
Di mata Shuilong, manusia itu lebih rendah dan hina. Mereka serakah dan penuh kemunafikan. Bagaimana mungkin para dewa memberi mereka berkah dan melindunginya? Sangat tidak masuk akal. Baiyura atau Whitely yang telah menjadi tuan para naga dari zaman binatang roh kuno, kenapa harus tunduk pada manusia?
Tidak bisa diterima! Ia akhirnya menyerang Whitely lagi tanpa memedulikan kedudukan ras antar naga. Hal tersebut membuat air laut tambah bergelombang.
Di sisi Xiu Jimei, para kultivator senior terus menggerakkan perahu dengan menggunakan energi spiritual. Layar yang telah diturunkan diberi tiupan angin kencang sehingga perahu besar mereka bisa berlayar lebih cepat menuju pantai.
“Ini tidak baik!” Salah satu kultivator senior berteriak lagi. “Elder Chi, tornado air itu menuju ke arah kita!”
Mereka yang mendengarnya seketika menoleh ke arah di mana tornado air berputar. Wajah mereka pucat dan bahkan hampir kehilangan kendali spiritual. Jika hanya satu, mereka masih bisa menghindarinya dengan hati-hati, namun ini tiga tornado air.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang? Haruskah kita berlutut dan bersujud pada Dewa Binatang atau memohon pada naga lautan untuk menyelamatkan kita?”
Bahkan kultivator yang sedikit lebih muda dari mereka langsung berlutut. Dia bersujud beberapa kali sambil meneriakkan permintaan maaf. Melihat pemandangan ini, para kultivator senior bingung.
Mereka sudah tua dan tidak tahu apakah Dewa Binatang bisa mengasihani mereka. Minta naga yang muncul di lautan untuk tidak membunuh mereka?
Sudut mulut Xiu Jimei berkedut setelah melihat pemandangan tersebut. Dia berdiri dengan tenang di atas tiang layar yang tidak terlalu besar. Lalu tak bisa menahan diri untuk berucap.
"Bodoh!" ujarnya, ingin tertawa tapi tidak mau mengejek mereka. Lagi pula, mereka tidak tahu apa-apa, tak bisa disalahkan.
Bahkan Xiu Jimei yang sedikit bergumam saja langsung diketahui oleh pihak lain. Mereka langsung mengerutkan kening, waspada.
"Siapa itu?" Salah satu kultivator senior melihat sekeliling untuk melihat pemilik suara asing tadi.
Mereka akhirnya menemukan sosok Xiu Jimei di atas tiang, mau tidak mau terkejut. Sejak kapan gadis itu ada di atas sana? Mungkinkah juga sama mencari naga dan phoenix atau ....
Mereka tak bisa membaca kultivasi Xiu Jimei. Tubuh gadis itu sangat misterius seolah-olah ada kekuatan yang besar melindunginya. Mau tidak mau, mereka berkeringat dingin. Belum lagi, Xiu Jimei terlalu cantik untuk seorang gadis di alam sekuler. Wanita tercantik di tempat mereka tidak secantik Xiu Jimei.
Jadi saat pertama kali melihat Xiu Jimei yang sangat cantik, mereka sempat linglung sejenak. Tapi para kultivator tua yang sudah memiliki anak dan cucu tidak terlalu peduli.
__ADS_1
"Siapa kamu??" tanya Elder Chi, tidak dingin atau hangat. Intinya, mereka tidak ingin mencari masalah di saat perahu menghadapi badai dan tornado air.
"Tidak penting siapa aku, lagi pula, kalian tidak akan mampu membeli identitasku," kata Xiu Jimei datar. "Tapi ... aku bisa membantu kalian untuk segera tiba di garis pantai," imbuhnya lagi.
Mereka curiga. Tidak ada bantuan tanpa imbalan di dunia ini.
"Apa maumu?"
"Oh, mauku? Setidaknya kalian bisa membawaku bertemu dengan peramal yang dimaksud," jawab Xiu Jimei lagi.
Dia ingin tahu apakah pihak lain yang meminta mereka menemukan naga dan phoenix memang seorang peramal atau penyihir. Jika peramal, dia ingin tahu, apakah kemampuannya lebih hebat dibandingkan Wang Zheming?
"Bertemu peramal?" Kultivator senior akhirnya menyadari jika kemungkinan lain gadis itu mendengar pembicaraan mereka sebelumnya. "Kamu, kamu ... Apa yang kamu tahu?"
"Tidak tahu." Xiu Jimei mengangkat bahunya sedikit. "Menemukan naga dan phoenix bukan tugas peramal. Itu saja."
Mereka masih penasaran namun tornado air semakin mendekat ke arah perahu mereka. Semuanya panik dan berusaha sekeras tenaga untuk menggerakkan perahu lebih cepat. Tapi gelombang air laut karena badai membuat kecepatan mereka melambat.
"Baiklah, Nona, tolong kami. Selama kamu bisa membawa kami ke tepi pantai dengan selamat, kami akan membawamu menemui peramal itu." Seorang pria tua yang telah melalui banyak hal langsung berjanji dengan tenang. Lagi pula, tidak jarang seseorang menjanjikan hal-hal ini.
Xiu Jimei tidak berkata apa-apa lagi. Dia melompat ke ujung depan perahu yang terombang-ambing.
"Reddish!" panggilnya.
Mereka tidak tahu siapa yang dipanggil gadis itu. Namun tak lama kemudian, seekor merak merah spiritual muncul dari udara kosong, sedikit mengeluarkan suara marah.
Ketika muncul, merak itu memarahinya. "Kamu tidak tahu malu! Memanggilku di lautan, apakah kamu pikir aku ini ikan?!"
Xiu Jimei mencibir. "Kamu bisa terbang. Jangan banyak omong dan atasi tornado air itu untukku!"
__ADS_1
"Aku ini mahir dalam gulungan array dewa tapi tidak dengan gulungan air di udara"
"Tidak berguna!" Xiu Jimei langsung menendang merak merah itu dari perahu.
Reddish berteriak saat hampir jatuh ke laut dan segera terbang dengan penuh kemarahan. Dia mudah tersinggung dan langsung melampiaskannya pada tornado air. Sialan! Gara-gara tornado ini, dia diminta untuk basah-basahan!
"..." Para kultivator senior yang melihat adegan itu tidak bisa berkata-kata. Sejak kapan seekor merak begitu hebat?
Mereka menyaksikan bagaimana merak itu membuat array dan mengunci tornado air dalam array. Setelah Xiu Jimei meminta Reddish untuk bekerja, dia segera menatap mereka.
"Bersiaplah, kita akan segera pergi ke pantai." Xiu Jimei tersenyum misterius.
"..." Para kultivator senior memiliki firasat buruk dan kebingungan.
Kenapa harus bersiap? Bukankah hanya perlu mendorong perahu lebih keras?
Namun sebelum menemukan jawabannya, embusan angin selain angin badai tiba-tiba saja mucul. Angin tersebut berasal dari tubuh gadis itu. Kemudian, Xiu Jimei memimpin embusan angin ke arah layar perahu sehingga melaju lebih kencang daripada sebelumnya.
Para kultivator senior terkejut setengah mati saat perahu mereka bergerak sangat cepat hingga pakaian dan rambut mereka berkibar. Bahkan tubuh mereka terdorong. Jika bukan karena mereka yang terlatih sejak lama, mungkin sudah diterbangkan angin.
Untuk menciptakan angin yang sebesar ini, setidaknya kultivator harus mencapai ranah surga, ini hanya minimal. Gadis itu sangat kuat. Mereka yang terjebak pada kultivasi tingkat kedewaan, lelahnya setengah mati.
Hanya kurang dari semenit, perahu tiba di bibir pantai yang berombak ringan. Tidak ada badai ataupun angin kencang. Langit cerah.
"Kita sampai," kata Xiu Jimei.
Mereka semua merasa ingin muntah karena mabuk laut. Kaki merasa kehilangan tenaga dan akhirnya duduk dengan frustasi. Walaupun wajah mereka agak pucat karena syok, setidaknya sudah ada di tepi pantai.
"Hah? Sampai? Di mana aku? Siapa aku?" Salah satu kultivator senior yang cukup muda sedikit linglung.
__ADS_1
Elder Chi sedikit bergumam tidak jelas. Dia agak pusing namun tidak selemah yang lain. "Turunlah dan urus sisanya."
Tak ada yang bisa mereka lakukan selain menenangkan diri lebih dulu. Bukannya menemukan naga dan phoenix, mereka justru hampir bertemu kematian.