Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Sembrono Tapi Hasilnya Tetap Enak


__ADS_3

Tiga hari setelahnya, semua murid dan guru pendamping telah berkumpul di padang rumput. Tidak ada binatang roh kuno apapun di saja sejak Bai Huazhi menggiring binatang roh kuno penghuni padang rumput ke tempat yang lebih aman.


Semua tim bekerja sama. Mereka menyiapkan tungku dengan menyusun batu, mencari kayu bakar serta air.


Sumber air tidak terlalu jauh dari tempat itu sehingga mereka tidak khawatir akan menghabiskan banyak waktu.


Setiap kelompok sudah membuat api. Bai Huazhi dan beberapa pengamat ujian cabang Dunia Kecil Array Kuno duduk di tempat lain, mengamati gerak-gerik mereka. Pastikan tidak ada yang melakukan kecurangan.


"Apa yang akan kita masak kali ini?" Kin Wenqian melihat Xiu Jimei sudah mengeluarkan banyak bumbu serta sayuran. Ada daging juga.


"Aku tidak tahu. Menurut kalian, makanan apa yang kira-kira akan disukai oleh para penguji?" tanya gadis itu bertanya balik.


"Ini sebenarnya tergantung dari mana penguji itu berasal? Setiap negara dan dunia memiliki rasa makanan yang berbeda." Xiu Jikai menganalisis. Dia tidak pandai memasak, tapi adiknya luar biasa.


Xiu Jimei melirik Ming Zise yang ada tak jauh darinya, memperhatikan kegiatan mereka. "Guru, bagaimana menurutmu?"


"Apakah meminta saran dari guru pendamping tidak melanggar aturan?" Jia Lishan memperingatinya.


"Sepertinya melanggar aturan." Xiu Jimei pada akhirnya hanya bisa menyerah.


Ming Zise hanya tersenyum. Dia hanya duduk tak jauh dari mereka untuk memperhatikan. Terutama melihat Xiu Jimei melakukan banyak hal dengan tangan terampilnya.


Cuaca hari ini bagus, tidak terlalu panas sehingga para murid tidak mengeluhkan apapun. Meraka mulai memasak sehingga aroma masakan mulai tercium.


Xiu Jimei tidak memiliki menu yang cocok untuk dimasak hari ini. Dia menggunakan keberaniannya untuk membuat sesuatu yang tak biasa hingga keenam orang di kelompoknya merasa ngeri.


Apa yang dilakukan Xiu Jimei saat ini tak lain adalah mencincang semua daging, sayur serta beberapa herbal. Kemudian iris bawang putih, bawang merah, bawang bombai, cabai merah besar dan tomat merah. Tumis semuanya sampai harum.


Setelah itu, Xiu Jimei memasukkan udang yang telah dibersihkan, daging sapi yang telah dipotong dadu. Tumis sampai harum dan setengah matang, lalu tambahkan air secukupnya, masukkan gula pasir, merica, bumbu penyedap rasa sapi kemudian saus tiram pada proses terakhir. Jangan lupa, tambahkan sedikit kecap manis. Kemudian tumis sampai air menyusut.


Semua proses itu tak luput dari Wang Xuyue serta yang lainnya, sibuk membantu Xiu Jimei memberikan semua bumbu dan bahan di tempat.


Aroma yang harus membuat mereka lapar. Bahkan tim lain pun sangat penasaran dengan masakan yang dibuat kelompok Xiu Jimei. Kenapa begitu harum? Apa rahasianya?


Langkah terakhir adalah memasukkan sayuran hijau yang memang mudah layu serta memasaknya tak perlu lama. Jangan lupa, tambahkan irisan buncis segar.


Hidangan pertama pun jadi.

__ADS_1


Meski yang lainnya merasa ngeri dengan cara memasak Xiu Jimei yang terbilang acak, tapi dari aromanya saja sudah membuat perut mereka keroncongan.


"Adik sepupu, apa nama hidangan ini?" tanya Yan Yujie penasaran.


Xiu Jikai sepertinya tidak terkejut melihat hidangan yang dibuat adiknya. Sejak kecil, adiknya suka sekali memasuki dapur dan belajar banyak hal tentang masakan. Kadang ibunya juga mengajarinya untuk memasak ketika pulang ke rumah.


"Aku tidak tahu. Namakan saja tumis campur-campur," jawab gadis itu sekenanya.


"..." Ini mungkin bukan nama makanan, batin mereka.


Lalu hidangan keduanya pun dibuat ....


......................


Sementara itu di sisi kelompok lain.


Ada banyak kejadian lucu selama memasak. Entah itu apinya yang kebesaran dan tidak bisa dipadamkan atau tak sengaja tumpah hingga pakaian mereka kotor. Intinya sesi masak memasak ini sangat penuh warna.


Terutama kelompok ras hantu yang tidak pernah memaksa sama sekali. Mereka bergabung dengan murid manusia dari berbagai sekte. Kemudian melihat mereka memasak.


Mi Sai misalnya. Dia memegang sudip kayu sambil menggoreng sejenis makanan. Namun apinya agak kecil, jadi dia tidak sabar.


"Kayunya agak basah, ini wajar jika sulit terbakar," kata murid yang lain.


Mei Rong sedang memotong sayuran. Tapi tidak rapi. Sekali dia memotong, rasanya seperti seorang algojo yang memenggal kepala orang. Mereka ketakutan.


Tapi untungnya Fan Li menjadi hantu yang paling waras daripada kedua rekannya. Dia bisa memotong dengan anggun sehingga pekerjaan memotong diberikan padanya.


Mei Rong sudah bosan. Dia tidak suka melakukannya ubah dilakukan manusia.


"Huh, kenapa harus membuat makanan yang merepotkan seperti ini? Bukankah memakan manusia secara langsung lebih enak?" gumamnya.


Sayangnya gumaman itu terdengar oleh anggota kelompoknya sendiri hingga Mei Rong langsung mendapatkan tatapan membunuh dari mereka. Terutama satu anggotanya sedang memegang pisau dan memotong ikan dengan nafsu, seakan-akan yang ada di talenan bukanlah ikan melainkan Mei Rong.


"..." Mei Rong tersenyum kaku dan menggelengkan kepala.


Hanya bercanda, batinnya.

__ADS_1


Sepertinya dia keceplosan kali ini. Jangan mencari masalah dengan ras manusia, jika tidak, urusannya beda lagi.


Kenapa memiliki wujudnya manusia begitu merepotkan? Pikirnya.


"Mei Rong, bantu aku memperbesar apinya." Suara Mi Sai menyelamatkan Mei Rong dari tatapan maut anggota kelompok.


Mei Rong segera pergi menghampiri Mi Sai, memegang kipas dan mengipasi api pada tungku batu. Sayangnya dia mulai bosan lagi karena api sama sekali tidak menunjukkan perubahan.


"Kipasi dengan benar," kata Mi Sai.


Mie Rong menggertakkan gigi. "Kamu hanya bisa bicara tapi tidak tahu fakta!"


"Aku hanya sedang memasak."


Karena Mei Rong tidak bisa memasak, dia hanya bisa mengikuti kata-kata Mi Sai. Mau tidak mau, Mei Rong menjentikkan jari. Sebuah api biru keputihan muncul di jari telunjuknya.


Terpaksa dia menggunakan api hantu untuk memastikan apinya tidak padam. Mi Sai awalnya tidak menyadari gerakan Mei Rong saat mengeluarkan api hantu. Dia fokus memasak agar tidak gosong dan lupa bumbu.


Saat Mei Rong memasukkan api hantu ke api biasa, Mi Sai berteriak untuk menghentikannya, namun sudah terlambat.


"Apa yang kamu lakukan? Apakah kamu mencari kematian?" Mi Sai mengarahkan sudip ke arah Mei Rong, marah-marah seperti seorang ayah mengajari putrinya.


"Aku tidak mau mengipasi apinya yang cepat padam. Api hantu lebih efektif dan tidak akan pernah padam!"


Api hantu ini mirip merupakan salah satu jenis api abadi yang sering dijumpai di Dunia Hantu. Sebenarnya api tersebut tidak berbahaya jika digunakan pada tempatnya.


Namun dunia langit ini berbeda. Jangan samakan dunia tanpa kehidupan dengan dunia penuh aura. Efeknya berbeda.


"Kamu mencari kematian!" Mi Sai tidak mau berkata lebih banyak. Dia berusaha untuk mengeluarkan api hantu dari tungku.


Namun lagi-lagi sangat disayangkan. Karena dia mengomel pada Mei Rong terlalu lama, api hantu sudah bercampur dengan api biasa sehingga menimbulkan kontradiksi yang besar.


Api hantu tidak suka dengan jenis api lain bercampur dengan elemennya. Jadi membuat perlawanan.


Seketika, api di tungku yang semulanya baik-baik saja kini membesar dan semakin besar hingga Mi Sai langsung memegang dua telinga wajan tanpa alas.


"Masakanku!" teriaknya.

__ADS_1


Anggota yang lain mulai panik ketika melihat api di tungku semakin merajalela.


__ADS_2