Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Bocah Api Alam Neraka (1)


__ADS_3

Apa yang dikatakan Huang Fu Shi tentu saja juga diperkirakan oleh Xiu Jikai sebelumnya. Tapi dia tidak mengatakannya secara langsung. Menurut logikanya, jika air surut karena alam, pasti ada jejak yang pasti. Tapi jika tidak ada dan sungai mengering secara misterius, pasti ada pihak yang bermain.


“Jika memang seseorang melakukan hal tersebut, maka kita harus tahu tujuannya bukan?” Lei Mo juga penasaran.


Mereka semua terdiam lagi saat ini. Siapa yang berani melawan Negeri Alam Baka? Mungkinkah pembunuh bayaran? Tapi sejak kapan organisasi pembunuh bayaran begitu merajalela? Sepertinya bukan pembunuh bayaran yang melakukannya.


Di saat mereka sedang mengobrol tentang masalah tersebut, tiba-tiba saja terdengar teriakan panik dari arah lain. Fokus mereka akhirnya teralihkan. Xiu Jimei, Xiu Jikai, Lei Mo dan Huang Fu Shi menoleh ke arah suara teriakan panik berasal, rasanya familiar.


Di kejauhan, Fu Yiyuan dan Fu Yanchi berdiri di atas seekor burung elang roh raksasa. Bukan hanya keduanya, tapi ada beberapa orang lagi yang memiliki elemen air dan es. Tak terkecuali Xuan Xing.


Xuan Xing menunggangi elang roh raksasa seorang diri, terbang di atas hutan yang terbakar entah sejak kapan. Api besar mulai terlihat dan asap ada di mana-mana.


"Kebakaran ini terlalu besar, elemen es ku tidak akan mampu memadamkannya. Ditambah lagi aku curiga jika api ini bukan api biasa," jelas Xuan Xing pada Fu Yiyuan serta yang lainnya.


Fu Yiyuan sedikit pucat. "Lakukan sebisanya dulu. Ayahmu dan beberapa kultivator elemen air dan es akan datang tak lama lagi," timpalnya.


Tiba-tiba saja Fu Yanchi berteriak secara melihat ke arah lain. "Kakak, titik api lain ada di sana! Jika menyebar lebih luas, semua hutan Negeri Alam Baka akan hilang!"


Mereka juga melihatnya. Ekspresinya sama pucatnya seperti wajah Fu Yiyuan.


"Yiyuan, ini tidak akan berhasil, kami kekurangan orang." Salah satu dari rekannya hampir saja kelelahan karena mengeluarkan elemen air lagi dan lagi hingga energi spiritual nya hampir terkuras.


Sebagian dari mereka berpencar untuk memadamkan titik api yang muncul. Sesuai dengan perkataan Xuan Xing, ada pihak lain yang memicu api di hutan. Sepertinya kultivator pengguna elemen api.


Dia serta yang lain belum tahu keberadaan Xiu Jimei dan teman-temannya saat ini.


Xiu Jimei mulai merasakan hawa panas dari energi spiritual elemen api di udara. Matanya menyipit. Mungkin sungai yang mengering ini masih merupakan pelaku yang sama. Gara-gara sungai yang mengering ini, dia tak bisa memancing ikan.

__ADS_1


Beberapa penduduk juga mulai mengeluh tentang ketersediaan air yang semakin berkurang. Sebagai dari warga memiliki sumur sendiri tapi anehnya air berkurang secara bertahap.


"Pergi dan cari tahu siapa yang melakukannya. Pasti tidak akan jauh dari sini," ujar Xiu Jikai.


Mereka akhirnya berpencar. Xiu Jikai bersama Lei Mo ke arah yang berlawanan dengan Xiu Jimei. Mereka berharap bisa menemukan pelakunya lebih cepat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di kediaman keluarga Fu.


Ming Zise bersama Fu Hang di ruang tamu, menyesap teh dan membicarakan apa yang menimpa Negeri Alam Baka. Sungai yang mengering belum teratasi, sekarang kebakaran hutan juga terjadi. Semua keluarga bangsawan yang bertugas mengelola negeri mulai sakit kepala.


"Aku tidak tahu, apakah ini ada hubungannya dengan musuh lama negeri ini atau menang keisengan kultivator lain. Tapi jika kaisar menemukan pelakunya, pasti tidak akan lolos dari jaring." Fu Hang sebenarnya baru saja kembali dari istana kekaisaran dan bertemu Ming Zise di jalan. Ketika pria itu ada di sini, Xiu Jimei pasti juga sama.


"Aku telah menanyakan ini pada orang-orang di atas. Alam Neraka harusnya yang membuat kekacauan."


"Alam Neraka? Kami sepertinya tidak memiliki urusan atau permusuhan dengan alam yang lebih tinggi. Kenapa Alam Neraka mengincar Negeri Alam Baka?" Fu Hang tidak tahu banyak tapi dia tahu Alma Neraka dan Alam Para Dewa.


Kedudukan Alam Neraka hampir setara dengan Alam Para Dewa. Jika tidak, maka perang ribuan tahun lalu tidak akan berdampak besar bagi dua alam tersebut.


Ming Zise tidak bisa ikut campur saat ini jika situasinya tidak mendesak. Jika kultivator Dunia Langit bisa mengatasinya, maka ia bisa bersantai.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di hutan, Xiu Jimei serta Huang Fu Shi telah menghampiri sumber api yang menyebabkan titik kebakaran baru. Keduanya seperti melihat seorang anak laki-laki berlari ke dalam hutan yang terbakar. Walaupun lari anak laki-laki itu cepat, keduanya yakin tidak salah lihat.


"Mungkinkah itu pelakunya?" Huang Fu Shi tidak pernah meremehkan siapapun, bahkan seorang anak sekalipun. Penampilan bisa menipu.

__ADS_1


Siapa yang tahu bukan jika sosok anak kecil itu sebenarnya pria tua ratusan tahun yang menyamar?


Xiu Jimei tidak bisa menyimpulkan. "Kita akan tahu jika mengejarnya."


Namun sebelum keduanya mengambil langkah untuk menyusul sosok anak laki-laki tadi, angin panas berembus cukup kencang hingga api yang berkobar juga langsung menuju ke arah mereka.


Pepohonan yang sudah mulai mengering mudah terbakar. Ditambah, api yang membakar masih sejenis api roh.


"Apakah kita ketahuan?" Huang Fu Jung menebak.


"Sepertinya begitu."


Lalu suara tawa seorang anak mulai terdengar oleh keduanya. Tawa anak kecil itu seperti ada di sekitar mereka tapi tidak bisa mengetahui letak pastinya.


Keduanya melihat sekitar dengan hati-hati. Lalu sekelebat sosok terlihat melompat dari pohon ke pohon. Tubuh sosok itu penuh dengan api, berbeda dengan anak kecil sebelumnya. Namun Xiu Jimei dapat memastikan jika sekelebat itu masih sosok yang sama.


Xiu Jimei segera mengeluarkan gulungan yang cukup usang dan membentangkannya. Dia menggigit jarinya hingga berdarah dan dioleskan ke permukaan gulungan penuh tulisan kuno.


"Pedang naga es, muncul!"


Telah Xiu Jimei berkata demikian, permukaan gulungan kuno langsung bercahaya. Hawa panas yang ada di sekitar seketika mendingin sedikit demi sedikit. Embun es terbentuk di atas gulungan kuno, membentuk sebuah pedang biru es berpola naga.


Setiap pola berbentuk naga bercahaya putih pucat. Setelah pedang naga es terbentuk, gulungan kuno kembali disimpan. Xiu Jimei memegang gagang pedang naga es dan tubuhnya mulai diselimuti oleh hawa dingin seperti layaknya musim dingin.


Huang Fu Shi secara langsung melihat proses pemanggilan pedang naga es tersebut, hatinya terkejut. Energi spiritual yang terpancar dari pedang tersebut sangat besar. Lebih penting lagi, dinginnya hampir sama seperti pegunungan es di Dunia Kecil Array Kuno.


Ketika Xiu Jimei memegang pedang tersebut, permukaan tanah berumput kering di sekitar kakinya juga mengembunkan serpihan es. Gadis itu langsung membuat gerakan pedang sederhana hingga embusan angin dingin bersalju melawan tiupan angin panas bercampur api yang berkobar.

__ADS_1


Karena hal itu, sosok anak kecil yang bersembunyi di balik api mau tidak mau membelalakkan mata. Elemen es seperti apa yang membuatnya hampir membeku itu?


"Menarik," gumamnya langsung menyeringai.


__ADS_2