
Mereka tidak tahu apakah itu benar atau tidak jadi harus memastikannya sendiri. Kelompok Xiu Jimei pergi ke arah Utara seperti yang dimaksud oleh Meng Meng.
Mereka memang melihat ada gua yang cukup besar di kaki bukit. Dan gua itu terlihat sunyi. Tidak ada binatang roh apa pun yang berani berada didekatnya. Sepertinya memang berbahaya.
"Ayo periksa." Yan Yujie pergi lebih awal.
Saat memasuki gua api, mereka merasakan hawa panas yang mulai menyebar. Ada beberapa rumput kering di sisi gua, bebatuan serta sejenis kelelawar roh yang tergantung di langit-langit.
Gua tersebut cukup dalam. Xiu Jimei dengan mudah bisa menemukan beberapa batu api yang sedikit terkubur di tanah gua. Semuanya tidak menyeramkan seperti yang dikatakan Meng Meng.
"Di mana binatang roh yang ganas itu?" Wang Xuyue sama sekali tidak merasakan ada ancaman apapun.
Dia mengeluarkan Cip Cip dari cincin ruang spiritualnya. Cip Cip sendiri merasa sangat nyaman karena gua tersebut begitu hangat. Cocok untuk tidur-tiduran.
Harimau putih roh kuno juga dikeluarkan oleh Xiu Jimei agar bisa dijadikan tameng jika seandainya ada bahaya apapun. Harimau itu sendiri belum tahu jika dirinya siap dikorbankan kapan saja.
"Alam sekuler ini sungguh rendah. Aku tidak pernah begitu lemah selama ini selain hari ini. Aku ingin kembali ke ruang spiritual bawaan mu." Harimau putih roh kuno mengeluh.
"Zebra, kamu harus semangat. Ini hanya gua, jangan takut." Xiu Jimei tidak memakan pertunjukannya dan menepuk tubuh harimau putih yang gemuk itu.
"..." Tidak bisakah kamu berpura-pura tidak tahu secara alami? Pikir harimau putih roh kuno.
"Berapa panjang gua ini? Semakin dalam hawanya semakin panas." Kin Wenqian merasa jiwa wajahnya mulai memerah saat ini.
"Benar. Ini tidak normal." Xuan Xing mengangguk.
Pada akhirnya mereka melihat sebuah cahaya jingga kemerahan yang tampaknya sangat panas. Setelah mencoba mendekatinya, ternyata ada kolam lava yang sangat besar.
Di atas mereka merupakan sebuah lubang yang tidak terlihat besar. Lubang itu tidak tembus hingga ke puncak gunung. Mungkin jarang sebelum meletus.
Hanya saja hawanya memang sangat panas. Jika mereka tidak melindungi diri dengan array pelindung, mungkin sudah lama menjadi ikan asin.
"Wow! Ini luar biasa. Apakah belum meletus?" Wang Xuyue merasa takjub saat melihat kolam laga yang sangat banyak.
__ADS_1
Ada letupan kecil di permukaannya, mungkin karena gas tertentu yang terkandung dalam tanah sehingga menyebabkan letupan-letupan di permukaan lava.
"Belum. Meng Meng bilang belum tadi."
"Kalau begitu pasti akan meletus dalam waktu dekat ini. Aku ingin tahu bagaimana rasanya menyaksikan gunung api meletus."
"Aku juga."
"Jarang sekali gunung meletus di Dunia Langit. Selama aku hidup hingga hari ini, tidak ada satu pun gunung api yang meletus. Ibu berkata waktunya memang lama." Xuan Xing juga penasaran.
Dia tinggal di daratan es yang dipenuhi oleh hawa dingin. Tidak ada gunung api di tempatnya sehingga sangat penasaran saat ini. Ibunya adalah kultivator es dari negeri jauh yang kebetulan bertemu ayah dan keduanya menikah. Saat itulah Xuan Xing lahir.
Ibunya juga belum pernah melihat gunung api meletus secara langsung.
"Gunung ini mungkin akan meletus saat kita masih di alam sekuler. Pantau saja." Wang Xuyue menghiburnya.
Mereka segera mencari tanaman roh api, bunga-bunga atau lain sebagainya yang mengandung api demi menyelesaikan tugas ini.
Ming Zise mengawasi dari kejauhan dan sesekali akan mengerutkan kening. Suasana gua yang terlalu sepi membuatnya berpikir jika ada sesuatu di tempat ini yang tidak baik.
Semuanya berpencar untuk mencari sesuatu yang berguna. Xiu Jimei ditemani Ming Zise, membuat Xiu Jikai menggertakkan gigi. Adiknya mulai dicuri pria itu, membuatnya kesal.
Sedangkan Ming Zise hanya tersenyum padanya dan mengikuti Xiu Jimei seperti suami yang patuh pada istrinya.
Mau tidak mau, Xiu Jikai hanya bisa memalingkan wajah dan mencari tempat lain untuk mengumpulkan rumput api.
Ketika melihat seekor ular merah seukuran jari kelingking keluar dari sudut gua, Xiu Jikai menginjaknya seperti membunuh semut. Dia sangat kesal.
"Ming Zise, awas saja jika kamu macam-macam pada adikku!" gumamnya.
"Xiao Kai, apa yang kamu gumam kan? Kenapa begitu kesal?" Jia Lishan tak jauh darinya sedang mengambil beberapa batu api ukuran sedang.
"Tidak apa-apa, hanya membunuh ular yang merepotkan." Xiu Jikai mencari alasan.
__ADS_1
Tapi tiba-tiba saja dia melihat ular merah kecil yang diinjaknya sudah mati. Lalu menaikkan sebelah alisnya. Dia hampir lupa jika ular ini merupakan sejenis ular roh api yang sering dilihat berada di dekat sumber panas.
Ular roh api?
Xiu Jikai memperhatikan sekitarnya. Luas kolam lava memang luar biasa, mengingat jika gunung api juga besar. Lalu di sekelilingnya ada beberapa cabang gua yang sedikit lebih tinggi dari pria dewasa kebanyakan. Dia mulai berpikir, apa yang ada di cabang gua itu?
Ular roh api muncul tiba-tiba dari sisi gua, kemungkinan ada sarangnya bukan?
Jika itu benar, maka yang dikatakan Meng Meng tidak salah. Ada binatang roh ganas di tempat ini yang telah menelan banyak korban. Mungkinkah itu ular roh api raksasa?
Yang dibunuh Xiu Jikai hanyalah ular roh api yang masih kecil. Belum terlalu berbahaya. Namun dia khawatir hal ini memancing kemarahan ular roh api lainnya.
"Aku ceroboh," gumamnya lagi.
Sementara itu, Xiu Jimei sudah mendekati kolam lava. Dia melihat tempat tersembunyi di bawah sana yang hampir tersentuh oleh cairan lava. Dia turun untuk mengambilnya.
"Xiao Mei, apa yang kamu lakukan? Jangan turun, ini berbahaya," kata Ming Zise.
"Bahkan jika aku tercebur ke lava, tubuhku akan kembali utuh. Guru, kamu mungkin tidak tahu, aku ini bisa meregenerasi tubuh, jadi tidak apa-apa."
Ming Zise tahu itu. Tapi dia tidak mau Xiu Jimei mengalami kecelakaan bahkan jika dirinya bisa membentuk tubuh baru. Selama jiwanya baik-baik saja, gadis ini selalu melakukan apa yang diinginkannya selama seratus tahun terakhir.
Cukup bagi Ming Zise melihatnya mengorbankan diri untuk terus mendukung teman-temannya. Hanya demi mempertahankan pertemanan, Xiu Jimei selalu rela melakukan apa saja.
Saat ini Xiu Jimei sudah turun ke depan lava yang meletup-letup. Jika Xiu Jikai tahu, pasti sudah berwajah hitam sejak lama. Adiknya kembali melakukan sesuatu yang ceroboh.
Mau tidak mau, Ming Zise menemaninya turun. Diam-diam menggunakan energi spiritualnya untuk membuat pembatas agar lava tidak memercik ke tubuh gadis itu.
"Guru, coba lihat apa itu?" Xiu Jimei menunjuk ke tempat yang agak tersembunyi tak jauh dari sisi kolam lava.
Ada bebatuan yang tampaknya sengaja disusun rapi di dekat benda yang dimaksud Xiu Jimei.
"Telur?" Ming Zise menaikkan sebelah alisnya.
__ADS_1
Ada telur roh api di tempat seperti ini?
Mungkinkah sejenis binatang roh api yang bersiap untuk menetas?