
Xiu Jimei tidak terburu-buru untuk membujuk Tongluo. Dia membicarakan banyak hal lebih dulu tentang Alam Neraka dan apa yang dilakukan mereka. Bahkan Tongluo sebenarnya tidak suka jika Alam Neraka membuat kekacauan di alam sekuler.
Kemudian pembahasan beralih ke topik utama yang diinginkan Xiu Jimei.
"Kamu harusnya tahu jika Alam Neraka meminta utusan datang dan membawamu pergi bukan?"
Tongluo terkejut untuk sementara waktu lalu berpikir cukup lama dan mengangguk. Tentu saja dia tahu. Meski dia tidak berkomunikasi langsung mereka, tapi ada komunikasi khusus yang bisa saling memberi kode satu sama lain. Namun itu bukan komunikasi yang bisa saling memberi ide atau bicara satu sama lain. Melainkan hanya untuk memastikan apakah dirinya baik-baik saja.
Jika Tongluo mati sejak awal, tentu saja utusan Alam Neraka tidak akan mendapatkan tanggapan atas kode yang dikirimnya melalui sengatan energi spiritual pada jaringan otak.
“Bagaimana pendapatmu tentang mereka?” tanya gadis itu.
“Tanggapan apa yang kamu inginkan sebenarnya?” Tongluo tersenyum, tidak lagi terlihat lugu seperti sebelumnya.
“Mereka ingin mencari tahu keberadaan orangtuamu,” jawabnya lagi.
Tongluo sedikit tertegun dan jari-jemari kedua tangannya tak bisa berhenti saling meremas. Ia sudah memikirkan berbagai kemungkinan ketika mereka mencarinya kali ini. tapi ia tidak menduga jika mereka akan langsung mengarahkannya pada orangtuanya.
Ia adalah darah campuran dari dua alam yang saling bermusuhan. Tapi ayah dan ibunya saling mencintainya. Ayahnya adalah iblis rubah merah api yang memiliki kedudukan di Alam Neraka. Namun ayahnya memilih untuk hidup dengan ibunya yang merupakan siluman rubah putih, keluar dari Alam Neraka dan menyembunyikan napas spiritualnya di Alam Para Dewa.
Demi menghindari perpecahan dua ras yang berbeda dan khawatir ketahuan oleh penghuni dari dua alam, kedua orangtuanya memilih untuk bersembunyi di tempat yang sangat jauh dari kehidupan. Kemudian Tongluo lahir ke dunia, mewarisi darah keduanya tapi penampilannya lebih condong ke ras iblis rubah merah api.
Demi menghindari sesuatu yang tidak diinginkan, orangtuanya mengirim dia ke Alam Neraka untuk terus tumbuh. Dan dia akhirnya bergabung dengan pasukan istana Alam Neraka dan menjadi wakil jenderal. Meski begitu, Tongluo tidak pernah begitu terang-terangan tentang identitasnya.
“Apa yang kamu inginkan?” tanya Tongluo dengan suara lemah.
“Ayah dan ibumu ada di halaman Istana Dewa Binatang. Yang jelas kami tidak akan membiarkan Ning Siyu atau Lu Zheng mengambil mereka untuk mengancammu,” jelas Xiu Jimei.
Tongluo mendengus. “Jangan berpikir dengan melindungi orangtuaku, aku akan tunduk pada kalian.”
__ADS_1
“Tujuan kami bukan itu,” katanya.
“Lalu?”
“Kami hanya menghindari beberapa masalah di masa depan. Jika mereka berhasil membawamu kembali ke Alam Neraka dan dicuci otak, bukankah akan membawa masalah bagi Alam Para Dewa? Lagi pula orangtuamu tidak bersalah, jadi tidak perlu melibatkan mereka,” jelas Xiu Jimei.
“…” Tongluo sampai tak bisa berkata-kata.
Meskipun begitu, Tongluo tidak banyak bicara saat ini. Dia sedang memikirkan hal lain. Selama orang tuanya aman, ia tidak akan memikirkan hal yang berlebihan. Dia juga tidak terburu-buru untuk memikirkan rencana selanjutnya
Salah satu telinga berbulu rubah itu bergerak. “Aku ingin bertemu dengan orang tuaku. Setelah itu, aku akan memberi tahumu apa yang kuketahui,” katanya.
“Kenapa aku harus percaya padamu?” Xiu Jimei tidak ingin tertipu olehnya. Rubah selalu licik dan selamanya begitu. Jadi dia tidak langsung mempercayai Tongluo.
Tongluo tersenyum. “Anggap saja karena aku juga bagian dari Alam Para Dewa. Aku tidak bisa membiarkan ibuku dianiaya.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Kamu rubah sialan! Apakah Alam Neraka mu tidak pernah mengajarkan penghuninya cara bicara yang baik?” Dewa Binatang menendang udara dengan kedua kaki kurusnya. Jelas jambulnya berdiri semua, siap bertarung.
Rubah merah api menjilat punggung kaki depannya dan tidak memedulikan kemarahan Dewa Binatang. Lalu kedua telinganya bergerak-gerak. Ia melihat ke arah lain di mana Xiu Jimei sudah berdiri dan memeluk rubah merah api kecil.
Akhirnya ia menyadari jika itu adalah anaknya sendiri. “Tongtong …,” panggilnya.
Rubah merah api kecil di pelukan Xiu Jimei membuka matanya dan melihat jika ayahnya baik-baik saja, ia lega. Ia melompat dari pelukan Xiu Jimei. Namun jelas ada rantai spiritual samar di lehernya sehingga ia tidak bisa melarikan diri.
Tongluo menghampiri ayahnya dan menggosokkan tubuhnya. “Ayah, aku baik-baik saja.”
Reuni ayah dan anak rubah itu membuat Xiu Jimei tersentuh. Lalu ia melirik merak biru tua yang masih mengomel tidak jelas. Kepala pelayan jelas tidak berdaya menghadapi kemarahan tuannya. Xiu Jimei akhirnya meraih leher panjang merak itu dan tersenyum tapi senyum itu tidak mencapai matanya.
__ADS_1
“Dewa Binatang, bagaimana jika kamu menjadi ayam untuk sementara waktu. Aku butuh alarm alami untuk membangunkanku di pagi hari,” ucapnya.
“Hah?” Merak biru tua yang meronta di pelukan kepala pelayan akhirnya bingung dan seketika tenang. Mencerna apa yang dikatakan Xiu Jimei, kemarahannya meledak lagi. “Kamu … kamu berani! Siapa yang kamu panggil ayam? Aku jelas merak!”
Seolah-olah asap mengepul dari kedua telinganya, merak biru tua yang menyadari jika Xiu Jimei memegang lehernya, mau tidak mau terdiam kembali. Gadis itu tidak kekurangan daging ayam dan berniat menyembelihnya kan?
Setelah Dewa Binatang tenang, ia kembali berubah menjadi manusia. Ia memasang ekspresi serius. Terutama saat Xiu Jimei membawa Tongluo.
“Kenapa kamu membawanya ke sini?”
“Biarkan dia bertemu dengan orang tuanya. Lalu dia bilang akan memberi tahu kita semua yang diketahuinya tentang Alam Neraka.”
Dewa Binatang sedikit tidak senang. “Apakah kamu ditipu olehnya? Aku sudah menahan dua rubah itu di sini. Siluman rubah putih tidak memiliki masalah apapun dan mengatakan semuanya. Tapi iblis rubah merah api yang satu ini sangat licik dan membuang banyak waktu.”
“Mungkin setelah ini dia akan mengatakan semuanya.” Xiu Jimei menebak.
“Bagaimana kamu tahu?”
“Intuisi seorang wanita.”
“…” Apakah wanita memiliki banyak kemampuan membaca firasat? Dewa Binatang tidak mau berdebat.
Keduanya memperhatikan reuni dua rubah yang saling meluapkan kerinduannya. Saat berbicara dengan ayahnya, Tongluo tidak bertingkah pura-pura manja atau menyedihkan. Tampaknya normal-normal saja. Namun Tongluo tampaknya tidak melihat keberadaan ibunya sejak awal datang.
“Ayah, di mana ibu?” tanyanya.
Rubah merah api itu menghela napas dan kedua telinganya sedikit terkulai. Tatapannya juga sedikit mengkhawatirkan sesuatu.
“Kesehatan ibumu, kamu juga tahu. Dia tidak sehat saat ini dan memilih untuk memulihkan diri.”
__ADS_1
Tongluo mengkhawatirkan ibunya. “Aku ingin melihatnya.”