
Ming Zise hanya menggelengkan kepala. Dia tidak melarangnya sama sekali. Apapun yang diinginkan Xiu Jimei, maka akan didapatkan cepat atau lambat. Lagi pula hanya tanam herbal Alam Para Dewa. Xiu Jimei tidak akan memberikannya pada orang lain.
Belum lagi, Xiu Jimei berkata bahwa dirinya akan membuat beberapa pil atau cairan obat baru. Dia membutuhkan beberapa ramuan langka untuk menciptakan pil baru di masa depan. Mungkin Xiu Jimei ingin menggunakannya tanaman herbal Alam Para Dewa untuk uji coba?
Jika Dewa Obat tahu tujuannya, mungkin akan lebih enggan untuk memberikan tanaman herbal sebagai persyaratan menyelamatkan Han Yuye. Lagi pula, ketika tanaman herbal dijadikan bahan uji coba pembuatan obat oleh alkemis, kemungkinan gagal lebih dari tujuh puluh persen.
Setelah melakukan kesepakatan, Xiu Jimei akhirnya mengeluarkan setetes esensi delapan dewa-dewi dari ujung jari telunjuknya. Setetes esensi delapan dewa-dewi tersebut langsung jatuh ke dahi Han Yuye dan terserap ke tubuhnya secara alami.
Dengan mata telanjang, tubuh Han Yuye seperti terbungkus energi spiritual keemasan. Dewa Obat tiba-tiba saja berbinar. Energi spiritual yang sangat murni tersebut langsung memperbaiki fondasi tubuh Han Yuye yang telah rusak.
Bulu mata pria itu sedikit bergerak dan akhirnya membuka mata perlahan. Han Yuye masih sedikit linglung saat ini. Dewa Obat membantunya untuk duduk dan menstabilkan kondisinya lebih dulu.
"Apakah kamu merasa lebij baik saat ini?" tanya Dewa Obat.
Han Yuye memijat pelipisnya sedikit lalu mengerutkan kening. Ia tak langsung menjawab. Tapi ketika melihat Xiu Jimei dan Ming Zise ada di istananya, dia bingung.
"Kenapa kalian di sini?" tanyanya langsung mengabaikan Dewa Obat.
Xiu Jimei menjawab. "Kamu koma sebelumnya. Aku datang untuk membuatmu kembali bangun. Jangan berterima kasih padamu. Dewa Obat sudah membayarnya."
__ADS_1
"..." Han Yuye merasa jika energi spiritual di tubuhnya sedikit lebih kaya saat ini. Apakah gadis itu memberikan setetes esensi delapan dewa-dewi padanya?
Wajah Han Yuye sedikit menggelap. Dia bukan tidak bersyukur atau berterima kasih, tapi esensi delapan dewa-dewi sangat berharga dan pohon keabadian yang telah lama sakit bisa langsung tumbuh subur dan lebat. Apalagi energi spiritual di tubuh kultivator Alam Para Dewa seperti dirinya.
Tapi benda apa yang bisa dibayar membayar setetes esensi delapan dewa-dewi?
Han Yuye melirik Dewa Obat seperti pria tua yang baru saja kehilangan bayinya (harta). Kemudian ia melirik Xiu Jimei lagi. Sayangnya, sosok Xiu Jimei sudah tidak ada di tempat. Bahkan Ming Zise juga baru saja menghilang.
"Ke mana mereka pergi. Aku bahkan belum mengatakan sesuatu," kata Han Yuye sedikit tidak puas. Gadis itu semakin berani pergi tanpa pamit.
Dewa Obat menghela napas tidak berdaya. Tapi kemudian dia terkejut dan bangkit dari duduknya secara tiba-tiba.
"Ada apa?" Han Yuye semakin bingung. "Pergi ke mana mereka hingga membuatmu menunjukkan ekspresi takut?" tanyanya polos. Wajahnya masih agak pucat.
"Aku berjanji untuk memberikan beberapa tanaman herbal untuk gadis itu sebagai bayaran penyelamatan jiwamu. Mungkin dia pergi ke sana untuk menagih utang!" Dewa Obat berteriak marah dan segera meninggalkan tempat itu tanpa berpikir lebih jauh.
Dewa Obat baru saja berutang pada Xiu Jimei tapi sudah menagih utangnya di hari yang sama. Bagaimana ini terjadi? Mau tidak mau, Dewa Obat berencana untuk kembali.
"Gadis itu pasti pergi ke gudang obatku untuk merampok! Aku akan kembali dulu dan datang lagi nanti untuk melanjutkannya pemeriksaan!" Dewa Obat segera menghilang dari pandangan Han Yuye tepat saat pria itu ingin mengatakan sesuatu.
__ADS_1
Han Yuye akhirnya tahu jika Dewa Obat telah membayar harga setetes esensi delapan dewa-dewi dengan beberapa tanaman spiritual. Sekarang Han Yuye siuman dan dia beristirahat lebih dulu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di Istana Dewa Obat, Xiu Jimei sudah melihat beberapa tanaman herbal yang tumbuh subur. Bukan hanya itu saja, tapi beberapa tanaman herbal, bunga herbal serta rumput roh, sangat berguna.
Dewa Obat tak bisa menyia-nyiakan ladang obatnya saat ini.
Ketika Dewa Obat kembali ke istana, Xiu Jimei sudah mengambil beberapa rumput roh yang terawat dengan baik. Dewa Obat melihat Xiu Jimei mencabut rumput roh seperti mencabut gulma, diam-diam menangis di hatinya.
"Gadis itu sungguh tidak bermoral! Dia mencabut rumput roh dengan tenang! Benar-benar — rumput!" Dewa Obat mengomel diam-diam.
Setelah mencabut rumput roh, Xiu Jimei tersenyum pada Dewa Obat dan mengucapkan terima kasih.
"Kalau begitu aku akan kembali. Dewa Obat, jika kamu butuh sesuatu, katakan saja padaku." Xiu Jimei memberikan jaminan.
Xiu Jimei dan Ming Zise pergi ke Istana Minglan untuk istirahat. Dewa Obat selalu merasa ada yang aneh saat ini dan bertanya pada pengurus istana.
"Apakah dia pergi ke gudang harta?" tanyanya.
__ADS_1