Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Menemui Dewa Perang


__ADS_3

“Siapa aku? Apakah kamu mengetahui pedang ini?”


Xiu Jikai bisa memastikan jika Luo Chan mengenali pedangnya. Dia mengerutkan kening diam-diam. Tidak banyak yang tahu tentang pedang yang dipegangnya. Lagi pula, pedang tersebut masih berhubungan dengan Dunia Iblis.


Luo Chan jelas penasaran dengan pedang yang dipegang Xiu Jikai. Pedang itu sangat mirip dengan milik pemilik tapi juga bisa dikatakan berbeda. pedang milik Xiu Jikai lebih kaya energi spiritual, napas kematian yang besar dari pedang itu tidak sebanding dengan pedang pemilik klan.


“Aku hanya merasa jika pedangmu mirip dengan pedang pemilik klan.”


Luo Chan tidak berbohong padanya mengenai masalah ini. Ia hanya ingin tahu lebih banyak tentang pedang tersebut.


"Siapa kamu sebenarnya?" tanyanya.


"Siapa tuanmu?" Xiu Jikai justru bertanya balik.


Luo Chan tidak langsung menjawab. Identitas tuannya sendiri, ia bahkan tidak yakin. Meski dia adalah orang kepercayaan pemimpin klan penyihir, ia sendiri belum tahu seperti apa rupanya.


Pemimpin klan penyihir selalu berpakaian serba hitam, berjubah dan bertudung besar yang menenggelamkan wajahnya. Oleh karena itu, tidak ada yang tahu seperti apa rupanya. Hanya saja dia tahu bahwa pihak lain adalah seorang pria.


Selama beberapa bulan terakhir, pemimpin klan penyihir pergi entah ke mana dan hanya memerintah anak buahnya saja untuk menyampaikan beberapa pesan.


"Kamu tidak perlu tahu siapa tuanku!" Luo Chan menyeringai. Ia sedikit berkeringat dingin di dahinya gara-gara tekanan pedang di tangan Xiu Jikai.

__ADS_1


Xiu Jikai tidak mau membuang-buang waktu. Dia langsung menyerang Luo Chan dan berniat untuk membawa Zhongkui kembali ke istana kekaisaran. Pria itu harus dibereskan. Lagi pula, ini semua masih ada hubungannya dengan klan penyihir.


Menghadapi Xiu Jikai yang menyerang dengan brutal, Lul Chan menelan salivanya diam-diam. Ia tak bisa mengalahkan laki-laki itu. Bukan dia pengecut, tapi yang kuat selalu berada di atas.


Luo Chan berusaha untuk menghindari dan memblokir serangan Xiu Jikai seraya melindungi Zhongkui. Walaupun Zhongkui tidak berguna sekarang, ia tak bisa membiarkannya jatuh ke tangan mereka.


Dari awal hingga akhir, Xiu Jikai selalu berekspresi dingin. Di matanya pertarungan kecil ini tidak layak disebut pemanasan. Terlalu lemah.


Luo Chan menggertakkan giginya dan mau tidak mau hanya bisa menggunakan kesempatan terakhir. Dia mengeluarkan beberapa teknik sihirnya untuk melawan Xiu Jikai. Tapi semua itu sia-sia. Xiu Jikai ini seperti tubuh tanpa kelemahan.


Seberapa besar tingkat kultivasinya?


Mau tidak mau, Luo Chan akhirnya mengeluarkan beberapa pil bom asap dan melemparkannya ke segala arah di sekitar. Tak lama kemudian, ledakan terjadi dan asap hitam pekat seketika memenuhi sekitar.


"Pria cantik! Kita pasti akan bertemu lagi di masa depan!" Luo Chan mengucapkan salah perpisahan dan langsung memasuki gerbang teleportasi yang dibuatnya.


Xiu Jikai yang melihat asap tebal tak berbau di sekelilingnya sulit untuk dihilangkan, mau tidak mau menyipit mata. Ia melihat Luo Chan menyeret Zhongkui memasuki formasi gerbang teleportasi klan penyihir. Merasa terlambat mengejarnya, Xiu Jikai tidak algi bersikeras untuk mengejar.


Menyipitkan mata, Xiu Jikai menyarungkan kembali pedangnya. "Klan penyihir ...," gumamnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Di Alam Para Dewa, Xiu Jimei tiba di salah satu gerbang istana salah satu dewa. Awalnya dia ingin bertemu dengan Dewa Bencana yang baru. Namun ia berubah pikiran. Mungkin lebih baik untuk menemui Dewa Perang lebih dulu. Mungkin saja kategori bencana yang dimaksudkan Zhongkui di alam sekuler sudah tergolong perang.


Di depan gerbang yang tinggi dan kokoh, Xiu Jimei mengetuknya dengan sopan. Ada dua penjaga gerbang yang melihat Xiu Jimei datang. Di hari kerja, para penjaga tidak tahu siapa Xiu Jimei. Belum lagi gadis itu tidak terlihat dari Alam Para Dewa. Meski begitu, mereka tak berani berbuat kasar.


"Maaf, siapa yang kamu cari?" Salah satu penjaga gerbang bertanya padanya.


"Apakah Dewa Perang ada di istananya?"


Penjaga itu mengerutkan kening. "Apakah benar-benar harus bertemu dengan dewa kami?"


Xiu Jimei mengangguk ringan. Malas untuk berdebat dengan mereka. "Pergilah dan beri tahu dia, Xiu Jimei datang ke sini untuk bertanya."


Penjaga gerbang tidak berani lalai. Salah satu dari mereka pergi untuk melapor pada salah satu pelayan kepercayaan Dewa Perang di halaman depan. Penjaga gerbang tak bisa meninggalkan tugasnya hanya karena menyampaikan informasi. Oleh karena itu, dia langsung memberi tahu pelayan kepercayaan.


Kedatangan Xiu Jimei segera disambut oleh Dewa Perang. Pria paruh baya yang terlihat awet muda datang langsung untuk menjemputnya. Dia berpakaian layaknya jenderal di Batak militer. Sungguh identik dengan statusnya sebagai Dewa Perang.


"Merupakan sebuah kehormatan bagiku bisa kedatangan pemilik esensi delapan dewa-dewi ke istana kecilku. Ayo masuk dan


mengobrol," katanya.


"Ya, ada beberapa hal yang ingin kutanyakan padamu." Xiu Jimei mengangguk, tidak munafik dan segera memasuki gerbang.

__ADS_1


Selama perjalanan menuju ruang tamu yang elegan, pelayan menyajikan teh dan makanan ringan. Kini tinggal mereka berdua di dalam ruangan.


"Katakan saja apa yang diinginkan olehmu," ujar Deawa Perang.


__ADS_2