
Dewa Perang mendengarkan penjelasan Ye Jue mau tidak mau langsung mengubah ekspresinya. Dia akhirnya menjitak kepala pria itu tanpa ampun. Ye Jue mengerang kesakitan.
"Kenapa kamu memukul ku?" Ye Jue masih tersenyum seolah-olah tidak marah.
"Lalu kenapa kamu tidak mengatakannya sejak awal?!"
"Kamu tidak bertanya. Kupikir kamu juga tahu setelah berpikir beberapa saat. Tapi siapa yang tahu bukan?"
Melihat ekspresi polosnya, Dewa Perang benar-benar ingin memukulnya lagi. Ye Jue selalu sukses membuat siapapun ingin memberinya pemukulan. Dia berkata hanya buah persik esensi delapan dewa-dewi? Tidakkah Ye Jue tahu bahwa buah itu sudah tidak ada lagi di Alam Para Dewa sejak esensi delapan dewa-dewi menghilang?
Sekarang buah yang dihasilkan oleh esensi delapan dewa-dewi muncul, tidak bisakah dia terkejut? Belum lagi buah itu telah masuk ke perut Ming Zise sebagai obat, betapa borosnya!
Dewa Perang belum terlalu tua, tapi dia juga belum pikun. Satu buah yang dihasilkan esensi delapan dewa-dewi sudah cukup diekstrak untuk dijadikan beberapa pil berkualitas tinggi dan tidak ada bandingannya.
Tiba tiba saja Dewa Perang mengalami sembelit. Apakah gadis itu masih memiliki beberapa buah lagi?
"Xiaomei, buah persik itu sangat harum? Apakah kamu masih memilikinya lagi?" tanya Yan Yujie. Dia juga ingin mencoba buah itu.
"Wanita itu hanya memberiku beberapa buah saja. Tapi mengingat energi spiritual yang terkandung, tidak cocok bagimu untuk memakannya langsung. Lebih baik diekstrak untuk dijadikan pil lebih dulu," jelas Xiu Jimei.
Mendengar hal itu, Dewa Perang bersemangat dan ingin mengatakan sesuatu. Namun tiba-tiba saja Ye Jue berbicara lebih dulu.
"Kalau begitu, kenapa tidak membuatnya menjadi permen susu. Bukankah kamu ingin permen susu yang kubuat? Jika menambahkan buah persik itu, pasti lebih enak. Jangan khawatir tentang ketidakcocokan terhadap tubuh kultivator, aku bisa mengkondisikannya," jelasnya dengan santai dan percaya diri.
"..." Dewa Perang ingin muntah darah saat ini. Bisakah Ye Jue berhenti untuk membuat orang lain kesal?
Xiu Jimei terlihat memikirkannya. Ming Zise mengerutkan kening.
"Berapa buah lagi yang tersisa?"
"Ini lima lagi," jawabnya.
__ADS_1
"Oh, kalau begitu satu buah sudah cukup untuk membuat permen susu." Ming Zise mengangguk. Dibuat menjadi pemen juga tidak masalah, pikirnya.
"Kalau begitu baiklah."
"Buah yang tersisa biarkan aku yang menyimpannya," kata pria itu lagi.
Kali ini Xiu Jimei menatap Ming Zise dengan curiga, sepertinya sengaja ingin merampok makanannya. Ming Zise tidak berdaya dan masih mengatakan beberapa hal baik yang masuk akal. Walaupun ia tahu Xiu Jimei tidak bodoh, tapi Ming Zise yakin buah itu tidak terlalu bermanfaat bagi tubuhnya.
"Lebih aman bersamaku. Mei'er bisa yakin."
Sebenarnya Xiu Jimei tidak keberatan. "Aku ingin memberikannya pada kakakku satu," angguknya.
"Tidak masalah." Ming Zise menghela napas.
Xiu Jimei memberikan sisa buah persik esensi delapan dewa-dewi itu pada Ming Zise. Yang satunya lagi berikan pada Xiu Jikai dan Ye Jue. Tentu Xiu Jikai tidak menolaknya. Buah yang begitu baik, kenapa dia tidak memakannya?
Dewa Perang merasa hatinya sakit saat melihat buah-buah itu lari ke tangan Ming Zise. Ye Jue tidak memiliki perubahan ekspresi apapun. Dia sedang memikirkan cara mengolah buah persik itu menjadi permen susu yang enak di masa depan.
Xiu Jimei menatapnya dengan heran. "Tahu, buah esensi delapan dewa-dewi."
"Jika tahu, kenapa kamu begitu santai. Tidakkah kamu tahu seberapa bagusnya buah itu daripada buah spiritual lainnya? Ini buah persik yang sangat baik dan langka."
Xiu Jimei mengangkat kedua bahunya dengan santai. "Apa fungsinya, aku tidak tahu. Toh, ini tidak berpengaruh juga padaku. Jadi apa gunanya? Aku hanya merasa daging buahnya enak dan sangat manis, jadi makan saja."
"...."
Jika Xiu Jimei bukan seorang gadis kultivator Dunia Langit, Dewa Perang benar-benar ingin memukulnya juga.
Setelah urusan di alam sekuler selesai, Dewa Perang, Ye Jue serta Ming Zise harus kembali ke Alam Para Dewa lebih awal. Mereka harus segera melapor pada Dewa Pencipta Alam Para Dewa. Sedangkan Xiu Jimei serta yang lainnya pergi ke negara Shui untuk memastikan keadaan.
Mereka pergi pada sore harinya dan tiba saya pagi berikutnya. Karena peperangan dengan iblis Alam Neraka dan kelompok penyihir, banyak kerusakan di mana-mana. Wang Xuyue serta yang lainnya tidak ikut ke istana kekaisaran negara Shui. Mereka memilih untuk menunggu di perbatasan. Lagi pula, mereka tidak berkenalan dengan orang-orang itu.
__ADS_1
Xiu Jimei dan Xiu Jikai disambut oleh Kaisar Shui. Meski ada jejak kelelahan di wajahnya, sebagai kepala negara, Kaisar Shui bertanggungjawab untuk segalanya.
Tidak banyak yang dibicarakan selain Xiu Jimei dan Xiu Jikai yang berpamitan untuk kembali ke Dunia Langit. Orang yang paling enggan adalah Elder Chi.
"Nak, terima kasih sebelumnya karena telah menyelamatkan alam sekuler dari kehancuran," kata Elder Chi sangat emosional. Dia sudah tua dan rasanya sedang melepas cucu untuk berpetualang jauh.
"Tidak masalah. Semuanya demi kebaikan semua orang. Kalau begitu, kami pergi."
Si kembar di antar hingga luar gerbang istana kekaisaran. Setelah mengucapkan selamat tinggal, si kembar menghilang dari pandangan mereka. Keduanya muncul lagi tak jauh dari pintu masuk gerbang negara Shui. Sudah ada teman-temannya di sana.
"Apakah urusannya sudah selesai?" Wang Xuyue melihat jika kondisi negara Shui juga tidak terlalu baik.
"Ya, semuanya selesai. Ayo pergi." Xiu Jimei mengangguk.
Mereka semua segera kembali ke Dunia Langit melalui batu teleportasi spiritual yang diberikan Ming Zise.
Setibanya di Dunia Langit, mereka semua dipanggil ke Istana Langit untuk mendapatkan penghargaan dan hadiah. Pangeran Agung Zishu sendiri yang memberikan hadiah pada mereka. Semuanya berjalan dengan lancar. Tapi Xiu Jimei tidak mau hadiah apapun dan hanya meminta makanan di istana.
Kebiasaannya yang suka berbagai jenis makanan tidak membuat Zishu. Dia justru sengaja membuatkan berbagai jenis hidangan istana untuk menjamu mereka.
Tanpa diduga, Mye Shan juga ada di sana. Omong-omong, Mye Shan adalah kakek besar si kembar. Tidak tahu harus memanggil si kembar dengan sebutan apa, akhirnya hanya memanggil para cucu.
"Cucuku ada di sini. Apakah kalian merindukan Kakek Besar? Bagus, bagus!" Mye Shan sangat antusias ketika melihat si kembar.
Xiu Jimei yang sedang makan kue bulan tidak mempedulikannya sama sekali. "Datanglah untuk makan. Siapa yang datang untukmu? Buang-buang waktu," ucapnya.
"..." Kamu lebih buruk daripada ibumu, batin Mye Shan sama sekali tidak menganggapnya serius.
Mengetahui apa yang terjadi di alam sekuler, Mye Shan datang ke sini untuk mencari tahu kelanjutannya.
Sebenarnya, Mye Shan juga memberi tahu Fu Chan Yin serta Xiu Jichen tentang masalah ini. Namun keduanya tidak memiliki kekhawatiran. Dia tahu semua ini pasti diatur oleh Xiu Jichen. Setelah di kembar lahir, pria itu tidak sabar untuk membawa istrinya berkeliling dunia.
__ADS_1
Mye Shan agak tidak puas tapi untungnya si kembar diberkati para dewa dan tumbuh dengan baik.