
Rasanya tidak nyaman saat memikirkan kembali semua yang ada di mimpinya. Tentu saja Xiu Jimei tidak mau berpisah dengan Ming Zise. Dia sudah menyerahkan dirinya pada pria itu. Belum lagi keduanya juga ditakdirkan untuk bersama.
Mungkinkah peperangan Alam Para Dewa dan Alam Neraka akan berdampak besar bagi Dunia Langit?
Untuk menenangkan pikirannya, Xiu Jimei keluar tenda dan melihat Xiu Jikai duduk di dekat api unggun. Jia Lishan dan Yan Yujie tertidur tak jauh darinya, saling memunggungi.
“Tidak bisa tidur?” tanya Xiu Jikai.
Xiu Jimei mengangguk. “Kenapa kamu tidak tidur? Tidak ada binatang buas di sekitar ini selama aku ada.”
“Aku juga sama, tidak bisa tidur,” katanya. Xiu Jikai mengerutkan kening. “Aku bermimpi aneh akhir-akhir ini, kupikir itu hanya mimpi biasa, jadi kuabaikan. Tapi mungkin tak sesederhana itu,” jelasnya.
Jantung kosong Xiu Jimei berdetak kencang. “Kakak, mungkinkah kamu memimpikan hal yang sama denganku?”
“… Ya,” jawabnya rendah.
Meski Xiu Jikai tidak mau mengakuinya, dia masih harus memberi tahu adiknya hal tersebut. Dia memang memimpin sesuatu yang sama seperti Xiu Jimei. Awalnya berpikir jika semua mimpi itu hanyalah gambaran karena terlalu lelah atau banyak pikiran.
Namun mungkin tidak sesederhana seperti bayangannya. Dalam mimpi itu tidak banyak detail tapi gambarannya jelas. Tidak mungkin hanya bunga tidur semata.
Xiu Jikai sangat ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mungkinkah masa depan terlihat?
Si kembar duduk di depan api unggun dengan pikirannya sendiri. Mereka terdiam untuk waktu yang cukup lama hingga suara gemuruh di langit memecahkan kesunyian sekitar.
Ini mendekati musim gugur, sepertinya hujan akan turun lebih sering.
"Tidurlah. Semuanya akan baik-baik saja di masa depan," kata Xiu Jikai.
Xiu Jimei tidak berkata apa-apa lagi dan kembali masuk tenda. Karena saudara kembarnya juga memiliki mimpi yang sama, maka mungkin akan terjadi di masa depan. Hanya saja ia tidak tahu waktu kejadiannya. Xiu Jimei hanya perlu mencerna semuanya untuk memikirkan solusi jangka panjang.
Ketika berbaring, Xiu Jimei masih tidak bisa tidur. Ia khawatir saat tidur, mimpi itu akan kembali menghantuinya. Tuit Tuit muncul dalam wujud anak kecil.
"Tuan, apakah kamu tidak mengantuk?" tanyanya polos. Suara polosnya sangat menggemaskan.
"Bagaimana cara menyingkir mimpi itu?" Xiu Jimei bertanya.
__ADS_1
"Dari pada menyingkirkannya, bukankah lebih tepat untuk mengatasinya?"
"Mengatasinya?" Gadis itu menaikkan sebelah alisnya.
Tuit Tuit menunjukkan ekspresi tidak suka. "Tuan, kamu sudah dewasa, ini umur seratus tahun. Bukan anak-anak lagi. Mungkin menyenangkan berpura-pura menjadi b*bi dan memakan harimau, bukankah masa depan ada di tanganmu sendiri. Karena takdirmu tidak bisa terbaca oleh buku Dewa Takdir, maka buatlah sendiri," jelasnya agak kasar. Jika tidak demikian, Xiu Jimei akan terlalu malas melakukan sesuatu.
Xiu Jimei terdiam untuk waktu yang cukup lama. Bagaimana dia mengatasi mimpi itu? Membuat takdirnya sendiri? Apakah ini mungkin?
Apa yang ada di mimpi nya mungkin tak bisa diubah. Tapi bukan berarti tidak bisa diatasi. Tuit Tuit sepertinya benar. Dari pada memikirkan tentang mimpi itu tanpa alasan yang jelas, lebih baik memikirkan rencana untuk menghadapinya di masa depan.
Masalahnya, apa yang akan terjadi di masa depan bisa saja lebih buruk daripada perkiraannya.
"Kalau begitu, aku akan memikirkannya nanti." Xiu Jimei terlalu malas untuk memikirkan solusi nya saat ini. Dia memilih untuk tidur.
Namun Xiu Jikai tidak bisa tidur sama sekali. Dia hanya merenung untuk waktu yang lama sambil menambahkan kayu bakar ke api unggun. Memikirkan mimpi yang sama dengan adiknya kemungkinan besar masa depan akan banyak berubah.
Dia harus ... segera membuat rencana.
Keesokan paginya.
Untungnya mereka memasang array di sekitar tenda sehingga air hujan tidak membasahi api unggun atau tenda mereka.
"Musim gugur akan tiba. Cuaca pasti lebih dingin di masa depan." Wang Xuyue sedikit mengeluh. Dia sedikit tidak suka dengan cuaca dingin.
Berbeda dengan Xuan Xing. Karena tubuhnya yang selalu dingin seperti balok es, cuaca dingin seperti hawa biasa baginya. Melihat ke langit, Xuan Xing menduga jika dirinya akan hibernasi dalam waktu dekat.
Meski dia adalah putri es, saat musim dingin, ia akan tidur nyenyak dalam jangka waktu yang cukup lama. Hal ini diturunkan dari keluarga ibunya. Ia harus hibernasi seperti beruang ....
Tapi ujian kali ini ....
Lupakan saja. Ayahnya pasti akan datang ke sekte untuk meminta izin cuti hibernasinya.
"Hari ini kita akan mencari tanaman herbal. Jika hujan tidak reda, kita harus menundanya bukan?" Jia Lishan mengerutkan kening.
"Seharusnya hujan akan berhenti saat matahari terbit nanti. Semoga saja." Kin Wenqian berdo’a seraya menatap langit.
__ADS_1
Xiu Jimei keluar tenda dengan wajah mengantuk. Karena suara hujan seperti nyanyian tidur, dia kembali masuk tenda dan melanjutkan tidur. Ini masih terlalu awal untuk bangun. Xiu Jimei ingin menjadi malas hari ini.
"Di mana Yan Yujie?" tanya Kin Wenqian saat merasa ada atau orang yang hilang.
Xiu Jikai menjawab tanpa meliriknya. "Dia berkata akan pergi ke sungai untuk memandikan anak beruang."
...----------------...
Di ruang spiritual bawaan Xiu Jimei.
Whitely sedang minum teh di dekat kolam ikan pelangi. Cuaca di ruang spiritual selalu cerah, rumput hijau segar, bunga memancarkan aroma harum serta pohon banyak berubah. Ikan-ikan di kolam semuanya gemuk.
Kecuali ... Whitely sedikit menyipitkan mata saat melihat Tuit Tuit dalam wujud seorang anak perempuan berusia lima tahun—menggali tanah dan mengubur banyak kacang tanah mentah.
"Apa yang kamu lakukan?" tanyanya tidak bisa menebak tindakan jelmaan burung phoenix itu.
"Tentu saja mengubur cadangan makanan," jawab Tuit Tuit polos.
"Bisakah kamu makan kacang tanah?"
Tuit Tuit menatap Whitely yang sok tampan di matanya, lalu mencibir. Dia adalah mantan dewa binatang sebelumnya dan memimpin semua binatang di dunia. Sebenarnya naga putih suci ilahi kuno itu masih bertanya basa-basi dengannya.
Jika bukan karena kekuatan masa jayanya sudah hilang, dia sudah memanggang naga putih itu menjadi hitam.
"Kenapa aku tak bisa makan kacang? Bukankah ini hanya kacang tanah. Tinggal rebus saja, kupas dan makan. Kenapa sulit?"
"..." Whitely tidak membutuhkan jawaban seperti itu. Dia hanya ingin tahu apakah burung phoenix juga makan kacang?
Bluewy datang bersama Reddish dan Blacky. Ketiganya duduk di kursi yang telah disediakan. Mereka sama sekali tidak tahu apa yang baru saja Tuit Tuit dan Whitely perdebatkan.
"Apakah kamu sudah memikirkan apa yang akan terjadi dengan masa depan anak majikan?" tanya Blacky langsung ke inti. Dia bertanya pada Tuit Tuit.
"Bagaimana aku tahu? Aku bukan dewa!" Tuit Tuit telanjur kesal dengan Whitely sebelumnya dan terus menggali tanah untuk mengubur gundukan kacang tanah lainnya.
Masalahnya, Tuit Tuit mengubur semua kacang tak jauh dari kolam mata air spiritual. Apakah tidak takut jika kacang tanah itu tumbuh bertunas?
__ADS_1
Masalah tentang mimpi Xiu Jimei, Whitely juga memikirkannya.