Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Pergi Ke Lautan Hantu


__ADS_3

Di saat Xiu Jimei sedang makan bubur ayam, akhirnya semua gulungan tugas ujian semua murid memiliki cahaya samar. Ini tanda jika tugas baru telah diberikan.


Di saat mereka melihat isi tugasnya, perasaan aneh muncul di hati semua orang.


"Pergi ke lautan hantu? Apakah tidak salah? Adakah lautan hantu di sini?" Wang Xuyue ragu.


"Semua benda di sini pasti berlabel hantu!" Xiu Jimei mengerucutkan bibirnya.


Xiu Jikai tersenyum datar. "Kita disuruh untuk memancing ikan di sana dan mengumpulkan beberapa jiwa yang tersesat," jelasnya.


"Jiwa ... yang tersesat? Apakah ada? Kupikir itu hanya ada di Dunia Bawah," kata Jia Lishan.


Xiu Jikai tidak menjawab. Di Dunia Bawah bahkan lebih dari itu, batinnya.


Setelah sarapan, mereka membayar penginapan dengan menggunakan mata uang hantu yang diberikan oleh Ming Zise. Lalu segera pergi ke tempat tujuan.


Hanya saja, lautan hantu ini cukup jauh dari tempat mereka berada sekarang. Setidaknya membutuhkan waktu dua jam sebelum sampai ke tempat tujuan.


Untungnya saat tiba ditempat tujuan, tak ada hal aneh yang terjadi. Siapa yang menduga, beberapa kelompok juga sudah tiba.


"Sepertinya tugas semua orang sama," kata Xuan Xing.


"Ya. Ini memang tugas yang aneh. Tidak heran jika semuanya mendapatkan tugas yang sama." Xiu Jimei mengangguk.


Dia menyapa Lei Mo dan Huang Fu Shi. Ada juga kelompok Meng Meng. Mereka sudah menunggu lebih awal dari mereka.


Alasan tidak segera berlayar hanya satu, perahu belum tiba.


Murid ras hantu lebih unggul di sini sekarang karena mereka tahu lebih banyak.


Di sisi lain, Mei Rong menggigit sapu tangan saat melihat kelompok Xiu Jimei. Dia berniat untuk melakukan serangan diam-diam semalam ke tempat penginapan mereka tapi digagalkan oleh aura yang tidak biasa. Dia curiga ada seseorang yang diam-diam mengetahui niatnya.

__ADS_1


Fan Li menepuk pundaknya dan menghela napas. "Jangan memasang ekspresi seperti itu. Terlihat jelek," katanya.


"Aku jelek? Apakah kamu merasa dirimu sendiri tampan?" Mei Rong memelototinya.


"..." Kenapa wanita begitu sensitif? Batinnya.


Mi Sai juga tidak sabar. "Guru pendamping mereka tidak biasa. Ingat itu. Raja telah meminta kita untuk tidak menyinggungnya."


"Tapi siapa dia sebenarnya?" Mei Rong tidak berdamai.


"Mana aku tahu. Aku bukan dewa."


Mei Rong menjitak kepalanya tanpa perasaan.


"..." Mi Sai menduga jika Mei Rong sedang patah hati karena diputuskan cinta.


Mei Rong mendengkus. "Lihat saja saat di lautan nanti, aku akan membuat Yan Yujie tenggelam dan dimakan ikan. Atau biarkan disandera oleh penguasa lautan. Pasti hidupnya berakhir," gumamnya.


Tentu saja yang datang adalah perahu hantu. Terlihat agak suram tapi tidak menakutkan. Semua kelompok menaiki perahu masing-masing. Setiap perahu memiliki satu awak kapal yang bertugas menjalankannya.


Lautan hantu ini tak berbeda jauh dengan lautan pada umumnya. Hanya saja memiliki air berwarna hitam keunguan yang samar. Aura Yin menguar dari lautan tersebut hingga membuat para murid kultivator dari Dunia Langit merasa kedinginan.


Xiu Jimei menggunakan jubah hangat khusus sebelumnya sehingga tubuhnya tidak merasa kedinginan. Untuk mencegahnya lapar saat perjalanan, Ming Zise sudah membuat beberapa bekal sebelumnya.


Perahu yang mereka naiki juga dilengkapi dengan tempat berteduh. Khawatir hujan atau badan akan menerjang kapan saja, mereka bisa berlindung dengan baik.


"Lihat ikan-ikan itu, tampaknya sangat besar dan enak untuk dimakan," kata Xiu Jimei seraya melihat beberapa ikan hantu mirip lumba-lumba berenang di sekitar kapal mereka.


Ikan hantu yang dilihatnya memang lumba-lumba berwarna ungu dan mengeluarkan bunyi yang cukup nyaring di sekitar Xiu Jimei. Tampak nya tidak bermusuhan sama sekali.


Berbeda dengan perahu kelompok lain yang mulai dilanda masalah sejak memasuki pertengahan lautan. Ada sekelompok hiu kecil mengejar kelompok mereka. Tak terkecuali kelompok Huang Fu Shi.

__ADS_1


"Hiu-hiu ini, apakah kita akan menangkapnya?" Lei Mo tampak ingin segera menangkap ikan.


Huang Fu Shi mengerutkan kening. "Coba lemparkan daging," katanya.


Lei Mo melempar potoangan daging ayam pada hiu-hiu yang berenang di sekitar perahu.


Lalu awak perahu yang melihat hal itu sedikit khawatir. "Manusia, lebih baik tidak memberi makan ikan-ikan itu. Ini berbahaya," katanya.


"Apakah ada masalah dengan hiu-hiu itu?" Yang lain penasaran, sama-sama melempar potongan daging.


Awak perahu sedikit bingung menjelaskan. "Hiu-hiu di sini memiliki selera berbeda. Mereka suka makan daging tapi—"


Sebelum awak perahu berkata lebih jauh, gelombang air laut menerjang perahu yang dinaiki kelompok Huang Fu Shi. Mereka terkejut dan hampir kehilangan keseimbangan.


"Apa itu?!" Lei Mo memiliki firasat buruk.


Air laut perlahan-lahan naik dan munculah binatang roh hantu raksasa yang memiliki geretan gigi runcing serta mata merah.


Lei Mo memeluk Huang Fu Shi. "Monster laut!"


Awak perahu akhirnya menyeka keringat dingin dan memegang dayung ganda di sisi kiri dan kanan.


"Mereka suka makan daging tapi juga ... suka makan sosok yang memberi mereka daging!!"


Awak perahu perahu akhirnya memiliki kalimat utuh sekarang dan langsung mendayung dengan cepat untuk melarikan diri dari binatang roh hantu raksasa itu.


"...??!!" Kelompok Huang Fu Shi masih bingung.


"Lari!!! Cepat, bantu mendayung! Cepat!" Awak perahu akhirnya menyadari jika saat ini sedang dalam bahaya hidup dan mati.


"Apa itu?" Huang Fu Shi penasaran, segera membantu mendayung perahu dengan menggunakan energi spiritual.

__ADS_1


__ADS_2