
Tiga hari kemudian, benih padi telah tumbuh menjadi bibit dan siap untuk ditanam. Namun mereka menemukan masalah baru, areal persawahan yang mereka urus ternyata mengalami kelebihan air sehingga harus membuat saluran pembuangan air secara bertahap agar tidak terendam terlalu tinggi.
Kelompok Xiu Jimei turun ke sawah dan mulai menanam padi dengan jumlah yang terukur. Selama itu, mereka membungkuk berulang kali hingga pinggang sakit. Ditambah cuaca yang agak panas, mereka berkeringat lebih banyak daripada sebelumnya.
“Kenapa menanam padi ini lebih melelahkan daripada berburu binatang roh?” keluh Kin Wenqian
Wang Xuyue merenggangkan kedua tangannya untuk melepaskan otot-otot yang kaku. “Kamu benar. Aku merasa pinggangku akan sakit malam ini.”
“Untungnya akan berakhir hari ini, jika tidak, aku akan pulang lebih dulu dan meminta Pinky untuk memijatku,” ucap Xiu Jimei juga merasa pinggangnya sakit.
Tanpa diduga, Tuit Tuit yang bertengger di bahunya pun berkata. “Tuan, kamu tidak perlu pulang untuk dipijat oleh pria bunga itu. Bukankah tunanganmu sangat ahli memijat? Hehe …,” godanya.
Xiu Jimei sedikit malu dan kesal. Pada akhirnya menjejalkan bibit padi yang tersisa ke paruh kecilnya yang banyak bicara.
“…” Tuit Tuit merasakan lumpur di mulut, mau tidak mau langsung memuntahkannya.
Tuannya sangat tidak berperasaan!!
Mereka tidak menyadari jika setiap kali Xiu Jimei melangkah di sekitar sawah, air yang menimbulkan riak sedikit memiliki gelombang cahaya putih pucat. Gelombang itu dengan cepat menyebar dan kemudian menghilang.
Padi yang baru saja ditanam juga memiliki getaran ringan yang tidak disadari.
Sebelum tengah hari, kelompok Xiu Jimei sudah menyelesaikan bagian menanam padi. Sedangkan untuk kelompok Shin Yalong masih menanam padi, mereka tidak memiliki banyak orang seperti kelompok Xiu Jimei. Ditambah kelompok Shin Yalong melakukan beberapa kali kesalahan penanaman sehingga diceramahi oleh pemilik sawah.
Setelah beristirahat sebentar, kelompok Xiu Jimei bersih-bersih lebih dulu dan duduk santai di gubuk. Mereka menyaksikan Shin Yalong yang berubah menjadi burung gagak. Dia terbang menghindari pemilik sawah yang mengejarnya sambil mengacungkan tongkat.
Pada akhirnya, Shin Yalong berhasil membuat pemilik sawah jatuh tengkurap hingga semua wajahnya penuh lumpur. Ini membuat pemilik sawah sangat marah dan berjanji akan menjadikannya sate gagak!
Akhirnya, Lei Mo tak bisa menahan diri untuk tertawa ketika melihat adegan itu. Huang Fu Shi segera menutup mulut Lei Mo dan kabur sebelum pemilik sawah mengarahkan kemarahan pada keduanya.
Fu Yiyuan dan Fu Yanchi tidak bisa melakukan apapun selain mengurus kekacauan yang pemilik sawah buat.
Lei Mo yang diseret Huang Fu Shi naik ke pematang sawah akhirnya menghampiri kelompok Xiu Jimei.
__ADS_1
“Cantik, apakah kamu lelah? Aku punya kue kering di sini. Makanlah,” kata Lei Mo pada Xiu Jimei. Dia menunjukkan senyum playboy-nya dan tak sabar untuk menggoda setiap gadis yang ditemui.
Wang Xuyue memutar bola matanya. “Kamu sangat mirip dengan ayahmu bukan?”
“Tentu saja, aku adalah anak ayahku. Jika tidak mirip, bagaimana mungkin namaku bisa Lei?” Lei Mo tahu Wang Xuyue ini sedang mencari pertengkaran dengannya.
“Tidak heran kamu sangat kecanduan menggoda siapapun. Ayahku bilang ayahmu dulu punya banyak selir,” ucapnya.
“Itu adalah masa lalu, jangan mengungkitnya.” Lei Mo sedikit ketakutan.
Jika ibunya mendengar ini, pasti akan menjewer telinga ayahnya lagi dan menendangnya dari kamar tidur. Sebagai budak istri, ayahnya, Lei Yuan, pasti akan menunjuknya untuk menyalahkan. Bukankah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya?
Wang Xuyue akhirnya tertawa setelah berhasil membuat Lei Mo khawatir. Humph! Siapa yang memintanya menggoda Xiu Jimei. Jika Ming Zise ada di sini, Lei Mo bahkan tak akan berani untuk mengatakan omong kosong.
Namun Xiu Jimei tidak peduli. Dia benar-benar memakan kue kering yang diberikan oleh Lei Mo. Lagi pula, menolak makanan itu sangat disayangkan bukan?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Xiu Jimei serta yang lainnya melakukan barbeque di ruang makan untuk menemani suasana dingin yang ada.
Beberapa piring irisan daging sapi mentah mulai diletakkan di atas pemanggangan khusus. Tidak perlu diberi bumbu, setelah matang, celupkan saja pada saus pedas asam manis.
Aroma barbeque mulai tercium hingga ke luar rumah.
"Sudah kuduga, badanku sakit semua malam ini. Apakah kalian juga sama?" Wang Xuyue menyentuh betisnya yang sedikit sakit.ng kesakitan.
"Aku baik-baik saja." Xiu Jimei tidak merasakan sakit apapun.
Yang lain hanya memutar bola matanya. Bukan Xiu Jimei namanya jika tidak menyombongkan diri.
Setelah makan malam, mereka berniat untuk istirahat lebih awal sehingga besok pagi bekerja dengan lebih giat lagi. Mereka semua tidak menyadari jika sesuatu telah terjadi di pesawahan lagi.
Di keesokan paginya, seperti biasa, murid Gedung Alkimia akan berkeliling desa obat untuk mengecek semua keamanan. Memastikan tidak ada sesuatu yang hilang atau aneh.
__ADS_1
Namun ketika memeriksa areal pesawahan, murid laki-laki itu hampir memiliki ekspresi bodoh.
"Tidak ... Tidak mungkin!! Bagaimana bisa ini terjadi?!" tanyanya hampir memekik.
Dia langsung melarikan diri untuk menemukan Meng Zhanluo secepat mungkin. Hari masih gelap sehingga tidak banyak murid di Gedung Alkimia yang sudah bangun.
"Tuan! Tuan! Buka pintunya, Tuan!! Ini gawat!" Murid Gedung Alkimia itu menggedor pintu ruangan Meng Zhanluo dengan agak tergesa-gesa.
Di dalam ruangan, Meng Zhanluo sedang beristirahat dan sudah cukup lama tidur. Namun karena suara gedoran pintu yang mengganggu, dia mengerutkan kening..mimpi indahnya buyar oleh muridnya sendiri.
Dengan terpaksa, Meng Zhanluo terbangun dan membuka pintu dengan ekspresi enggan.
"Ada apa?? Kenapa mengetuk pintu dengan keras? Di mana etiketmu?" Pria tua itu memelototi murid laki-laki di depannya yang terlihat panik. Lalu dia curiga. "Ada apa denganmu? Seperti melihat hantu!"
Murid laki-laki itu tidak peduli dengan kemarahannya. "Tuan, ini sangat penting! Lihatlah sawah dan kamu akan tahu."
"Apa yang salah dengan sawah?" Meng Zhanluo curiga lagi.
Kemarin muridnya juga datang untuk memberi tahu sesuatu yang terjadi perkebunan. Sekarang di sawah lagi?
"Lihat saja dan Tuan akan segera tahu!" Murid laki-laki itu kehilangan banyak kata-kata.
Meng Zhanluo akhirnya pergi setelah mengumpulkan kesadarannya. Dia tidak lagi mengantuk dan meminta murid itu memimpin ke lokasi yang dimaksud.
Karena hari masih gelap, mereka tidak membuat keributan. Meng Zhanluo pergi ke areal pesawahan dan semuanya tampak normal. Namun ketika tiba di salah satu petak sawah besar, dia terkejut hingga jantungnya hampir melompat dari tempatnya.
"Apa ini? Rumput setinggi dua meter tumbuh di sawah? Milik siapa?!" tanyanya kesal.
Murid laki-laki itu kesal dengan mata Meng Zhanluo yang kurang baik saat melihat dengan jelas.
"Tuan, ini jelas bukan rumput! Perhatikan lagi!" tegasnya.
"Bukan?" Meng Zhanluo menyipitkam mata dengan curiga.
__ADS_1