
Ming Zise memang bertemu Xiu Jikai di pintu kamar tidur Xiu Jimei. Keduanya sempat bertarung sebentar tapi berakhir dengan Xiu Jikai yang memanggilnya saudara di masa depan.
Karena takdir bintang phoenix tidak bisa dilanggar, Xiu Jikai hanya ingin adiknya baik-baik saja tanpa ada nya pemaksaan.
Setelah Ming Zise keluar, Xiu Jimei kembali tidur selama satu jam lagi hingga akhirnya matahari terbit.
Ming Zise selesai memasak tepat saat Xiu Jimei sudah berpakaian rapi. Dia bergabung dengan yang lain untuk sarapan bersama.
Tak ada yang curiga dengan apa yang terjadi dengan Xiu Jimei dan Ming Zise malam tadi. Mereka mengira Xiu Jimei masih mengantuk.
"Apa yang akan kita lakukan selama seminggu ini? Tidak mungkin kita bersantai-santai saja bukan?" Jia Lishan merasa bosan.
"Pergilah berlatih," jawab Xuan Xing.
Yan Yujie menolak. "Aku tidak mau berlatih. Ayo kita pergi ke hutan belakang. Xiao Mei, bukankah ada dua ular di pegunungan sakral Istana Blackhell?"
"Memang. Tapi mereka tidak suka diganggu. Bagaimana jika kita memeras madu hutan?" usulnya.
"Madu hutan?" Yang lainnya saling melirik. "Apakah ada sarang lebah madu di dekat sini?"
"Ada. Aku dan saudara kembarku dulu sering memeras madu saat memasuki musim panas." Xiu Jimei sudah lama tidak pergi.
Xiu Jikai mengerutkan kening. Apakah maksud adiknya adalah madu hutan yang dihasilkan oleh lebah madu roh sombong itu?
Melihat rekan-rekannya yang lain, Xiu Jikai merasa ragu untuk mengajak mereka. Bisakah mereka mengatasi lebah madu seperti seperti adiknya?
Lupakan saja untuk saat ini.
......................
Setelah sarapan, mereka segera pergi ke hutan tak jauh dari Istana Golden Lotus. Tempat yang dituju Xiu Jimei agak terpencil, banyak pepohonan dan rumput ilalang yang masih terjaga.
Tak lama, mereka tiba di sebuah tempat di mana pepohonan berusia ribuan tahun berada. Pepohonan menjulang tinggi hingga mereka harus menengadah untuk melihat daunnya yang rindang.
"Di mana sarang madunya?" Yan Yujie tidak melihat adanya sarang lebah madu di sekitar.
Yang lain juga menggelengkan kepala.
Hingga akhirnya Xiu Jimei menunjuk ke atas pohon. "Tentu saja di sana. Lihat itu, bukankah besar?"
Yan Yujie serta yang lain langsung melihat ke arah yang ditunjuk Xiu Jimei. Barulah setelah itu terkejut.
"Apakah kamu bercanda denganku?!" Wang Xuyue berteriak.
__ADS_1
"Tinggi sekali."
"Xiao Mei, apakah kamu yakin suka memanjat pohon ini hanya untuk mengambil madu?" Kin Wenqian juga tidak yakin.
"Tentu saja. Kamu hanya tinggal panjat dan ambil madunya sesuka hati. Para lebah madu roh tidak akan melarang ku."
Tentu saja tidak akan melarangnya. Xiu Jimei memiliki esensi delapan dewa-dewi di tubuh hingga lebah madu roh takut padanya. Mereka khawatir Xiu Jimei memeras semua madu dan menebang pohon kesayangan mereka.
Jadi lebih baik untuk memberinya sejumlah madu sehingga tidak ada perselisihan di masa depan.
Tinggi pohon tempat sarang lebah madu berada setidaknya lebih dari dua puluh meter. Sarang lebahnya memang sangat besar dan luas. Mereka bisa mencium aroma madu roh yang sangat menggoda.
Xiu Jimei sudah memanjat dengan menggunakan energi spiritual. Dia bersiap untuk memanen madu yang manis.
Sementara yang lain tidak yakin.
"Haruskah kita memanjat juga?" tanya Xuan Xing.
"Maukah kamu mencoba?"
"Mari kita coba saja. Semoga lebah roh itu tidak menyerang kita." Wang Xuyue sudah memutuskan. "Xiao Kai, bagaimana denganmu?"
"Aku berjaga-jaga saja di sini seandainya kalian jatuh."
Jatuh?
Saat dekat dengan lebah madu roh, mereka sedikit ragu-ragu. Lebah madu roh memiliki tubuh yang besar, ekor runcing yang memiliki racun serta bisa menggigit jika merasa terancam.
Jika hanya ada satu lebah saja yang menyerang, tidak masalah untuk diatasi. Tapi lebah selalu bergerombol saat menyerang musuh. Karena itu, hal yang selalu dihindari oleh para kultivator saat pergi ke hutan adalah keberadaan lebah roh.
Xiu Jimei mengeluarkan toples kaca dari ruang penyimpanan spiritual bawaan. Dia mulai memeras madu roh dari sarangnya tanpa rasa bersalah atau takut-takut sedikit pun.
"Kalian menghasilkan madu begitu banyak. Sudah lama tidak datang ke sini, apakah kalian merindukanku?" tanyanya datar. Walaupun dia tahu lebah roh tak bisa bicara.
"..." Rindu ekorku! Para lebah roh tidak rindu sama sekali. Malah ingin mengusirnya jika bisa.
Tuit Tuit juga keluar dari ruang spiritual bawaan. Mencium madu yang harum, dia juga ingin makan sedikit.
"Wah, madu! Sudah lama sekali aku tidak makan madu." Tuit Tuit menyesap madu dengan paruhnya.
Burung kecil berbulu jingga kemerahan itu mengepakkan sayap di sekitar sarang madu tanpa memedulikan lebah roh yang ada di sekitarnya.
"..." Lebah roh bahkan memiliki rasa ketakutan yang dalam pada burung yang satu ini. Pasti sangat kuat.
__ADS_1
Bintang peliharaan dengan tuannya sama-sama abnormal.
Xiu Jimei juga mencicipinya sedikit. "Kapan terakhir kali kamu makan madu?" tanyanya.
"Mungkin seribu tahun lalu? Aku lupa. Pada saat itu, aku tak sengaja membakar sarang lebahnya hingga gosong. Madu itu terbuang sia-sia," jelas Tuit Tuit seperti mengeluarkan bunyi helaan napas.
"..."
Para lebah roh yang melihatnya hanya bisa menangis tanpa mengeluarkan air mata. Apakah ini ancaman? Pikir mereka.
"Ternyata kamu benar-benar sudah tua," kata Xiu Jimei.
"Tentu saja." Tuit Tuit tidak tersinggung.
"..." Para lebah roh menyerah dan akhirnya hinggap di sarang lainnya yang tidak memiliki madu.
Dulu saat pertama kali Xiu Jimei datang mengambil madu, para lebah madu roh menyerangnya. Tapi gadis itu mampu menampar tubuh sekawanan mereka hanya dengan sekali kibasan tangan.
Bukan hanya itu, Xiu Jimei juga menangkap salah satu dari mereka dan mencabuti sayapnya tanpa berperasaan.
Perasaan itu sangat menyakitkan. Jadi mereka tidak berani memprovokasi lagi.
Lagi pula di dunia ini, yang kuat dihormati.
Yang lemah harus menunduk.
Yang berkuasa mengambil segalanya.
Dan yang miskin meratapi nasib.
Para lebah roh ini lemah di mata Xiu Jimei, belum lagi juga miskin. Selama ratusan tahun hidup di pohon-pohon besar yang terdapat di pegunungan sakral. Mereka tidak berani pindah karena khawatir memasuki wilayah binatang roh lainnya.
Xiu Jimei mengambil beberapa toples madu roh. Tidak perlu khawatir habis. Ada banyak madu roh yang belum diperas. Tapi Xiu Jimei tidak terlalu rakus untuk pertama kalinya.
Tuit Tuit juga kenyang.
"Ahh! Lebah sialan! Beraninya kamu menusuk pantatku!" Yan Yujie berteriak di atas pohon seraya memegang setoples madu yang baru saja diperasnya.
Tapi dia kehilangan keseimbangan dan terjun bebas dari ketinggian pohon. Yan Yujie masih sempat untuk memasukkan topels madu ke cincin ruang penyimpanan. Tapi dirinya masih dikejar sekawanan lebah.
Bahkan Wang Xuyue serta yang lainnya mengalami hal serupa.
"Lebah ini ingin membunuhku!"
__ADS_1
Wang Xuyue memeluk pohon dan menggunakan energi spiritual untuk bertahan. Terlihat pakaiannya digigit oleh beberapa lebah roh. Jelas sekali lebah roh itu ingin menjatuhkannya dari ketinggian.
Xiu Jikai yang berada di bawah pun melipat kedua tangannya di dada. Melihat mereka dengan cibiran. "Aku kan sudah bilang sejak awal," gumamnya.