Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Akhir Dari Perang (5)


__ADS_3

Ketika Dewa Pencipta Alam Semesta menggunakan kekuatannya untuk mengambil jiwa, Lu Zheng berteriak kesakitan. Tubuhnya mulai berasap. Sensasi panas seperti terbakar membuat Lu Zheng ingin pingsan. Tapi tidak bisa pingsan sama sekali.


Ia sangat tidak rela untuk mati dengan cara seperti ini. Dia belum mencapai tujuannya. Bagaimana bisa berakhir dengan cara seperti ini?


Seberapa kuatnya Lu Zheng ingin melarikan diri, nyatanya hanya ilusi semata. Siapa itu Dewa Pencipta Alam Semesta? Lu Zheng terlalu sombong akhir-akhir ini hingga lupa siapa yang menjadikannya dewa di masa lalu.


"Argghhh!! Tidak! Aku tidak bisa mati! Aku tidak bisa mati!" Lu Zheng berteriak.


Tubuhnya yang berasap kini melepuh sedikit demi sedikit. Dewa Pencipta Alam Semesta tidak menunjukkan ekspresi apapun. Jiwa Lu Zheng perlahan diekstrak di tangannya.


Hingga sebelum sosok Lu Zheng benar-benar kehilangan vitalitas dan bentuk, energi spiritual iblis dari tubuhnya lenyap tak tersisa. Sosok Lu Zheng akhirnya berubah menjadi serpihan cahaya dan berkumpul di telapak tangan Dewa Pencipta Alam Semesta.


"Kebaikan akan dibalas dengan kebaikan. Kejahatan akan mendapatkan karma nya. Karena ambisi untuk menjadi serakah, maka kami tak bisa bereinkarnasi di masa depan." Dewa Pencipta Alam Semesta meremas kumpulan serpihan cahaya itu hingga akhirnya lenyap dari telapak tangannya.


Beilong sangat marah dan enggan untuk menyapa Dewa Pencipta Alam Semesta. Dia memilih untuk tidur. Kedua matanya masih harus dirawat cukup lama. Ini menyebalkan!


Dewa Pencipta Alam Semesta tidak turun ke Alam Para Dewa. Dia hanya memberikan berkahnya.


"Semua alam akan kembali seperti semula dan menjadi lebih sejahtera." Dewa Pencipta Alam Semesta memejamkan mata.


Cahaya di seluruh tubuhnya tampak bersinar lebih terang dan sangat terang. Ketika cahayanya redup, sosoknya sudah tidak ada lagi.


Namun di balik awan-awan, cahaya terang itu seperti membawa jejak kehangatan untuk seluruh alam yang diciptakan. Tanah-tanah yang rusak, pepohonan yang tumbang bahkan tempat yang hancur sekalipun tampaknya meregenerasi sendiri.


Kecuali untuk alam sekuler yang lebih rendah, bencana alam yang parah seperti tersapu habis oleh cahaya matahari. Membuat semua penghuninya bersorak. Semua manusia berlutut dan berterima kasih pada dewa.


Perubahan besar terjadi di Alam Para Dewa, Alam Neraka, Dunia Langit, Istana Langit, Dunia Bawah, Dunia Hantu serta alam lainnya yang dikehendaki Dewa Pencipta Alam Semesta.


Dunia mereka bukan hanya kembali seperti semula, tapi juga penuh vitalitas.


Xiu Jikai berdiri di samping Whitley. Melihat langit cerah berawan. Menghirup udara dalam-dalam. Energi spiritual di udara sangat halus.


"Rasanya seperti mimpi," gumamnya.

__ADS_1


"Ya. Apa yang terjadi di Alam Para Dewa?" Whitely bertanya-tanya.


"Apapun itu, pasti hal yang baik. Lu Zheng dan Ning Siyu harusnya sudah mati." Xiu Jikai menebak.


Whitely mengangguk. "Ini hal bagus. Dengan begitu, perang ini berakhir."


Dunia Langit sangat subur sekarang. Tanah berumput yang di bawah kakinya sangat segar. Bahkan rusa-rusa serta binatang roh pemakan rumput keluar dari tempat persembunyian. Mereka memakan rumput segar dan meminum air sungai yang jernih.


Kemudian mereka melihat mentari bersinar terang dari timur.


"Ternyata ini sudah pagi lagi. Hari-hari buruk kita sebelumnya telah berakhir. Rasanya aku ingin tidur nyenyak sekarang." Blacky menguap.


Kemudian mereka mendengar suara phoenix di udara. Rupanya itu adalah Tuit Tuit yang terbang bebas di langit. Ukurannya yang besar membuat mereka memujinya.


"Ck, benar-benar phoenix api yang sombong!" gumam Blacky kesal.


Namun selain Tuit Tuit yang terbang, ada seekor burung merak biru mengikutinya dengan panik.


"Dewiku, tunggu! Kamu tak bisa meninggalkanku begitu saja! Kursi Dewi Binatang adalah milikmu. Aku rela menjadi budak!" teriak Dewa Binatang tanpa malu.


Tanpa diduga, Blacky yang mendengar pertengkaran keduanya langsung tertawa. "Dewa juga akan merendahkan diri untuk seorang wanita. Ini ... menarik."


Whitely, Bluewy dan Reddish tersenyum penuh arti. Roh Bunga sudah pergi ke suatu tempat untuk menumbuhkan beberapa bunga di berbagai tempat. Dengan begitu, semua wilayah Dunia Langit akan penuh dengan bunga.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di sisi lain, Xiu Jimei yang tertidur pulas tampaknya bangun. Ia menguap, mencoba menggerakkan tubuhnya yang sakit. Tapi tubuhnya masih cukup sakit. Terutama pinggangnya.


Ia melihat sinar mentari pagi menyusup dari celah jendela. Lalu berkedip beberapa kali.


"Apakah ini sudah pagi? Apakah perang berakhir?" gumamnya.


Xiu Jimei bangun perlahan dan keluar Istana Golden Lotus. Ia terkejut dengan pemandangan di sekitarnya. Bukan hanya sangat hijau dan segar tapi energi spiritual juga sangat kayak.

__ADS_1


Langit cerah berawan. Semilir angin pagi menyejukkan tubuh. Belum lagi, bunga-bunga liar tumbuh subur.


Xiu Jimei melihat gumpalan cahaya dari langit, turun ke arah dirinya. Ia sedikit waspada. Namun gumpalan cahaya itu tampaknya tidak berniat jahat sama sekali.


Ketika gumpalan cahaya putih sejajar dengannya, perlahan sosok Dewa Pencipta Alam Semesta terbentuk. Xiu Jimei kaget. Selain dia tak bisa merasakan energi spiritualnya sama sekali, ia juga tampak dekat dengannya.


"Kamu ..." Xiu Jimei tidak pernah melihatnya di suatu tempat sehingga ragu untuk bertanya.


Dewa Pencipta Alam Semesta tidak mengatakan apa-apa. Dari telapak tangannya terbentuk sebuah kalung berliontin phoenix. Ia memberikannya pada gadis itu.


"Mulai sekarang, alam sekuler akan diserahkan padamu," ucapnya.


"Hah? Alam sekuler?"


Apa hubungannya alam sekuler dengan kalung itu? Xiu Jimei bingung namun tanpa sadar sudah menerima kalung tersebut. Ketika dia tersadar kembali dari lamunan, sosok Dewa Pencipta Alam Semesta sudah menghilang dari pandangannya. Xiu Jimei hanya melihat serpihan cahaya seperti kunang-kunang beterbangan ke langit.


Pada saat yang sama, Ming Zise kembali dengan Xiu Jichen dan Xiu Jikai.


"Mei'er." Ming Zise menyapanya.


Xiu Jimei yang masih bingung teralihkan oleh suara itu. Ia melihat Ming Zise, ayah dan kakaknya sudah kembali.


"Di mana ibu?" tanyanya.


"Ibu kelelahan dan akhirnya pingsan. Jangan khawatir, dia baik-baik saja," jawab Xiu Jichen.


Ming Zise sepertinya melihat Xiu Jimei terlihat linglung. "Ada apa?"


Xiu Jimei menunjukkan kalung berliontin burung phoenix yang terbuat dari kristal berkualitas. Sangat indah dan tampak mahal.


"Dari mana benda ini?" Xiu Jikai melihatnya. "Aku yakin Alam Para Dewa bahkan tak akan memilikinya," candanya.


"Seseorang memberikannya padaku. Dia sangat tampan, melebihi kalian. Berhanfu putih bersih dan rambutnya sangat putih. Ada cahaya hangat menyelimutinya. Tidak tahu siapa dia. Tapi tiba-tiba memberiku ini dan mengatakan jika alam sekuler akan diserahkan padaku," jelas gadis itu.

__ADS_1


Ketiga pria di sana saling melirik. Kemudian Ming Zise dan Xiu Jichen sepertinya tahu siapa yang dibicarakan tapi tak mau mengatakannya. Xiu Jikai merasa ada yang aneh dan ingin bertanya. Namun Xiu Jichen menyumpal mulut putranya dengan roti yang dikeluarkan dari ruang penyimpanan spiritual.


"Karena itu diberikan, maka pakai saja. Mungkin akan ada kejutan di masa depan," ujar Xiu Jichen merasa lega.


__ADS_2