Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Adikmu Adalah Bintang Phoenix-ku


__ADS_3

Xiu Jimei memeluk Ming Zise yang memiliki aroma tubuh yang menyegarkan pikirannya. Ternyata tubuh guru sangat bagus, nyaman di peluk.


Sementara Ming Zise menyembunyikan suka cita di hatinya. Akhirnya gadis ini memeluknya juga. Dia menyentuh punggung Xiu Jimei dan mengelusnya dengan lembut.


"Ini benar-benar harum ...," gumam Ming Zise.


Xiu Jimei yang hampir saja terlena dipelukannya tiba-tiba saja mengerutkan kening. Apa yang harum? Pikirnya.


Ming Zise mencium aroma harum buah persik dari tubuh Xiu Jimei. Membuat pikirannya sedikit melemah. Dia sangat ingin membawa gadis itu ke suatu tempat dan mencium tubuhnya sampai puas. Jika berkultivasi ganda dengan gadis ini, sepertinya lebih bagus lagi.


"Apakah nyaman memeluk guru?" Ming Zise mengalihkan pikiran Xiu Jimei.


"Yah ... Ini nyaman! Tubuh guru sangat bagus!"


"Tentu saja. Xiao Mei bisa menyentuhnya kapan pun."


"Sungguh?"


"Sungguh."


Percakapan kedua orang di dapur itu terdengar oleh Xiu Jikai yang kini berada di dekat pintu dapur. Laki-laki itu bermaksud untuk mengecek sampai mana Xiu Jimei membuat bakpao isi daging.


Tapi sebelum memasuki pintu, dia mendengar beberapa percakapan yang membuat pikirannya melayang. Sangat buruk! Dia membayangkan adiknya dipaksa oleh Ming Zise untuk melakukan sesuatu yang buruk.


Yan Yujie yang ada di sampingnya bahkan panik. Apakah adik sepupu laki-lakinya ini akan mengamuk dan menghancurkan dapur?


"Adik—" Yan Yujie baru saja hendak mengatakan sesuatu namun Xiu Jikai sudah menendang pintu dapur hingga terlepas dari engselnya.


Xiu Jimei yang sedang memeluk Ming Zise terkejut dan segera melepaskannya. Dia berteriak karena terkejut seolah-olah baru saja ketahuan berselingkuh di belakang suami.


"Kakak!" Xiu Jimei melihat saudara kembarnya sudah menunjukkan tanda-tanda marah.


"Tercela! Berani kamu merayu adikku!" Xiu Jikai menggeram dan hendak menghajar Ming Zise. Pria berwajah putih kecil ini berani merayu adiknya.


Ming Zise hanya tersenyum. Dia sudah tahu ada orang lain di luar namun sengaja tidak menghindar. Lebih baik untuk melatih psikologi Xiu Jikai sedikit demi sedikit hingga suatu hari nanti rela melepaskan adiknya.


"Kakak, jangan!" Xiu Jimei berdiri di depan Ming Zise dan bermaksud untuk menghentikan kakaknya yang mulai mengamuk.

__ADS_1


Xiu Jikai berhenti tepat sebelum tinjunya hampir melukai kepala adiknya. "Xiao Mei! Menghindar! Biarkan aku memberinya pelajaran."


"Kakak, ini salah paham. Jelas aku yang memeluknya. Bagaimana bisa disalahkan pada guru?"


"Apa maksudmu? Kamu menjadi seorang gadis yang berani merayu pria tanpa berkedip?!" Xiu Jikai marah. Kali ini bukan hanya marah pada Ming Zise, tapi pada adiknya juga.


"Bukan! Bukan seperti itu. Aku hanya merayu guru!"


"Xiao Mei, hargai dirimu sebagai wanita!"


Xiu Jikai hanya menatap adiknya sambil menggertakkan gigi. Kedua tangannya mengepal lalu meninggalkan tempat itu dengan cepat. Yan Yujie ingin menyusul tapi pada akhirnya hanya menciutkan lehernya. Lebih baik tidak pergi untuk membujuk. Xiu Jikai yang sedang marah akan menghajarnya tanpa memikirkan hubungan persaudaraan.


"Kakak!" Xiu Jimei mengubah ekspresinya.


Xiu Jikai benar-benar marah kali ini. Gadis itu tidak terbiasa dengan sifat kakaknya yang selalu overprotektif terhadapnya. Selama ini, Xiu Jikai paling banyak hanya kesal dan bernada dingin. Tapi tidak pernah semarah ini.


Mungkin karena hubungan darah saudara kembar, Xiu Jimei merasa tidak nyaman di hatinya. Matanya memerah dan dia ingin mengejar kakaknya untuk meminta maaf. Namun Ming Zise mencegahnya.


"Jangan menangis. Tunggu di sini dan guru akan menyelesaikan keluhannya." Ming Zise menepuk kepalanya dengan lembut.


"Tapi kakakku marah. Aku merasa tidak nyaman."


Meskipun saudara kandung, Xiu Jikai seharusnya tidak membuat Xiu Jimei menangis seperti ini. Ada rasa dingin di sorot matanya. Dia segera pergi dan meminta Yan Yujie untuk menemani Xiu Jimei sementara waktu.


"Xiao Mei, tenang saja. Xiao Kai melakukan semua ini demi kebaikanmu." Yan Yujie menenangkan.


"Tapi aku bukan anak kecil lagi. Aku sudah besar. Aku tahu kakak sangat khawatir padaku, tapi aku bukan gadis yang mudah ditipu. Aku tahu apa yang kulakukan dengan sadar. Meskipun Ming Zise selalu disengaja tapi dia tidak berniat jahat padaku. Aku sangat jelas tentang hal ini."


Di mana Xiu Jikai, adiknya selalu ceroboh dan khawatir ditipu pihak lain. Mungkin karena ayah dan ibu jarang pulang, Xiu Jikai sudah seperti setengah orang tua yang mengurus satu-satunya adik perempuan di rumah.


Air mata tidak bisa berhenti mengalir ke pipinya. Hatinya tidak nyaman dan tubuhnya sedikit lemas. Dia hanya berjongkok seperti seorang gadis yang baru saja diputuskan kekasihnya.


Wajahnya sedikit pucat.


Yan Yujie khawatir terjadi sesuatu dengannya namun gadis itu hanya menggelengkan kepala. Dia menghapus air matanya.


"Aku akan membuat bakpao. Kamu bantu aku di sini," katanya.

__ADS_1


"Oh ... Baiklah." Melihat jika Xiu Jimei bersikeras untuk memasak, Yan Yujie menelan kembali apa yang akan dikatakannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara di sisi lain.


Ming Zise berhasil menyusul Xiu Jikai yang kini melampiaskan amarahnya dengan latihan di hutan. Rambutnya sudah berubah menjadi putih keperakan. Dia menggunakan pedangnya untuk melakukan berbagai gerakan seni bela diri dan menggunakan energi spiritual.


Beberapa pohon rusak olehnya. Satu-satunya cara untuk melampiaskan kemarahannya hanya ini. Dia tak punya pilihan lain.


Xiu Jimei tidak mengerti tentang ini. Dia justru melindungi pria itu, betapa tercelanya. Dia yakin adiknya ditipu dan khawatir akan jatuh ke jurang tak berujung suatu hari nanti.


Ming Zise keluar dari tempat lain dan tersenyum saat melihat nya melampiaskan kemarahannya.


"Kenapa kamu tidak mengerti apa yang diinginkan adikmu?" tanyanya tanpa basa-basi.


Ketika mendengar suara Ming Zise, laki-laki itu segera menyerangnya. "Jangan salahkan aku untuk menghajarmu! Kenapa kamu tidak berada di dekat adikku? Bukankah kamu sangat tenang bisa berlindung di balik saudariku yang dibodohi olehmu?!"


Pedang bergerak lurus ke arah Ming Zise tanpa ragu. Xiu Jikai tidak pernah takut menyinggung pihak lain.


Ming Zise tidak mencoba untuk menghindar. Dia menggunakan dua jarinya untuk mengapit mata pedang. Embusan angin sedikit menerpa tubuhnya akibat energi spiritual yang menguar dari pedang.


Kekuatan Ming Zise tidak kecil. Setidaknya Xiu Jikai menebak sesuatu. Kultivasi pria di depannya lebih besar darinya.


"Siapa kamu sebenarnya?" tanyanya.


"Tidak perlu tahu siapa aku. Ingatlah satu hal, Xiao Mei adalah bintang phoenix ku," jawabnya.


"A-apa katamu?!" Xiu Jikai tertegun. Dia bukannya tidak tahu tentang bintang phoenix adiknya, namun hanya ayah dan ibunya saja yang tahu siapa orangnya.


Mungkinkah pria di depannya ini?


Xiu Jikai merasa linglung untuk sementara waktu. Inikah alasan kenapa saat dia mengirim pesan pada ayahnya, jawabannya selalu aneh? Ayahnya jelas marah tapi tidak mau memberi pelajaran pada Ming Zise.


Ayah sudah tahu tentang ini.


"Xiao Mei adalah bintang phoenix ku. Xiao Kai ... Apakah aku salah untuk dekat dengan adikmu?"

__ADS_1


Xiu Jikai tidak menjawab. Dia menarik kembali pedangnya. Dia menyipit mata. "Bagaimana aku bisa yakin jika adikku adalah bintang phoenix-mu? Apakah kamu sengaja berpura-pura?"


__ADS_2