
Ular hijau tua yang marah langsung mengejar Mi Sai dan boneka kanibal yang berani mengambil telurnya. Tidak peduli seberapa kokohnya dinding gua, pada akhirnya sedikit runtuh akibat gerakan licin ular itu di setiap kesempatan.
Mi Sai berhasil keluar dari gua dengan susah payah sambil memeluk telur ular. Boneka kanibalnya tak kalah cepat darinya.
"Aku mendapatkannya!" Dia berteriak pada yang lain.
Dua kelompok yang bekerja sama itu akhirnya menghela napas lega dan langsung melarikan diri bersama.
"...?!!" Ular roh gunung yang sedang bertarung dengan mereka pun masih belum yakin apa yang terjadi.
Hingga saat Mi Sai memeluk salah satu telur miliknya, kemarahan langsung meledak begitu saja.
"Manusia pencuri! Kembalikan telurku!" teriaknya.
Ular betina dewasa itu langsung mengejar mereka menuruni gunung. Sang jantan baru saja muncul di bibir gua dan malas untuk keluar. Dia khawatir jika istrinya akan menyalahkan dirinya karena terlalu lengah menjaga telur.
"Aku harap istriku kembali dengan kepala dingin," gumam ular jantan itu langsung mundur lagi ke dalam gua.
Kelompok Mi Sai serta satu kelompok lainnya bisa melarikan diri setelah melewati gunung tak tersentuh. Mereka kelelahan, berkeringat, wajah pucat serta kelaparan.
"Apakah ular itu tidak mengejar kita?" tanya salah satu dari mereka pada guru pendamping.
"Jangan khawatir, ular roh gunung tak akan mampu meninggalkan wilayahnya tanpa alasan. Jika bertemu musuh yang lebih kuat, ular roh gunung harus menanggung akibatnya," tutur guru pendamping kelompok Mi Sai.
Benar saja, ular hijau raksasa itu tidak berani melewati kaki gunung dan menatap mereka penuh kebencian.
“Jika kalian datang lagi ke sini, tidak akan kubiarkan melarikan diri. Dasar manusia lemah!” teriaknya segera berbalik dan kembali ke gua tempatnya berada.
“…” Yang lainnya tidak terlalu peduli. Lagi pula siapa yang akan datang lagi untuk menyapa? Mereka tidak akan pernah datang lagi.
__ADS_1
“Mi Sai, apa kamu hanya mengambil satu telur saja?”
“Tidak, aku mengambil dua.” Mi Sai segera meminta boneka kanibalnya untuk memuntahkan telur. Dan telur itu masih utuh saat dikeluarkan.
Mereka menghela napas lega. Dengan ini, tugas mereka selesai.
“Kapan kita melaporkan tugas yang sudah terselesaikan ini?” Fan Li mengerutkan kening.
Salah satu guru pendamping memberi tahu. “Tugas menjelajah Dunia Langit kali ini akan dikumpulkan setelah berhasil menyelesaikan cabang misi lainnya. Tidak terburu-buru.”
Mereka juga tahu bahwa tugas baru belum diberitahukan. Berarti masih ada kelompok lain yang sedang mencoba menyelesaikan tugas. Untuk saat ini, mereka memilih untuk beristirahat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seminggu kemudian ….
Beberapa cabang tugas bisa diselesaikan dengan mudah. Kelompok Xiu Jimei dan Huang Fu Shi bekerja sama sehingga tugas lebih cepat selesai. Meski begitu, mereka tidak berani untuk curang dan menyelesaikannya dengan kemampuan masing-masing.
“Kapan guru kembali? Apakah dia bersenang-senang di sana?” tebaknya kesal.
Ular putih kecil menjulurkan lidahnya dan membujuk, “Tidak. Tuan tidak pernah menunda pekerjaan. Jika tidak kembali untuk waktu yang lama, berarti ada sesuatu yang sulit ditangani. Atau … pihak lain menahannya sepanjang waktu.”
“Menahannya? Menahan seperti apa maksudnya?” Xiu Jimei curiga.
“Mungkin wanita itu mengganggunya.” Yamla tidak suka dengan Ning Siyu, jadi nada bicaranya sedikit buruk.
Xiu Jimei bahkan yakin jika Ming Zise dalam kesulitan saat ini. Dia berencana untuk pergi ke Alam Para Dewa. Sebenarnya ini agak dipaksakan tapi bukan berarti dia tak bisa memasuki tempat itu.
“Bisakah kamu pergi ke sana?” Yamla sedikit kurang yakin.
__ADS_1
“Ini tidak sulit jika aku menginginkannya.”
“Kalau begitu … ayo lihat.”
Xiu Jimei akhirnya memutuskan untuk pergi setelah memberi tahu Xiu Jikai tentang masalah tersebut. Xiu Jikai awalnya menolak dan tidak ingin adiknya membuat masalah di sana. Namun mengingat jika Ming Zise memang tidak kembali selama tujuh hari terakhir ini, dia pun setuju.
Tapi Xiu Jikai masih memberinya peringatan berulang kali hingga Xiu Jimei ingin menutup telinganya saat itu juga.
......................
Xiu Jimei menggunakan jimat teleportasi yang diberikan oleh kakaknya lalu memusatkan pikirannya pada Alam Para Dewa.
Akhirnya, dia dikirim ke pintu gerbang Alam Para Dewa yang dijaga ketat oleh dua pria berjubah brokat putih, wajah bertopeng serta menodongkan pedang ke arah Xiu Jimei yang tiba-tiba muncul.
“Manusia Dunia Langit tidak bisa memasuki Alam Para Dewa tanpa izin dewa,” kata salah satu penjaga gerbang itu. Suaranya sangat bagus.
Xiu Jimei tidak marah dan berpikir lagi. Benda apa yang bisa membuatnya bisa masuk ke sini?
Lalu dia memikirkan esensi delapan dewa-dewi di tubuhnya. Lalu dia menunjukkannya pada dua penjaga gerbang.
Kali ini, kedua pria penjaga gerbang jelas berkeringat dingin saat melihat bola putih susu yang mengeluarkan energi spiritual yang sangat menindas.
“Si-siapa kamu sebenarnya?” tanya salah satu penjaga gerbang. Wajahnya agak pucat saat ini.
“Xiu Jimei, pewaris esensi delapan dewa-dewi,” jawabnya.
“…” Kenapa nama ini sedikit familiar?
Dua penjaga terlihat sedang berpikir keras dan saling melirik. Mereka tak tahan dengan esensi delapan dewa-dewi yang ditunjukkan Xiu Jimei.
__ADS_1
Tak lama setelah itu, seorang pria berjubah putih bersulam benang perak muncul dari dalam gerbang yang terbuka otomatis.
“Kenapa ragu untuk membiarkan Putri Xiu masuk? Aku akan menjemputnya."