
NB: Warning chapter
...****************...
Ming Zise merasa tenggorokannya kering saat ini. Pikirannya sudah kacau dan mau tidak mau memeluk gadis itu untuk beberapa saat.
Karena Xiu Jimei meminta ini darinya, Ming Zise tidak menolak. Hubungannya dibenarkan oleh takdir bintang phoenix. Setelah bergaul cukup lama nanti, dia dan Xiu Jimei bisa bertunangan lalu menikah.
"Kalau begitu ... Guru tak akan menahan diri. Xiao Mei jangan menyalahkan Guru di masa depan," bisik pria itu.
"Ya."
Xiu Jimei sebenarnya gugup. Tidak tahu harus melakukan apa selanjutnya. Dia tidak tahu tentang urusan seperti ini.
Namun melihat Ming Zise membuka sabuk yang mengikat pinggangnya, Xiu Jimei bahkan lebih gugup. Pria itu lalu mencium wajah Xiu Jimei dengan lembut, lalu beralih ke bibir dan lehernya.
Gadis itu sedikit gemetar. Dia merasa darahnya mendidih saat ini hingga kakinya lemas. Untungnya Ming Zise menahan tubuh gadis itu dan menggigit salah satu daun telinganya.
"Nah, apakah Xiao Mei masih menginginkannya. Ini baru permulaan. Belum ke intinya," bisik Ming Zise. Napas hangatnya menyapu telinga Xiu Jimei.
"Aku ... Aku tidak apa-apa. Hanya gugup," jawab Xiu Jimei malu. Wajahnya benar-benar memerah.
"Tidak apa-apa, jangan gugup. Bukankah tadi Xiao Mei begitu berani merayu Guru?"
"Aku—" Xiu Jimei benar-benar ingin menggali lubang untuk mengubur dirinya sendiri.
Keduanya berciuman. Gerakan Ming Zise sangat lembut dan terarah. Hingga lidah pria itu menjarah isi mulutnya.
Tak lama kemudian, Xiu Jimei merasakan sesuatu yang keras di bawah sana. Tubuhnya tiba-tiba saja menegang. Dia tahu apa artinya ini. Guru tidak bisa menahan diri, pikirnya.
Wajah Xiu Jimei canggung saat pertama kali melihat Ming Zise tanpa pakaian, dia tidak banyak menolak perlakuannya. Terutama saat tubuh keduanya yang tanpa sehelai pakaian saling bersentuhan, percikan asing yang menggairahkan di antara keduanya muncul.
"Apakah tidak apa-apa?" bisik Ming Zise.
Melihat gadis di bawahnya tampak kaku, Ming Zise ragu-ragu untuk melanjutkan.
Xiu Jimei mengangguk kecil. "Tidak apa-apa. Aku sedikit terkejut Guru memiliki tubuh yang bagus," pujinya.
"Bisakah Guru memanggil mu Mei'er di masa depan?"
__ADS_1
"Tentu saja."
Panggilan Mei'er biasanya hanya digunakan oleh kerabat Xiu Jimei selama ini. Jika Ming Zise mengatakannya, berarti hubungan keduanya tidak biasa lagi di masa depan.
Pria itu menyentuh setiap inci kulit halus Xiu Jimei dan meremas lembut buah persiknya. "Yah, Mei'er," gumamnya.
Ketika Xiu Jimei merasakan ada sesuatu yang memasuki tubuhnya, rasa sakit mulai dirasakan. Dia merintih, tubuhnya kaku dan tidak nyaman.
Ming Zise tahu ini pertama kalinya bagi gadis itu. Tapi dia tak bisa berhenti di tengah jalan namun juga tidak memaksanya terlalu banyak. Dia perlahan-lahan melakukannya dengan lembut agar tidak terlalu menyakitinya.
"Sakit untuk pertama kalinya. Tahanlah sedikit," bisiknya kembali mencium bibirnya.
Hingga akhirnya pengekangan terakhir ditembus oleh pria itu hingga Xiu Jimei berteriak kesakitan. Tubuhnya gemetar. Ming Zise tidak berani untuk bergerak sementara waktu. Dia menunggu Xiu Jimei merasa lebih rileks.
Xiu Jimei melihat Ming Zise menatapnya penuh cinta, hatinya menghangat. Dia melingkarkan kedua tangannya di leher pria berambut putih keperakan itu.
"Guru ... Aku baik-baik saja. Tidak apa-apa," katanya.
Akhirnya Ming Zise bisa melanjutkan gerakannya lagi tapi tidak gegabah. Hanya saja setiap kali dia bergerak, Xiu Jimei akan merasa kesakitan. Walaupun merasa kasihan dengan kondisinya, Ming Zise tidak munafik. Dia menikmatinya saat ini.
Lambat lain, seiring berjalannya waktu, rasa sakit itu akan tergantikan oleh sesuatu yang lain. Yang awalnya rintihan menjadi lenguhan.
Wajahnya memerah. Tubuhnya yang gelisah diketahui oleh Ming Zise.
"Tidak tahan?" tanya pria itu lembut. "Jangan ditahan. Mei'er, panggil aku ... Zise. Panggil namaku," bisiknya dengan napas terengah-engah.
"Zise ... Ming Zise!" Xiu Jimei teriaknya sedikit tertahan.
"Bagus."
Tubuh keduanya meledakkan banyak cinta musim semi untuk pertama kalinya. Xiu Jimei meremas seprai sekuat tenaga dengan pikiran yang luar biasa berkabut. Dia bisa mendengar suara Ming Zise sedikit menggeram di lehernya. Pria itu membenamkan wajah di lehernya.
Ming Zise mencoba menopang tubuhnya agar tidak menindih Xiu Jimei terlalu lama. Tapi menghirup aroma bunga persik yang manis di tubuh gadis itu, dia tidak tahan untuk mengecap lehernya dengan rakus.
Semakin Xiu Jimei berkeringat, aroma bunga persik menguar lebih banyak.
"Mei'er, aku mencintaimu," bisik Ming Zise.
Dia menyentuh perut gadis itu. Tidak tahu berapa banyak yang dia tabur di tubuh gadis itu, ini bukan waktu yang tepat untuk hamil. Tunggu setelah menikah nanti, dia ingin Xiu Jimei melahirkan banyak anak untuknya. Dengan begitu, Istana Minglan akan lebih hidup.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan paginya, Xiu Jimei terbangun. Hari di luar masih gelap tapi gadis itu terbangun setelah merasakan sensasi dingin menyentuh tubuh bawahnya. Dia merasa geli dan tidak nyaman, ingin menyingkirkan sesuatu dengan kakinya.
Tapi seseorang menangkap kakinya dengan cekatan dan mencium betisnya.
"Baru saja bangun, Mei'er ingin melakukan kekerasan pada Guru?" Suara yang menyihir itu segera membuat Xiu Jimei terjaga.
Dia melihat Ming Zise sedang duduk di tepian tempat tidur seraya mengoleskan sesuatu pada tubuh bawahnya. Wajahnya tiba-tiba memerah kembali, sangat malu.
"Apa ... Apa yang Guru lakukan?" tanyanya gugup. Kenapa dia menyentuhnya lagi di pagi hari ini.
"Apa yang Mei'er pikirkan? Guru sedang mengoleskan obat sejuk. Bukankah ini masih sakit?"
"Ya, sakit. Tidak heran rasanya begitu sejuk setelah diolesi obat. Ini nyaman. Ini semua salah Guru," jawab gadis itu pura-pura menyalahkannya.
"Yah ... Salah Guru. Lain kali, itu tidak akan sakit lagi."
Xiu Jimei baru menyadari jika seprai dan selimut sudah diganti oleh Ming Zise sejak pagi buta tadi. Saat itu Xiu Jimei masih tertidur pulas. Bahkan Ming Zise juga memandikannya dengan senang hati.
Setelah mengoleskan obat, Ming Zise mengambil pil berwarna hitam yang mengkilap. Ukurannya tidak besar tapi aromanya penuh dengan obat-obatan herbal.
"Telan ini dulu."
"Apa ini?"
"Obat anti kehamilan. Mei'er belum waktunya memiliki anak, mari kita cegah dulu. Jangan khawatir, ini tidak berbahaya untuk tubuh."
"Oh." Xiu Jimei tidak menolak. Dia memang tak bisa memiliki anak secepat itu sekarang. Belum lagi sekarang masih mengikuti ujian.
"Ini masih terlalu pagi. Tidurlah lagi. Guru akan membuat sarapan lebih dulu." Ming Zise mengelus kepalanya dengan lembut.
"Guru, bagaimana jika kakakku tahu tentang ini? Dia pasti akan sangat marah." Xiu Jimei ingat jika Xiu Jikai selalu sensitif jika sesuatu terjadi pada dirinya.
Mengetahui jika dirinya dan Ming Zise memiliki malam yang panjang di tempat tidur, Xiu Jikai pasti akan mencoba untuk membunuh Ming Zise.
"Jangan khawatir, Kai'er sudah tahu tentang ini saat dia memergoki Guru keluar dari kamarmu." Ming Zise tiba-tiba saja terkekeh.
"..." Lalu kenapa gurunya ini masih memiliki tubuh yang utuh sekarang? Apakah saudaranya yang berakhir menemui tabib? Pikir Xiu Jimei.
__ADS_1