Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Sepupu Xiu Jimei


__ADS_3

Kelompok Xiu Jimei tidak lagi peduli. Apakah hutan bagian dalam itu berbahaya atau tidak. Mereka hanya ingin tahu seperti apa di sana.


Mereka meninggalkan sarang beruang cokelat dan pergi melanjutkan perjalanan. Ming Zise mengikuti mereka tanpa mengeluh sedikitpun. Kali ini, neraka tidak lagi diikuti oleh burung kolibri biru yang menjadi mata-mata di tangan Kaisar Alam Baka.


Ada banyak bunga serta buah liar yang bisa dimakan. Apapun jenisnya, Xiu Jimei memanen semuanya untuk cadangan di perjalanan.


"Jalan yang bisa dilalui semakin kecil dan sulit dilewati. Haruskah kita membuat jalan sendiri?" Yan Yujie menebas beberapa semak tinggi di depannya.


"Buat saja. Khawatir ada ular yang berbahaya." Xiu Jimei setuju.


Mereka semua menebas semak tinggi sehingga jarak pandang ke sekitar menjadi lebih jelas. Beberapa ular beracun ditemukan pada semak-semak tinggi tersebut. Tanpa takut, Xiu Jimei membuangnya dengan tangan kosong, seolah-olah baru saja membuang sampah.


"..." Ular-ular beracun yang dibuang Xiu Jimei tidak berani mendekat. Mereka bisa mendeteksi aura yang sangat berbahaya di sekitar sehingga langsung melarikan diri.


Semakin jauh kelompok Xiu Jimei berjalan seraya menebas semak tinggi, ular beracun yang ditemukan juga semakin beragam. Tapi ular roh itu tidak besar atau kecil. Kebanyakan hanya selebar jari orang dewasa.


"Tidak akan menjadi sarang ular 'kan?" Wang Xuyue menebak.


"Aku tidak tahu. Sejak kapan ular suka tinggal di semak-semak tinggi?" Xuan Xing menggelengkan kepala.


Ming Zise ada di belakang Xiu Jimei, memperhatikan sekitarnya. Bagian hutan terdalam ini sangat lembap dan hanya sedikit cahaya matahari yang menyusup. Indera pendengaran dan penciuman Ming Zise lebih tajam dibandingkan para kultivator biasa.


Dia mendengar ada banyak desisan tak jauh dari kelompok Xiu Jimei berada. Dipastikan ada banyak ular. Untungnya, ular-ular beracun itu tidak berniat untuk berurusan dengan manusia.


"Jika menemukan ular beracun, buang saja. Jangan bunuh mereka," katanya pada mereka. "Jika dibunuh, maka sama saja dengan memprovokasi," imbuhnya.


"Ming Ming, ada berapa banyak ular beracun di sini?" Xiu Jimei meliriknya.


"Ini banyak, tidak tahu berapa. Tapi yang jelas ular-ular ini suka tinggal di semak-semak tinggi ..." Ming Zise berkata apa adanya.

__ADS_1


Jika bukan karena keberadaan Xiu Jimei yang ditakuti para binatang roh, mungkin ular-ular roh itu sudah menyerang mereka.


"Tidak heran kita menemukan banyak ular di semak-semak tinggi ini. Kalau begitu, biarkan saja mereka. Tapi tetap hati-hati, ular tetaplah bintang beracun. Jangan sampai kena gigitannya." Yan Yujie memperingati yang lainnya.


Pada akhirnya, mereka tidak lagi terkejut saat melihat puluhan ular yang ditemukan setiap kali menyingkirkan semak-semak tinggi. Setelah cukup lama menebas semak-semak, mereka mendengar percakapan beberapa orang tak jauh di depan.


Belum lagi terdengar desisan ular yang cukup tinggi, kemungkinan besar ada rombongan lain sedang bertarung.


"Bukankah sepupumu juga mengikuti lomba makan sebelumnya dan berhasil menang? Mungkinkah itu mereka?" Jia Lishan menebak. Dia cukup akrab dengan suara seseorang yang berteriak tak jauh di depan mereka.


"Ya, memang ..." Xiu Jikai mengangguk. "Aku akan melihatnya dulu." Dia segera menghilang dari pandangan mereka.


Tak jauh di depan, sekelompok kultivator sedang bertarung dengan seekor ular hijau tua. Ular itu memiliki batu merah spiritual di dahinya yang menjadi simbol raja ular di suatu tempat tertentu.


Ukuran ular tersebut setidaknya hampir setara dengan ular roh raksasa pada umumnya. Melihat keberadaan manusia di wilayahnya, ular hijau raksasa itu marah.


"Fu Yanchi! Awas!" Fu Yiyuan sebagai seorang kakak, langsung mendorong adiknya menjauh sebelum mulut ular hijau raksasa menggigit nya.


Fu Yanchi didorong menjauh. Dia melihat kakaknya langsung menggunakan pedang untuk menahan mulut ular hijau raksasa yang hampir saja mencaploknya.


"Kakak!" Fu Yanchi khawatir.


Kedua kakak beradik itu merupakan anak Fu Yixuan—kakak Fu Chan Yin. Fu Yanchi baru saja berusia lima puluh tahun dan dia masih tergolong sangat muda di dunia kultivator. Sedangkan Fu Yiyuan hampir seumuran dengan si kembar Xiu.


Keduanya adalah remaja laki-laki yang telah dilatih di keluarga Fu sejak kecil. Walaupun tak terlalu hebat seperti si kembar Xiu, namun di Sekte Alam Baka, keduanya juga memiliki prestasi yang tak kalah mengesankannya.


Fu Yiyuan berusaha keras memegang pedang dengan sekuat tenaga. Tanpa diduga, pedangnya tak mampu menahan taring seekor ular hijau raksasa. Pedang di tangannya langsung patah.


Ular hijau raksasa meremehkan Fu Yiyuan. Daging manusia itu sedikit lagi hampir mencapai mulutnya. Namun tanpa diduga, serangan dari arah lain membuat kepala ular hijau raksasa terpental ke samping. Fu Yiyuan pun lolos dari maut.

__ADS_1


Saat ini, Fu Yiyuan berkeringat dingin. Dia mencium bau busuk ular hijau raksasa sebelumnya dan hampir mual. Tidak tahu berapa banyak binatang roh yang telah menjadi santapannya. Atau mungkin juga ada korban manusia.


"Siapa yang membantuku?" Fu Yiyuan bangkit setelah menenangkan diri. Dia menjauh sebelum ular hijau raksasa kembali menyerang.


Fu Yanchi tidak tahu siapa yang menolong. Dia fokus pada kakaknya yang hampir saja menjadi santapan ular. Rekan-rekannya yang lain juga menghela napas lega. Mereka tidak memiliki kultivasi yang tinggi sehingga bukan lawan ular hijau raksasa. Ular itu kemungkinan besar berada di ranah langit atau ranah bumi.


"Kakak, apakah kamu baik-baik saja?" Fu Yanchi memastikan jika kakaknya tidak terluka.


Sayangnya, pedang satu-satunya yang dimiliki Fu Yiyuan patah, tidak bisa digunakan lagi.


Fu Yiyuan menggelengkan kepala. "Aku baik-baik saja, jangan khawatir. Siapa yang menolongku?"


Mereka akhirnya sadar jika orang lain yang bukan dari kelompok mereka telah menyelamatkan Fu Yiyuan. Sementara itu, ular hijau raksasa menggelengkan kepalanya akibat pusing lalu memperhatikan sekitar. Dia sudah lama melupakan keberadaan Fu Yiyuan dan kelompoknya.


"Siapa? Siapa yang berani menggertak ular ini?" teriak ular hijau raksasa tampak kesal.


"..." Siapa yang menggertak siapa? Tidakkah kamu malu? Batin kelompok Fu Yiyuan.


Tak lama setelah itu, Xiu Jikai muncul dari bayang-bayang dan menghampiri kelompok Fu Yiyuan. Dua bersaudara Fu akhirnya mengenali Xiu Jikai.


"Sepupu, kamu juga di sini?" Fu Yanchi terkejut. Jika Xiu Jikai di sini, maka Xiu Jimei juga di sini. Bagus! Dengan begitu, ular jelek itu pasti akan digertak oleh sepupunya yang cantik


Xiu Jikai mengangguk. "Sepertinya aku belum terlambat?"


"Tentu saja tidak." Rekan Fu Yiyuan merasa mendapatkan seorang penyelamat. "Pangeran Xiu, senang bertemu denganmu."


Jarang sekali bagi mereka melihat Xiu Jikai, anak dari mantan dewa iblis berkeliaran di Negeri Alam Baka. Jika Xiu Jikai ini tinggal di Negeri Alam Baka, pasti pria lain tidak akan percaya diri dengan penampilannya.


"Sepupu, di mana rombonganmu?" tanya Fu Yanchi.

__ADS_1


__ADS_2