
Di sebuah gua tersembunyi, Ning Siyu tiba-tiba saja memuntahkan darah segar sebanyak dua suap. Dia membelalakkan mata, lalu bangkit dan pergi menuju bibir gua.
Di luar, pemandangan alam sedikit berubah. Aura spiritual di udara lebih kaya dari sebelumnya. Ning Siyu merasa tidak percaya.
"Bagaimana ini mungkin?! Sejak kapan pohon keabadian memiliki energi sebesar ini?" gumamnya sedikit menggeram.
Di masa lalu, pohon keabadian memang kuat dan penuh vitalitas. Namun sejak peperangan Alam Para Dewa dengan Alam Neraka, pohon keabadian menjadi lemah. Ning Siyu tidak lagi tertarik saat itu.
Tapi sekarang ... Pohon keabadian tampaknya telah memulihkan esensi kehidupan. Mau tidak mau tidak berpikir dua kali. Dia ingin esensi delapan dewa-dewi tapi juga sekarang ingin pohon keabadian.
Keserakahan yang tak ada habisnya. Ning Siyu tidak peduli. Baginya, selama dirinya menjadi kuat, apa saja bisa dilakukan untuk mencapai tujuannya.
Ning Siyu segera memanggil Dewa Bencana untuk datang. Tapi setelah beberapa kali memanggil, pihak lain tidak datang. Ning Siyu jengkel. Pada akhirnya dia mencoba sekali lagi dengan penuh kemarahan.
"Dewa yang tidak berguna ini! Apakah begitu sulit untuk datang setiap kali aku memanggil?!" gerutunya.
Tak lama setelah itu, gumpalan asap hitam muncul di bibir gua. Lalu sosok Dewa Bencana terbentuk. Ekspresinya sedikit tidak senang. Bahkan wajahnya sedikit pucat.
"Ning Siyu, apakah kamu tidak bisa bersantai sehari? Kamu berpikir bahwa Dewa ini tidak bisa membunuhmu?" Dewa Bencana tambak marah saat ini.
Dia sedang berada di Istana Dewa Perang untuk membahas beberapa masalah. Sebelumnya dia sudah menghindari pertemuan para dewa-dewi selama beberapa hari. Tapi tidak mungkin untuk selamanya. Mereka tidak bisa curiga tentang dirinya.
Sekarang, pohon keabadian telah memulihkan vitalitas. Dia juga diuntungkan oleh energi spiritual tersebut. Tapi siapa yang tahu saat dia berdiskusi dengan yang lainnya, Ning Siyu memanggilnya.
Dia berulang kali menutup komunikasi spiritual tapi Ning Siyu tak henti-hentinya memanggil. Dia sangat marah hingga mencari alasan untuk pergi selama beberapa waktu.
"Kenapa kamu marah padaku?! Aku yang harusnya marah padamu! Bagaimana bisa pohon keabadian memiliki vitalitas yang besar sekarang? Siapa yang melakukannya?" Ning Siyu berteriak marah.
Dewa Bencana mencibir. "Mana mungkin Dewa ini tahu. Hanya Dewa Pencipta Alam Para Dewa sendiri tidak yang mengetahui apa yang terjadi. Aku sedang berdiskusi dengan yang lain, jangan memanggilku bukan karena hal penting." Wajahnya sedikit menggelap.
"Lalu kenapa kamu tidak bertanya?" Ning Siyu menggertakkan gigi.
__ADS_1
"Bukan hanya aku yang bertanya-tanya, tapi dewa-dewi lainnya tak terkecuali. Tapi Dewa Pencipta Alam Para Dewa tidak mau mengatakan apa-apa. Memangnya apa lagi yang harus dilakukan? Dewa ini tidak bisa dicurigai begitu awal."
"Kamu—" Ning Siyu sangat marah tapi tidak berdaya.
Dia hanya bisa bersembunyi di gua setelah ketahuan oh Xiu Jimei. Dia memiliki dendam. Ingin sekali rasanya mencabik gadis murahan yang merayu Ming Zise nya.
"Omong-omong, Ming Zise membawa gadis itu untuk tinggal di Istana Minglan. Apakah kamu sudah tahu?" tanya Ning Siyu.
"Tentu saja tahu. Alam Para Dewa tahu itu."
"Lalu kenapa kamu tidak memberi tahuku?!"
"Dengan kemampuanmu, tidak sulit untuk mencari tahu."
"Kamu—" Ning Siyu memelototinya. "Dewa Bencana, jangan lupa bahwa kita adalah sekutu sekarang!"
Dewa Bencana tertawa rendah dan dan ejekan dalam ekspresinya. "Jadi bagaimana jika kita adalah sekutu? Ning Siyu, ingat satu hal. Tanpa diriku, sejak awal kamu sudah mati di tangan Ming Zise."
Tidak menunggu Ning Siyu membalas kata-katanya, Dewa Bencana segera berubah menjadi gumpalan asap hitam dan menghilang dari bibir gua.
Setelah kepergiannya, tidak ada yang menyadari jika sejak Dewa Bencana mungkin, sosok anak laki-laki berusia sekitar tujuh tahunan bersembunyi di alam.
Saat ini, anak laki-laki itu keluar dari batang pohon dan menatap gua dengan ekspresi serius. Lalu ada seringai jelas di wajahnya.
"Ternyata kamu di sini," gumam Yuu merasa telah menemukan banyak informasi saat ini. "Siapa yang menduga jika Dewa Bencana akan mengkhianati Alam Para Dewa. Ini tidak seperti dugaanku," gumamnya.
Yuu sepertinya memiliki rencana saat ini dan segera menghilang menjadi serbuk hijau yang tersapu angin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di Istana Minglan.
__ADS_1
Xiu Jimei tidak tahu apa-apa setelah kembali dari lingkungan pohon keabadian. Dia hanya menerima sebuah bola array kecil berisi bunga pohon keabadian dari anak buah Dewa Pencipta Alam Para Dewa. Yuu ingin memberikan bunga tersebut untuk Xiu Jimei sebagai ucapan terima kasih.
Meski Xiu Jimei sudah membaca banyak buku tentang bunga roh selama ini, dia tidak tahu tentang bunga-bunga Alam Para Dewa. Untungnya Tuit Tuit tahu banyak tentang itu.
Burung jingga kemerahan keluar dari ruang spiritual bawaan. Kini burung kecil itu memiliki bulu yang lebih lebat dan panjang. Tidak lagi terlihat seperti anak ayam yang kumal.
"Tuit Tuit, kamu tumbuh begitu cepat," ujarnya.
"Itu karena energi spiritual di Alam Para Dewa cocok untukku."
Awalnya Tuit Tuit tidak mau mengakui jika dirinya adalah reinkarnasi dari dewa binatang di masa lalu. Tapi sekarang dia harus percaya. Untungnya pihak lain belum datang untuk membawanya pergi.
Tuit Tuit sedikit tidak nyaman saat Xiu Jimei pindah ke Alam Para Dewa. Dia ingin menjauh dari alam ini tapi Xiu Jimei berkata jika tinggal di sini bukan untuk jangka waktu yang panjang. Cepat atau lambat pasti kembali ke Dunia Langit.
"Bagus kalau begitu." Xiu Jimei bisa lega. "Kalau begitu, cepat atau lambat kamus bisa memiliki wujud manusia. Aku ingin tahu apakah kamu cantik atau tidak."
Tuit Tuit ingin tersedak sesuatu. "Tuan, kamu lebih cantik dariku."
"Oh, jangan memujiku. Aku tahu bahwa aku sudah cantik sejak lahir."
"..." Lupakan saja, batin Tuit Tuit.
"Tuit Tuit, apakah kamu tahu apa kegunaan bunga ini?" Xiu Jimei kembali ke topik yang ingin dibahasnya.
"Tentu saja. Bunga itu bisa Tuan gunakan untuk membuat obat. Karena Tuan juga setengah alkemis, tentu saja pasti mencium aroma herbal dari bunga tersebut."
Xiu Jimei pun mencium aroma tersebut untuk memastikannya. Dan apa yang dikatakan Tuit Tuit memang benar. Aroma herbal sedikit menguar dari serbuk sari.
"Jadi, apa gunanya setelah diekstrak?"
"Ada banyak kegunaan. Bisa meningkatkan kultivasi atau menyembuhkan penyakit atau sebagai kecantikan. Masih banyak jenis kegunaan lainnya. Tapi sayangnya itu tergantung pada kondisi tubuh seseorang," jelasnya.
__ADS_1
"Aku masih tidak mengerti."
Tuit Tuit yang berada di bahu Xiu Jimei pun memutar bola matanya. "Bunga pohon keabadian ini hanya akan berfungsi jika tubuh orang itu memiliki kondisi khusus yang lebih dominan. Misalnya Tuan sudah cantik, bakat luar biasa dan energi spiritual melimpah. Jadi ketika Tuan mengonsumsinya, tidak akan ada efek sama sekali. Tapi jika tuan memiliki racun yang sulit dikeluarkan, maka fungsi bunga itu akan bekerja."