
Setelah memberikan buah ceri merah api, Tuit Tuit terbang meninggalkan tempat itu tanpa berkata sepatah kata pun. Kasim kepercayaan Kaisar Alam Baka mengambil dua buah ceri merah api dari tangan Wang Zheming. Lalu menyerahkannya pada kaisar.
"Yang Mulia, cobalah. Buah ceri ini terlihat sangat harum dan menggoda." Kasim kepercayaan Kaisar Alam Baka ingin mencobanya. Tapi dia tak berani mengatakan apa-apa.
Adapun Wang Zheming yang tersenyum datar, Kasim kepercayaan Kaisar Alam Baka merasa ada sesuatu yang salah. Tapi tidak tahu apa. Apakah Wang Zheming benar-benar tidak tergoda sama sekali.
Awalnya kaisar ingin memberikan satu buah ceri itu pada Wang Zheming. Namun ditolak dengan alasan tidak tertarik. Akhirnya Kaisar Alam Baka merasa lega. Sebenarnya dia sendiri tidak mau berbagi dengan pihak lain. Namun Wang Zheming telah hidup lebih dari seribu tahun, lebih tua darinya. Tidak sopan jika bersikap kasar padanya.
"Rasanya pasti enak," gumam Kaisar Alam Baka seraya memikirkan efek apa yang akan ditimbulkannya oleh buah tersebut.
Tanpa ragu, Kaisar Alam Baka memakan satu buah ceri sekaligus dan mengunyahnya dengan ekspresi bermartabat. Awalnya dia tersenyum, memuji rasa buah ceri manis seperti madu. Tapi tak lama senyumnya menghilang ketika menelan buah tersebut.
"Kaisar, apakah ada yang salah?" Kasim kepercayaan nya sedikit khawatir.
"Ahh!!" Tiba-tiba saja kaisar berteriak. Wajahnya mewah dan menjulurkan lidahnya beberapa kali.
Kasim kepercayaan Kaisar Alam Baka ketakutan dan hatinya tegang. "Yang Mulia, Yang Mulia! Tolong jangan menakutiku. Bagaimana mungkin Yang Mulia kerasukan setelah makan buah?"
"...?!!"
Kaisar Alam Baka yang mendengar tangis konyol kasimnya mau tidak mau tambah marah. Dia langsung menggampar lengan orang itu karena kesal. Ingin mengatakan sesuatu tapi susah. Otaknya terasa terbakar saat ini.
"Yang Mulia, bahkan jika rasa buah ceri ini sangat enak, tidak harus memukul kasim ini juga ..." Kasim kepercayaan Kaisar Alam Baka terkejut.
Untungnya Wang Zheming sudah meminta pelayan untuk mengambil air dan memberikannya pada kaisar. Tanpa basa-basi, kaisar meminum beberapa gelas air tanpa berkedip. Barulah rasa pedasnya berkurang sedikit.
Dia memelototi kasim kepercayaannya serta Wang Zheming secara bergantian. Terutama Wang Zheming. "Kamu pasti tahu sesuatu dan sengaja menghukum kaisar tua ini bukan?" tuduhnya.
Wang Zheming tidak panik sama sekali. "Tidak mungkin. Aku bahkan tidak tahu ceri ini seperti apa rasanya dan belum pernah mencoba. Bagaimana mungkin aku sengaja menipu kaisar? Jika ingin disalahkan, maka kaisar harus memikirkan dirinya sendiri. Seperti apa anak Xiu Jichen itu? Mudah ditipu?"
__ADS_1
"..." Kamu hanya menuduhku telah menipu anak mantan dewa iblis kan? Jadi sengaja balas dendam! Kaisar Alam Baka ingin memarahi Wang Zheming lagi tapi tidak tahu harus menggunakan kata-kata apa.
Rasa pedasnya belum hilang dan dia masih ingin minum air atau makan sesuatu yang lain. Kasim kepercayaan nya kebingungan. Barulah setelah itu, Kaisar Alam Baka sama sekali tidak berbelas kaisar pada Kasim kepercayaannya. Dia meminta kasimnya untuk memakan buah ceri.
Di bawah tatapan ancaman kaisar, kasim kepercayaannya itu langsung memakan buah ceri merah api tanpa berkedip. Dan dia akhirnya menyadari betapa pedasnya buah yang berbau manis tersebut.
Aula itu menjadi berisik setelah kaisar dan kasimnya sama-sama kepedasan. Beberapa perdana menteri yang baru saja datang bertanya pada Wang Zheming.
Perdana menteri keuangan membelai janggut abu-abunya. "Tuan Wang, apakah yang baru saja terjadi pada Yang Mulia Kaisar?"
"Oh, tidak sengaja memakan buah cabai."
"..." Setahu perdana menteri keuangan, Kaisar Alam Baka tidak suka makanan pedas.
Kaisar Alam Baka sudah meninggalkan aula dan hendak pergi ke halamannya sendiri untuk mengobati rasa pedasnya. Di perjalanan, dia bertemu dengan permaisuri yang pada dasarnya sedang menikmati pemandangan.
Permaisuri masih cukup muda tapi sebenarnya merupakan wanita paruh baya berusia lima ratus tahun. Hanya saja karena kultivasi nya cukup tinggi, tubuhnya awet muda.
Kaisar Alam Baka menolak dengan acuh tak acuh. Dia hanya merasa pedas di mulutnya semakin menjadi-jadi.
"Minggir, jangan bicara denganku sekarang. Aku butuh sesuatu untuk menghilangkan panas!" Dia tak sabar untuk pergi.
Hanya saja Kaisar Alam Baka lupa jika permaisurinya, istri yang paling dia cintai satu-satunya merupakan wanita galak. Layaknya harimau betina, setiap kali terprovokasi, pasti meledakkan amarahnya.
Sayangnya Kaisar Alam Baka belum sempat meminta maaf dan menjelaskan maksudnya, Permaisuri marah. Wanita bergaun kuning keemasan itu seketika menendangnya ke kolam ikan koi yang sedang diberi makan.
"Bagus sekali! Sekarang kamu begitu sombong setelah bermalam dengan selirmu, ya? Berani menolak permintaan ku! Memang benar! Pria tidak cukup untuk mengendalikan tubuh bawahnya tapi hatinya juga rentan setelah mendengarkan tiupan angin bantal selirnya!"
Permaisuri kesal dan marah. Kaisar yang tercebur ke kolam ikan bahkan menjadi lebih sadar. Tidak peduli seberapa pedas dan panas di mulutnya saat ini, dia tak bisa memprovokasi istrinya.
__ADS_1
Seraya mencoba untuk naik, Kaisar Alam Baka panik. "Istriku! Kamu salah paham! Kaisar tua ini tidak bermaksud demikian. Ini tidak ada hubungannya dengan selir mana pun."
"Poohh! Alasan yang tidak bisa diterima! Kamu urus dirimu sendiri! Permaisuri ini tidak peduli lagi!" Permaisuri segera meninggalkan tempat itu bersama dengan para pelayan dekatnya.
Kaisar masih ingin menjelaskan tapi rasa pedas di mulutnya tidak bisa dikendalikan lagi. Dia mengutuk buah ceri merah api itu dan menyesal karena memprovokasi Xiu Jimei. Gadis itu pasti sengaja membalas dendam padanya.
Di tengah-tengah dia mengutuk dirinya sendiri, sebuah sepatu kuning keemasan tiba-tiba saja menampar wajahnya dengan keras. Dia melihat jika sepatu itu milik permaisurinya.
Kaisar Alam Baka melihat Permaisuri yang terengah-engah karena marah setelah melempar sebelah sepatunya.
"Kamu bahkan berani mengumpat tentang ku! Aku akan pulang ke rumah orang tuaku hari ini!" Permaisuri melangkah cepat menjauh dari tempat tersebut.
"...?!!!" Kaisar Alam Baka merasa jika semuanya menjadi serba salah dan sial. Dia ingin mengejar permaisuri nya saat ini tapi tubuhnya basah semua.
Kenapa dia begitu sial hari ini? Benar-benar hari yang malang. Mungkin Xiu Jimei diam-diam berdoa untuknya agar sial?
Kaisar Alam Baka ingin menangis tanpa mampu mengeluarkan air mata. Lupakan saja. Setelah dia mengatasi rasa pedas di mulutnya, datanglah untuk membujuk permaisuri. Membujuknya di tempat tidur adalah cara yang paling ampuh.
Tanpa sadar, Tuit Tuit sebenarnya tidak langsung kembali ke tempat Xiu Jimei. Dia telah mengamati dari pepohonan. Menyaksikan Kaisar Alam Baka yang terkena sial satu persatu.
"Ini layak. Kaisar tua itu pasti akan sibuk membujuk istrinya alih-alih mengamati tuanku dari bola kristal jelek itu," gumam Tuit Tuit.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di gua tempat beruang roh tinggal, Xiu Jimei serta yang lainnya sedang memanggang ikan. Hari sudah mulai malam dan udara dingin berembus.
"Kira-kira, apa yang terjadi pada kaisar saat ini?" Wang Xuyue penasaran.
Xuan Xing sedikit merasa bersalah di hatinya karena berani menyarankan buah ceri merah api pada kaisar. Dia tahu dari ayahnya bahwa Kaisar Alam Baka tidak suka makanan pedas.
__ADS_1