Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Mencari Tanaman Herbal


__ADS_3

Whitely tidak tahu apa yang dimimpikan Xiu Jimei. Dia tidak bisa memasuki mimpi siapapun. Ia sendiri jarang bermimpi. Lagi pula, mimpi apa yang akan dimiliki oleh seekor naga? Bukankah hanya memikirkan benda berkilau dan uang perak dan emas?


White tidak mau mengakuinya tapi ia agak suka mengumpulkan barang berkilau.


Di saat dia sedang berpikir, Blacky sudah bertengkar dengan Tuit Tuit. Keduanya berkelahi di tempat. Tuit Tuit ingin menendangnya tapi Blacky menahan kepalanya dengan sombong.


Hanya anak kecil yang baru tumbuh, bagaimana bisa menendangnya, orang dewasa?


Bluewy dan Reddish tidak mau menengahi. Keduanya terlalu malas untuk ikut campur. Bluewy menatap Whitely yang sibuk dengan pikirannya.


"Mendengar cerita anak majikan, mimpi itu harusnya menjadi takdir yang ditetapkan. Mungkin rintangan hidup kultivator yang melawan langit," jelas Bluewy.


"Rintangan hidup kultivator? Bukankah semua manusia memilikinya?" Reddish mengerutkan kening.


Bluewy menggelengkan kepala. "Tidak. Rintangan hidup kultivator yang dimiliki anak majikan mungkin berkaitan dengan kesengsaraan tiga tingkat. Kesengsaraan ujian hidup, cinta dan kematian."


Ada keheningan untuk sementara waktu. Rupanya, Blacky dan Tuit Tuit juga mendengarnya. Terutama Tuit Tuit. Setelah mendengar apa yang dikatakan Bluewy, ia teringat dengan kesengsaraannya sendiri selama masih mending dewa binatang saat ini.


Para dewa akan memiliki rintangan kultivasi di setiap hidupnya. Bahkan ada yang berkultivasi tapi pada akhirnya mandek karena suatu alasan. Oleh karena itu, untuk melewati kesengsaraan kultivasi, dewa juga harus menghilangkan akar masalahnya. Dan yang paling mengerikan adalah ... membunuh orang yang paling dicintai.


Bagi para dewa, cinta bukan suatu yang tidak boleh dilakukan. Tapi jarang bagi para dewa-dewi untuk menikah dan memiliki keturunan. Mereka khawatir akan terkena kesengsaraan kultivasi. Membunuh orang yang dicintai pasti menyakitkan.


Namun jelas Xiu Jimei tidak memiliki kesengsaraan cinta. Dia adalah keturunan Mye Ai—wanita yang berani mencuri buku takdir dan mengubah takdir putrinya.


Ada kemungkinan besar, Xiu Jimei akan mengalami kesengsaraan kematian bukan? Tuit Tuit menebak hal tersebut karena Xiu Jimei sangat jarang mengalami masalah bahkan tak bisa mati begitu saja. Jadi ... mungkinkah kesengsaraan kematian?


"Apapun yang terjadi di masa depan, aku tidak akan membiarkan tuan mengalami kecelakaan!" Tuit Tuit berkata dengan percaya diri.


Blacky meliriknya dan mencibir. "Apa yang bisa dilakukan burung kecil yang belum tumbuh bulu sepertimu? Tertiup angin saja sudah jatuh ke tanah," ejeknya.


Tuit Tuit marah hingga wajahnya memerah. "Dasar ular hitam jelek! Kamu hanya itu karena tidak bisa terbang! Kenapa kamu tidak menumbuhkan sayap dan melawanku!"

__ADS_1


Gadis kecil itu berubah menjadi burung phoenix kecil berbulu jingga kemerahan, lalu mematuk kepala Blacky tanpa ampun.


"Ahh! Apa yang kamu lakukan! Hentikan!" Blacky merasakan kesemutan di kepalanya, ingin menangkap burung kecil yang menyebalkan itu.


Tapi Tuit Tuit pandai terbang dan udara adalah lingkungan alaminya. Jadi secara alami lebih lihai untuk menghindar ketimbang saat menjadi manusia.


Blacky semakin kesal setelah beberapa kali hanya menangkap udara kosong. Burung phoenix kecil itu jelas ada di depan matanya tapi kenapa sangat sulit untuk ditangkap. Bahkan berani mencabut rambutnya.


"Lihat saja saat aku berhasil menangkapmu, pasti akan kumakan dalam satu kali suapan!" Blacky menggertakkan gigi.


"..." Bluewy, Reddish dan Whitely yang menonton berpura-pura tidak melihat apapun.


Sementara itu di luar ruang spiritual bawaan.


Xiu Jimei tidak tahu jika keributan kecil terjadi di dalam. Dia serta yang lainnya baru saja sarapan seraya menunggu hujan reda. Xiu Jimei membuat nasi goreng komplit. Aroma mentega bercampur nasi sangat menggugah selera. Terlebih lagi saat diberi bumbu, aromanya lebih terasa.


Pagi ini, mereka bukan hanya makan sup ayam, tapi juga nasi goreng. Tak lama setelah sarapan, hujan reda. Matahari juga mulai naik, mengusir awan kelabu yang tersisa.


Ia hanya memakai gaun selutut dengan lengan terbuka. Tapi secara keseluruhan masih sopan dan enak dipandang.


"Pasti ada banyak nyamuk juga di hutan." Wang Xuyue sudah sedia dengan lotion anti nyamuk.


"..." Xiu Jimei tidak menyiapkan apapun. Jangankan nyamuk, kupu-kupu saja tidak akan berani menciumnya.


Setelah beres-beres tenda dan mematikan api unggun, mereka melakukan perjalanan untuk memenuhi tugas.


Jia Lishan membuka gulungan tugas. "Eh, apakah gulungan tugas diperbarui?" tanyanya merasa heran.


"Ada apa?" tanya Xiu Jikai.


"Kita bukan hanya diminta untuk mengumpulkan tanaman herbal dan racun tapi juga pergi ke sebuah desa obat untuk mengikuti proses pembuatan obat dan racun juga?" Jia Lishan merasa tidak yakin dengan apa yang baru saja dibacanya.

__ADS_1


Xuan Xing juga membuat gulungan tugas, lalu terkejut. Reaksinya sama seperti Jia Lishan. "Ini tidak masuk akal," gumamnya.


Pada akhirnya, mereka berhenti sebentar untuk mendiskusikannya. "Seberapa jauh keberadaan desa obat dengan tempat kita sekarang?" tanya Xiu Jimei.


"Cukup jauh." Xiu Jikai melihat peta pedesaan yang muncul di gulungan tugas. "Jika berjalan kaki, kita butuh setengah hari untuk sampai ke sana."


"Tapi kita bahkan belum mengumpulkan bahan obat dan racunnya." Xuan Xing mengangguk.


"Mari kita lakukan hari ini dan pergi besok. Lagi pula, ujian ini tidak terlalu terburu-buru." Xiu Jimei mengambil keputusan.


Mereka semua mengangguk, kemudian melanjutkan perjalanan.


Di saat memetik beberapa tanaman herbal yang tumbuh di sekitar, tiba-tiba saja terdengar teriakan yang agak mencekam. Teriakan itu lebih mirip jeritan.


Wang Xuyue yang tengah hati-hati menggali tanaman beracun dengan daun runcing tak sengaja tertusuk durinya. Ia meringis dan kesal dengan suara teriakan yang melengking itu.


"Siapa itu? Kenapa teriakannya sangat mirip dengan hantu di tengah malam?" tanyanya marah. Walaupun dia tidak pernah tahu seperti apa sosok hantu yang berteriak di tengah malam.


Jarinya yang tertusuk duri tanaman beracun sedikit kesemutan. Untungnya bukan jenis tanaman beracun yang mematikan. Jarinya yang tertusuk hanya bengkak dan memerah. Xuan Xing membantunya meredakan bengkak di jari Wang Xuyue menggunakan kompres es.


Yang lain juga menebak asal suara itu. Dan sepertinya Xiu Jikai menebak siapa yang berteriak.


"Hanya ada satu orang yang berani berteriak seperti itu," katanya.


"...??!" Yang lainnya tidak mendapatkan pencerahan sama sekali.


Si kembar akhirnya bicara bersamaan. "Yan Yujie."


Akhirnya mereka sadar jika Yan Yujie tidak ada sejak tadi pagi. Bukankah laki-laki itu pergi ke sungai untuk memandikan anak beruang? Sepertinya belum kembali sejak mereka memutuskan untuk berangkat.


Jia Lishan berdecak kesal. "Jika dia tidak berteriak, aku tidak mengingat keberadaannya sama sekali."

__ADS_1


Yang lainnya merasa bahwa Yan Yujie sangat malang saat ini. Akhirnya mereka segera pergi ke arah suara untuk mengecek keadaan Yan Yujie.


__ADS_2