
Beilong meremehkan kekuatan Lu Zheng hingga tidak waspada terhadap serangan tersembunyi. Ketika matanya ditusuk, dia meraung dan menggoyangkan kepalanya. Membuat embusan angin dia sekitarnya menjadi lebih kencang.
Suaranya yang nyaring hampir membuat gendang telinga mereka semua pecah.
Mata kiri Beilong terluka, darah segar keluar. Ia mengandalkan mata kanannya saat ini. Jelas sangat marah dengan tindakan Lu Zheng.
"Iblis kecil yang berani!" Beilong kali ini tidak membiarkan Lu Zheng untuk mendekati matanya lagi.
Lu Zheng terbang semakin tinggi hingga tubuh Beilong harus mundur untuk mengejarnya. Tidak tahu apa yang ingin dilakukan Lu Zheng. Namun Beilong penuh dendam hari ini.
Mata kirinya butuh waktu untuk sembuh. Bagaimana mungkin dia tidak marah.
"Ke mana dia pergi?" Dewa lain penasaran.
"Sepertinya Lu Zheng ingin menemukan ekor Beilong. Jika dia mampu memotong ekornya, Beilong akan kehilangan kekuatan," jawab Dewa Pencipta Alam Para Dewa.
"Beilong sangat besar. Di mana ekornya berada?"
"Siapa yang tahu." Dewa Pencipta Alam Para Dewa menggelengkan kepala.
Tidak ada yang menyusul Lu Zheng saat ini. Bukannya Dewa Pencipta Alam Para Dewa tidak mau membantu Beilong. Hanya saja Beilong sendiri sudah cukup untuk melawan Lu Zheng.
Sementara itu, Ming Zise yang telah mengonsumsi energi spiritual terlalu besar merasa pusing dan hampir pingsan. Untungnya Dewa Pencipta Alam Para Dewa menahan tubuhnya.
Wajah Ming Zise sangat pucat saat ini. Dewa Pencipta Alam Para Dewa menggelengkan kepala.
"Kamu harus berpura-pura kuat di depan Lu Zheng. Apakah ini takut ketahuan lemah?" candanya.
Ming Zise tersenyum lemah. "Ini terlalu memalukan. Jika bukan karena energi spiritual yang diberikan Mei'er padaku, tidak mungkin untuk memanggil Beilong."
"Jika gadis itu tahu tentang Beilong, mungkin sudah lama memanggilnya," gumam Dewa Pencipta Alam Para Dewa.
Tidak tahu apa yang terjadi di balik awan, suara Beilong masih terdengar nyaring.
__ADS_1
Saat ini di balik awan, Lu Zheng mengepakkan sayap menghindari serangan Beilong. Ia mencari ekor naga raksasa itu. Karena ukurannya yang besar, Lu Zheng tampaknya telah menjelajahi hampir seluruh langit.
Beilong tampaknya mengikuti di belakang, mencoba untuk mengejarnya. Sesekali akan menyemburkan api hitam untuk membakar Lu Zheng. Namun Lu Zheng cukup gesit hingga mudah menghindari serangannya.
Ketika akhirnya menemukan ekor Beilong, Lu Zheng tidak ragu untuk mengembunkan beberapa anak panah raksasa.
"Iblis kecil, rupanya kamu mengincar ekorku." Beilong sangat marah hingga lupa jika ekor adakah kelemahan terbesarnya.
Namun terlambat bagi Beilong untuk menghentikan serangan Lu Zheng. Puluhan anak panah raksasa melesat menuju ekornya. Beilong meraung kesakitan ketika anak panah itu berhasil melukai ekornya.
Hal ini menyebabkan keseimbangan di langit terganggu hingga awan gelap di sekitarnya juga tersapu.
Pada saat yang bersamaan, awan gelap yang menyelimuti Alam Para Dewa semakin tebal dan petir saling menyambar di mana-mana. Kondisinya semakin parah setelah Beilong meraung kesakitan.
Seperti yang diketahui, Beilong seperti menjaga langit Alam Para Dewa. Ketika dia mengalami masalah, Alam Para Dewa juga rentan untuk terkena bencana.
Lu Zheng tidak berhenti sampai di sana saja. Dia juga sengaja melukai mata Beilong yang satunya lagi sehingga naga raksasa itu menutup matanya secara spontan.
Tubuhnya bergerak liar. Lu Zheng hampir tersapu oleh ekornya. Namun dia kembali mengembunkan anak panah spiritual untuk melukai ekor Beilong.
Petir langsung menyambar daratan Alam Para Dewa. Para dewa-dewi panik saat ini.
"Jika dibiarkan seperti ini, Alam Para Dewa akan hancur. Dewa, pikirkanlah sesuatu." Dewa Binatang melirik Dewa Pencipta Alam Para Dewa.
Ternyata Dewa Pencipta Alam Para Dewa juga berwajah pucat saat ini. Ciptaannya sendiri, kini mengalami masalah. Beilong bukan tandingannya. Tentu saja semua ini disebabkan oleh Lu Zheng.
"Aku—"
Sebelum Dewa Pencipta Alam Para Dewa memutuskan untuk melakukan tindakan pencegahan, tiba-tiba saja pusaran awan gelap muncul di langit. Sebuah gumpalan cahaya putih yang sangat menyilaukan muncul dari pusaran awan tersebut.
Semua dewa-dewi melihat gumpalan cahaya itu, merasa tubuh mereka lemah tanpa alasan. Bahkan tanpa sadar, mereka semua berlutut.
Dewa Pencipta Alam Para Dewa sepertinya menebak sesuatu dan dia berlutut dengan penuh khidmat.
__ADS_1
"Dewa Pencipta Alam Semesta," ujarnya.
Semua dewa-dewi menunduk setelah berlutut, menyambut kedatangan Dewa Pencipta Alam Semesta. Gumpalan cahaya putih itu seketika berubah menjadi sosok pria berhanfu putih tanpa noda. Rambut putihnya yang panjang sedikit berkibar.
Namun Dewa Pencipta Alam Semesta tidak turun, hanya berhenti di udara, menatap semua para dewa-dewi yang berlutut padanya.
"Kalian semuanya telah menderita banyak keluhan. Sepertinya sudah waktunya bagiku untuk menangani sisanya."
Dewa Pencipta Alam Semesta diselimuti oleh cahaya putih yang menghangatkan jiwa. Ia datang karena merasakan Beilong dalam keadaan tidak stabil. Kemudian, tatapan Dewa Pencipta Alam Semesta berlatih pada Ming Zise. Dia hanya tersenyum kemudian berubah menjadi serpihan cahaya yang menyilaukan. Lalu naik ke langit.
Seketika, Alam Para Dewa yang diselimuti oleh kegelapan dan badai petir tak ada habisnya, berubah tenang. Dari hujan deras menjadi rintik-rintik. Awan gelap berubah kelabu lalu putih.
Pada saat yang bersamaan, terjadi ledakan besar di balik awan dan cahaya yang menyilaukan terlihat samar-samar.
Di balik awan, Beilong yang mengamuk ditenangkan oleh Dewa Pencipta Alam Semesta.
"Tenanglah. Kedua matamu akan pulih nanti. Dan ekormu akan baik-baik saja." Dewa Pencipta Alam Semesta menyentuh dahi naga raksasa itu hingga membuat Beilong tenang seketika.
Sedangkan Lu Zheng yang memuntahkan darah, melihat sosok yang tak dikenalnya. "Siapa kamu?!" tanyanya sedikit gemetar.
Kekuatan pihak lain jauh lebih kuat daripada Beilong. Bahkan ribuan kali lebih kuat darinya. Mau tidak mau, Lu Zheng sepertinya dipaksa untuk berlutut tapi tidak mau. Tekanan energi spiritual di tubuhnya semakin ganas hingga membuat Lu Zheng Langsung berlutut.
Ia menggertakkan gigi, menatap pria berhanfu putih yang tampak agung. Ketampanannya melebihi apapun. Tidak ada jejak kemarahan sama sekali. Membuatnya semakin ketakutan.
Ini pertama kalinya Lu Zheng merasakan ketakutan yang mendalam lebih dari apapun.
"Sepertinya kamu sudah lupa siapa yang menjadikanmu dewa sebelumnya. Kamu telah melanggar banyak aturan yang kubuat bahkan mengkhianati sumpahmu sendiri padaku. Maka aku harus mengambil jiwamu kembali untuk pembalasan," tutur Dewa Pencipta Alam Semesta. Nada bicaranya tenang dan enak didengar.
Ketika Lu Zheng mendengar hal itu, satu tebakan di hatinya membuat tubuhnya semakin kaku.
"Dewa ... Dewa Pencipta Alam Semesta!" Lu Zheng tak menyangka jika dia sendiri yang akan datang untuk menghentikannya.
Tidak, dirinya belum kalah sama sekali. Ia hanya perlu pergi untuk bersembunyi sementara waktu. Lalu kembali lagi setelah Dewa Pencipta Alam Semesta pergi. Namun tubuhnya tak bisa bergerak sama sekali. Untuk mundur saja sangat sulit.
__ADS_1