
Semua udang roh tidak menganggap Xuan Xing sebagai objek panas. Tubuh Xuan Xing dingin sepanjang waktu sehingga binatang roh mana pun akan mengira jika Xuan Xing adalah objek berdarah dingin.
Udang-udang roh itu menempel padanya karena memiliki energi spiritual elemen air yang membuat mereka terpikat.
Yang paling terkejut tentu saja Yan Yujie. Dia hampir pingsan di tempat saat melihat Xuan Xing juga baik-baik saja. Pada akhirnya, Yan Yujie benar-benar pingsan.
"Yujie!!"
Mereka semua panik dan segera membawa Yan Yujie ke kamar penginapan. Nasib laki-laki itu sungguh malang.
Xiu Jimei menghela napas. "Sepertinya dia akan muntah darah di masa depan, bukan pingsan lagi," gumamnya.
"Dia hanya terkejut," timpal Xiu Jikai tanpa rasa khawatir.
Xiu Jimei mendengkus, "Kakak, tidak bisakah kamu merasa khawatir tentang masalah ini?"
"Kenapa harus khawatir? Dia belum sekarat." Setelah itu, Xiu Jikai meninggalkan kamar penginapan.
"..." Xiu Jimei sangat marah. Kenapa dia memiliki saudara kembar yang selalu berwajah datar?
Tapi Xiu Jimei tidak tahu, saat ini, Xiu Jikai yang ada di luar kamar mengerutkan kening. Sebenarnya dia sedang berpikir keras, jimat apa lagi yang bisa menangkal kesialan Yan Yujie. Diserang hal-hal kecil saja sudah merepotkan, bagaimana jika nanti ada masalah besar seperti tenggelam di danau oleh sekelompok murid Sekte Hantu itu?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara di Alam Para Dewa, istana dewa kesialan.
Dewa kesialan baru saja kembali dari tempat dewa air untuk memadamkan kemarahannya. Dia berdebat panjang dengan dewa air. Tapi setiap kali dia berteriak, dewa air akan mencoba melarikan diri.
Di mana dewa kesialan rela membiarkannya pergi?
Pada akhirnya, dewa kesialan dan dewa air sama-sama saling berlarian di sekitar istana, seperti kucing dan tikus peliharaan. Para pelayan dan penjaga tidak berdaya.
Di mana pun dewa kesialan berada, pasti ada saja yang akan terkena sial.
Sekarang dewa kesialan telah meredakan amarahnya. Dia ingin mandi dan rebahan sambil memeriksa buku orang yang ditakdirkan untuk memilih nasib sial.
Tanpa diduga, baru saja tiba dan hendak meminta pelayan menyiapkan makan siang, langit di sekitar istana dewa kesialan mendadak berawan gelap.
"Apakah hujan akan turun? Kenapa hanya di sekitar istana dewa ini saja?!" Dewa kesialan menatap langit dengan firasat buruk.
__ADS_1
Awan gelap dengan sedikit suara gemuruh hanya berkumpul di sekitar istana dan sekitarnya. Dewa kesialan ingin memarahi seseorang tapi tidak tahu pada siapa.
Manusia mana lagi yang mengutuk atau menyumpahinya kali ini?
Tak lama, seorang penjaga istana sedikit berlari ke arahnya dengan sedikit kekhawatiran.
"Dewa, dewa ... Ini ... ini ada surat dari dewa bencana," lapornya seraya berlutut dan menyerahkan surat gulungan.
Dewa kesialan bahkan lebih tidka mengerti lagi. Kali ini apa hubungannya dengan dewa bencana? Dia sendiri bahkan tidak pernah saling menyapa kecuali saat berada di pertemuan aula dewa pencipta Alam Para Dewa.
Namun sebelum membaca isi surat gulungan, tiba-tiba saja sebuah petir ungu menyambar atap istana dewa kesialan hingga menimbulkan bunyi nyaring yang memekakkan telinga.
Suara dan cahaya petir ungu itu mungkin bisa dilihat dari tempat yang jauh sekalipun. Lagi pula, siapa yang tidak tahu di mana istana dewa kesialan berada?
Semua yang ada di istana dewa kesialan takut dan khawatir petir akan menyambar bagian istana yang lain. Tapi petir ungu hanya menyambar satu kali. Tak lama kemudian, sesuatu jatuh dari langit, menimpa kepala dewa kesialan.
Hanya saja apa yang menimpa nya itu bukan air hujan. Ketika dewa kesialan mengambilnya, itu ternyata udang roh transparan yang hampir saja seperti warna air.
"...??!!!" Dewa kesialan ingin berteriak ke langit.
Apa lagi ini?
Apakah mereka memiliki sayap tak terlihat?
Segala jenis pikiran berputar di kepala dewa kesialan.
Sayangnya, bukan hanya beberapa udang yang jatuh dari langit, tapi sangat banyak. Seperti hujan yang tiba-tiba turun begitu saja.
Para pelayan dan penjaga terkejut saat melihat ada banyak udang roh berjatuhan dari langit. Dewa kesialan yang baru saja kembali dari istana dewa air pun kini dipenuhi oleh bau amis ikan.
"Sungguh sial! Apakah ini ulah dewa air lagi??!" teriaknya sambil berjalan menuju ke istana untuk berteduh.
Untungnya hujan udang ini tidak berlangsung lama. Hanya beberapa saat saja. Kini halaman dipenuhi oleh udang roh transparan. Awan gelap di langit langsung melarikan diri begitu saja.
Sekarang suasananya seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
"Dewa ... setidaknya lebih baik hujan udang daripada hujan durian," celetuk salah satu pelayan pribadinya yang sudah tahu temperamen dewa kesialan.
Semua udang roh yang jatuh dari langit bisa disimpan untuk dimasak. Tapi durian itu terlalu bau dan dewa kesialan tidak pernah menyukainya.
__ADS_1
Jika ada hujan durian tanpa kulitnya, mungkin dewa kesialan akan menghancurkan istana dan mencari tempat tinggal baru yang lebih terpencil.
Dewa kesialan justru lebih kesal saat ini. Wajahnya menghitam. "Jangan mengutuk dewa! Jangan sampai hujan durian itu terjadi gara-gara omong kosongmu!"
Pelayan itu segera menampar mulutnya.
Dewa kesialan segera membuka surat gulungan yang diberikan oleh dewa bencana. Tidak banyak kata di dalamnya. Hanya terdapat dua kalimat.
Alasan kenapa bisa terjadi hujan udang roh ternyata karena sumpah Yan Yujie. Laki-laki itu baru saja ditusuk oleh banyak udang roh hingga kedua betisnya dipenuhi bintik merah yang menyakitkan.
Yan Yujie bersumpah jika dirinya tidak berbohong tentang rasa sakit akibat tusukan udang roh. Bahkan berani bersumpah bahwa dewa kesialan akan sial.
"??!" Dewa kesialan yang membaca ini mencoba untuk menenangkan diri.
Manusia ini berani menyumpahinya. Tapi dia sendiri tidak bisa bermain tangan melawan nasib dan takdir mereka.
Mau tidak mau, dewa kesialan hanya bisa menahan diri agar tidak membalas dendam pada Yan Yujie.
Bagaimana jika Xiu Jimei mengetahui perbuatannya dan berdoa lagi pada para dewa? Lalu dia bertambah sial hari ini?
Bagaimana jika nanti terjadi hujan durian seperti yang dikatakan oleh pelayannya?
Tidak, tidak! Dewa kesialan tak ingin hal itu terjadi.
Dewa bencana juga tidak berdaya. Dia hanya menjalankan perintah sesuai dengan yang tertulis di buku bencana.
Jadi untuk menghindari kemarahan dewa kesialan, dewa bencana telah melarikan diri ke belahan daratan Alam Para Dewa yang lain, berpura-pura menjalankan tugas.
"Dewa ... Apa yang harus kita lakukan dengan udang-udang itu?" tanya pelayan lain.
Dewa kesialan menghancurkan surat tersebut. "Apa lagi? Tentu saja kumpulkan dan masak! Dewa ini akan memakan semua udang bodoh yang telah menimpa istana ini!"
Setelah itu, dewa kesialan pergi untuk membersihkan diri.
Sungguh hari yang sial.
Sementara banyak dewa dan dewi di sisi lain yang melihat petir ungu menyambar istana dewa kesialan. Mereka hanya menebak-nebak apa yang terjadi, tapi tidak berani untuk mengusiknya.
Dewa kesialan memiliki temperamen aneh yang jika tersinggung, bisa membuat siapapun menjadi sial.
__ADS_1