Ming Zise sengaja membuat array pelindung di sekitarnya sehingga kabut tidak bisa menyentuh mereka.


Perlahan, kabut semakin tebal dan hujan lebat tidak memiliki tanda-tanda akan berhenti. Xiu Jimei memilih untuk makan keripik ubi ungu sambil menunggu apa yang akan terjadi.


Ming Zise hanya tersenyum dan menyentuh kepala gadis itu. Rambutnya sangat halus sehingga ia tidak ingin rambut Xiu Jimei basah oleh air hujan nanti.


Mereka belum menyadari, saat kabut mulai menebak, awan gelap di langit sedikit membentuk pusaran sedikit demi sedikit. Hal ini hanya disadari oleh Ming Zise saja. Ia sudah menugaskan Wuming dan Yamla untuk mengamati langit sebelumnya.


Di saat Xiu Jimei sedang makan keripik ubi ungu, Tuit Tuit berwujud seekor phoenix kecil tiba-tiba saja keluar ruang spiritual.

__ADS_1


"Tuan, sepertinya aku merasa jika teman-temanmu ada di alam sekuler juga," ungkapnya.


Gerakan tangan Xiu Jimei makan keripik ubi ungu sedikit terhenti. Ia terkejut dan bingung. "Maksudmu, Xuan Xing dan mereka ada di sini?"


Ia tidak memikirkan mereka akan datang ke alam sekuler. Lagi pula portal menuju alam sekuler tidak bisa dibuka begitu saja. Harus memerlukan izin dari istana kekaisaran. Jika mau, mereka setidaknya harus meminta Wang Zheming atau Xuan Bing —ayahnya Xun Xing. Lagi pula, dua orang ini memiliki kemampuan untuk memberi izin.


"Kamu yakin?" Xiu Jimei berharap mereka tidak datang. Dia tidak ingin mereka dalam bahaya besar.


"Ya, aku yakin. Tapi energinya lemah karena terhalangi kabut aneh ini. Mereka sedikit jauh dari sini," jelas Tuit Tuit lagi. Dia juga ingin makan keripik ubi ungu.


"Apakah mereka baik-baik saja?"


"Jangan khawatir, mereka baik-baik saja."


Xiu Jikai tidak bisa menahan diri untuk menyarankan. "Perlukah aku mencari mereka sekarang?"


"Tidak perlu. Aku yakin mereka sudah siap saat datang ke sini. Mari kita cari besok."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Orang pertama yang terkejut adalah Jia Lishan yang tidur di dekat bibir gua. Dia melihat jika kabut itu berwarna kemerahan. Energi spiritual di dalamnya juga aneh dan tidak bersahabat.


Cip Cip dan anak beruang putih roh kuno sedikit merinding hingga bulu-bulu keduanya agak menebal.


"Tuan, ada sesuatu di dalam kabut. Cip Cip tidak berani pergi. Bagaimana jika itu memakan Cip Cip?" Ayam besar itu sedikit menggigil. Ia tidak berpura-pura takut atau penakut. Tapi memang ada sesuatu di dalam kabut, menunggu mereka.


"Sesuatu di dalam kabut?" Wang Xuyue penasaran.


Di luar gua masih hujan lebat tapi kabut tidak memudar sama sekali. Sepertinya masih sama seperti semalam. Kin Wenqian sudah membuat api unggun. Untung menyediakan kayu bakar dan menyimpannya dalam cincin ruang penyimpanan spiritual sehingga tidak perlu repot-repot mencarinya lagi.


Kehangatan akhirnya menyebar di sekitar mereka saat api unggun menyala.

__ADS_1


"Apa yang ada di dalam kabut?" tanya Kin Wenqian.


Cip Cip menggelengkan kepala. "Apapun itu, jelas bukan sesuatu yang baik."


"Tidak mungkin kita hanya di sini sepanjang waktu bukan?" Yan Yujie ingin menemukan Xiu Jimei. Tapi dia sendiri tidak tahu di mana adik sepupunya berada.


Yang lainnya juga mengetahui jika tetap tinggal di sini pasti tidak akan mengharapkan apa-apa. Xiu Jimei sendiri mungkin tidak tahu mereka datang. Jadi merekalah yang harus pergi mencarinya.


Xuan Xing mengambil keputusan. "Kalau begitu aku akan memeriksa apa yang ada di luar terlebih dahulu, lalu memutuskan rute perjalanan selanjutnya."


"Tidak mungkin!" Mereka kompak menolaknya. Sangat berbahaya di luar, jadi mana mungkin membiarkan Xuan Xing pergi.


Xuan Xing tidak tahu harus berkata apa. "Lalu apa rencana yang bagus?"


"Kita pergi sama-sama saja. Jika ada makhluk buas yang ganas di luar sana, kita bisa menghadapinya bersama." Jia Lishan memikirkan ide ini.


Dari pada pergi sendiri untuk memeriksa, lebih baik bersama. Bisa saling melindungi satu sama lain dan juga menghemat banyak waktu. Xuan Xing mau tidak mau akhirnya setuju dengan rencana mereka dan berniat untuk pergi setelah sarapan.


Kali ini mereka tidak bersemangat untuk sarapan. Tapi demi mengisi perut, mereka akhirnya hanya bisa menyeduh mie instan yang dibawa Wang Xuyue. Gadis itu melepaskan kacamatanya yang terkena uap air panas dari mangkuk mie. Tanpa sadar, ia sepertinya melihat bayangan buram di luar gua.


Wang Xuyue menyipitkan matanya. Karena matanya memiliki masalah penglihatan jika tidak memakai kacamata, ia merasa seperti sedang berhalusinasi.


“Apakah itu hanya penglihatanku atau memang ada orang lain berdiri di luar?” tanyanya pada yang lain.


Yan Yujie melihat ke arah bibir gua. Yang lain juga melihat ada bayangan tiga orang mendekat ke arah gua. Xuan Xing serta yang lainnya langsung waspada. Mereka tidak bisa merasakan energi spiritual pada sosok di luar gua.


Wang Xuyue segera mengelap kacamata agar bersih kembali dan memakainya. Kali ini bayangan itu jelas di luar gua. Ternyata ini bukan ilusinya.


Tiba-tiba saja seekor burung jingga kemerahan berhasil melewati array pelindung yang dipasang di bibir gua. Burung itu terbang dengan cepat menembus array hingga membuat kewaspadaan Yan Yujie langsung muncul.


Yan Yujie langsung menyerang burung itu dengan telapak tangannya. Burung itu kehilangan keseimbangannya.

__ADS_1


“Ahh!! Dasar raja hantu bau (nakal)! Beraninya memukul leluhur burung!” teriak Tuit Tuit.


__ADS_2