
Dewa Pencipta Alam Para Dewa menatap delapan patung dewa-dewi yang selalu menjadi panutan mereka.
“Tentu saja … ke tempat di mana surga dan neraka yang sesungguhnya berada. Siapa yang tahu,” jawabnya agak pelan.
Setelah keduanya berbincang, Xiu Jimei meninggalkan pagoda surga. Dia berencana untuk pergi ke Istana Dewa Welas Asih. Namun sebelum dia pergi, Dewa Pencipta Alam Para Dewa memberinya hadiah. Hadiah itu untuk rasa terima kasihnya karena telah membantu Alam Para Dewa memenangkan perang di alam sekuler.
“Sepertinya aku tidak melakukan apa-apa?” Xiu Jimei sedikit ragu dengan hadiah yang diterimanya.
“Apa yang tidak melakukan apa-apa? Kamu telah menyerap kabut kemerahan dan energi spiritual yang ada di udara sehingga kemampuan tempur iblis Alam Neraka menurun. Tubuhmu terluka sebelumnya jadi dewa ini memberimu kompensasi," jelasnya.
Apa yang dilakukan Xiu Jimei bukan masalah kecil. Kabut kemerahan yang menghalangi garis pandang semua kultivator bukan hanya membuat iblis Alam Neraka lebih unggul, tapi juga merugikan kultivator. Oleh karena itu, saat kabut kemerahan berkurang lebih dari setengahnya, semua iblis Alam Neraka terlihat jelas.
Berterima kasihlah pada gadis ini dan juga Lu Zheng. Jika bukan karena Lu Zheng yang membahayakan nyawa gadis itu, esensi delapan dewa-dewi tidak akan merespons sama sekali.
Xiu Jimei penasaran dengan hadiah apa yang diberikan Dewa Pencipta Alam Para Dewa. Tapi sekilas xiu Jimei bisa mencium aroma makanan di dalamnya.
"Makanan?" tebaknya.
"Kamu suka makan, jadi dewa ini memberimu beberapa jenis hidangan yang paling enak. Dewa ini berharap kamu suka."
"Terima kasih, tentu saja aku suka selama itu enak. Dengan begitu, aku tidak perlu repot-repot untuk meminta jamuan makan saat tiba di Istana Dewa Welas Asih.
"..." Dewa Pencipta Alam Para Dewa menyalakan lilin di hatinya. Dia berharap Ye Jue tidak terlalu dirugikan oleh gadis ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Istana Dewa Welas Asih cukup jauh. Xiu Jimei harus berteleportasi menuju ke beberapa titik tertentu untuk bisa sampai ke istananya. Ye Jue memiliki istana yang indah, tentu saja sama seperti dewa lainnya. Tapi Istana Dewa Welas Asih sedikit lebih sederhana. Namun ada banyak jenis tanaman berbunga di sekitarnya. Sangat indah.
Beberapa pelayan dan penjaga juga merupakan sosok yang rupawan. Benar-benar kehidupan di Alam Para Dewa.
Ketika Xiu Jimei datang, pelayan dan penjaga sudah diberi tahu oleh Ye Jue. Mereka mengenal Xiu Jimei karena gadis itu memiliki banyak rumor di Alam Para Dewa.
"Putri Xiu, selamat datang di Istana Dewa Welas Asih," sapa salah seorang pelayan senior. "Silakan masuk."
__ADS_1
Xiu Jimei mengangguk. "Di mana Ye Jue?"
"Dewa sedang bersama dewa Ming di halaman belakang."
"Ming Ming ada di sini?" gumam Xiu Jimei.
Saat pelayan mengantarnya ke halaman belakang, Xiu Jimei melihat Ming Zise dan Ye Jue sedang bermain catur bersama di gazebo. Keduanya tampak harmonis di permukaan tapi untuk beberapa asalan tertentu, tampaknya tidak benar.
"Ming Zise, kamu tidak memberiku kesempatan untuk maju. Kenapa kamu selalu mahir dalam catur ini?" Ye Jue menunjukkan ketidakpuasan nya.
"Hukum alam."
"..." Percaya hantu! Ye Jue tidak setuju dalam hatinya.
"Ming Ming!" Xiu Jimei memanggil Ming Zise.
Kedua pria itu menoleh. Xiu Jimei menghampiri mereka, masih memegang kotak makanan yang diberikan oleh Dewa Pencipta Alam Para Dewa. Ye Jue menghela napas lega. Untung saja gadis itu datang. Jika tidak, ia tidak tahu kapan akan meredakan dendam Ming Zise.
Karena Ye Jue mencegah pria itu untuk melindungi Xiu Jimei yang bertarung dengan Lu Zheng, Ming Zise kesal dan marah. Terlebih lagi setalah Xiu Jimei koma, Ming Zise menyimpan dendam. Jika Ye Jue tidak menghalanginya untuk melindungi gadis itu, mungkin tidak akan ada yang namanya adegan koma.
Xiu Jimei menggelengkan kepala. "Ini hadiah dari Dewa Pencipta Alam Para Dewa. Dengan begitu, aku tidak akan repot-repot meminta makanan di istanamu," jelasnya.
"..." Ye Jue yang penuh harap merasa jika wajahnya ditampar. Tapi ia tidak tersinggung sama sekali.
Penampilan Ye Jue yang malas dan lembut tidak berubah sama sekali. Masih sama seperti terakhir kali.
"Dewa ini tidak miskin. Jangan sungkan. Makanan sudah disiapkan. Ayo simpan hadiah dari Dewa Pencipta Alam Para Dewa lebih dulu dan makanlah sesuatu di sini." Ye Jue tidak berniat untuk melanjutkan permainan caturnya. Dia bangkit, mengajak Xiu Jimei ke ruang makan.
Ming Zise hanya mengikuti dengan patuh.
Di ruang makan, terdapat meja bundar yang cukup besar. Ada berbagai jenis hidangan memenuhi meja. Semuanya masih hangat, menguarkan aroma harum yang membaut Xiu Jimei lapar.
Kebetulan waktunya makan siang.
__ADS_1
"Aku berharap Putri Xiu menyukainya. Silakan." Ye Jue menyambut tamu dengan baik. Sudah lama sekali dia tidak kedatangan tamu asing.
"Tentu, tentu." Xiu Jimei duduk di salah satu kursi. Ming Zise duduk di sebelahnya dan mulai melayani dengan baik.
"..." Ye Jue yang diabaikan, lagi-lagi harus menyaksikan adegan pasangan yang saling melayani. Dia hanya anjing tunggal (jomblo).
Makan siang kali ini sangat enak. Semua makanan di Alam Para Dewa sangat enak sehingga Xiu Jimei makan lebih banyak. Setalah itu, ia merasa energinya kembali penuh. Setelah kenyang, dia menyentuh perutnya dengan ekspresi puas.
"Makanannya sangat enak. Aku harap Dewa Welas Asih selalu beruntung dan beruntung," katanya memuji.
"Terima kasih." Ye Jue tersenyum lembut tapi entah kenapa dia merasa tidak enak di hatinya.
Dia ingat jika dia gadis itu seperti berkah dewa untuk umatnya. Sekali meminta pasti akan terlaksana. Lalu, keberuntungan apa yang akan menghampirinya kali ini? Kenapa ia justru merasakan firasat buruk?
Mengesampingkan masalah itu, Ye Jue akhirnya mengeluarkan bungkusan berisi permen susu buah persik yang dijanjikannya.
"Aku baru saja selesai membuatnya semalam. Kamu bisa mencobanya."
Xiu Jimei mencium aroma harum permen susu. tapi rasanya sedikit berbeda dari yang terakhir kali. Walaupun rasanya enak dan manis, tapi ... rasanya seperti ada yang kurang.
"Ada apa?" Ming Zise melihatnya mengerutkan kening, sedikit heran.
"Permen ini rasanya berbeda."
Ye Jue ingin menyeka keringat dingin di dahinya. "Tentu saja beda. Bukankah karena buah persik sebelumnya?"
Tentu saja berbeda. Kali ini Ye Jue benar-benar membuat permen susu biasa. Tidak ada campuran air pelupa ingatan yang biasanya dia kembangkan. Air pelupa ingatan memiliki energi spiritual nya tersendiri.
Kali ini, hanya Xiu Jimei yang tidak terpengaruh oleh pil pelupa ingatan buatannya..
"Yah, mungkin saja ..." Xiu Jimei mengangguk ringan. "Lain kali, buatlah bentuk lain seperti kelinci, ikan atau jenis lainnya. Jangan bentuk bulat, aku merasa ini bukan permen tapi pil."
"..." Ye Jue tidak memiliki waktu untuk melakukannya.
__ADS_1
Tunggu! Bukankah itu berarti jika gadis itu akan datang lagi untuk memintanya membuat permen?!