Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Masa Dewasa Kembar Xiu


__ADS_3

Yan Yujie tidak mau mempermasalahkan kedua orang tuanya yang saling mengejar di halaman. Setelah menanam rumput petir, dia membawanya ke kamar.


Tak lama, sebuah surat yang diantarkan burung elang es membuatnya terkejut.


"Ini elang es dari daratan es tempat Xing Xing. Apakah dia mengirim pesan?" gumamnya.


Yan Yujie segera melepaskan gulungan surat yang ada di salah satu kaki elang es. Dia membaca surat itu, ternyata isinya adalah undangan jamuan ulang tahun.


Dia menepuk jidatnya dan lupa jika Xuan Xing akan berulang tahun tujuh hari lagi. Dia menepuk punggung elang es yang bulu-bulunya berwarna putih salju.


"Katakanlah, aku sudah tahu ini," katanya.


Elang es itu tampaknya mengerti dan segera terbang meninggalkan kediaman Yan.


Yan Yujie yakin jika surat undangan ini juga telah disebarkan pada teman-temannya yang lain.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Xiu Jimei menerima surat undangan dari Xuan Xing tentang jamuan ulang tahun yang akan diadakan di istana Kaisar Es—Xuan Bing. Juga merupakan ayah angkat si kembar saat ini.


"Kakak, Xing Xing akan ulang tahun dalam waktu dekat!" Xiu Jimei menerima tahu Xiu Jikai yang kini sedang membaca buku.


"Ulang tahun?" Xiu Jikai sepertinya memikirkan sesuatu. "Seharusnya tujuh hari lagi bukan?"


"Benar. Aku harus menyiapkan hadiah untuk Xing Xing."


Keduanya berada di Alam Para Dewa saat ini. Xiu Jimei pergi ke penginapan di mana kakaknya tinggal sementara. Karena keduanya terbiasa hidup bersama-sama, jadi saat ini suasananya sangat harmonis.


"Dia tidak kekurangan apapun. Beri saja sesuatu yang disukainya."


"Benar juga."


Xuan Xing mungkin tidak memiliki segalanya seperti Xiu Jimei dan Xiu Jikai. Tapi dia memiliki ayah yang berbakat dan berpengetahuan luas.


Menurut ayahnya, Xuan Bing memiliki dasar pengetahuan yang sama dengan ibunya. Inilah yang kadang membuat Xiu Jichen kesal setiap kali melihat Xuan Bing.


Xiu Jimei tidak tahu apa yang harus diberikan pada Xuan Xing. Gadis itu tinggal di wilayah es yang dingin. Sesuatu yang menghangatkan tubuhnya pasti tidak akan berguna.


"Aku akan pergi menemukan Ming Ming untuk meminta saran," katanya.


Xiu Jikai sedikit tidak senang tapi dia tak bis menghentikannya. "Berhati-hatilah di jalan."


"Aku tahu, Saudaraku."

__ADS_1


Xiu Jimei segera pergi ke Istana Minglan.


Ketika tiba di sana, Ming Zise sedang sibuk membaca gulungan surat di ruang belajar. Namun saat Xiu Jimei datang, pria itu meletakkan gulungan kertas dan memintanya untuk mendekat.


Saat Xiu Jimei berada dalam jangkauan, Ming Zise segera memeluknya.


"Apakah kamu pergi ke tempat kakakmu lagi?" tanyanya.


"Benar. Ming Ming, temanku akan ulang tahun dalam beberapa hari lagi. Aku tidak tahu harus memberi hadiah apa padanya. Mungkin kamu punya saran bagus?"


"Siapa yang ulang tahun?"


"Ini Xuan Xing, anak atau angkatku."


"Xuan Xing? Apakah gadis dari daratan es itu?"


"Benar."


Ming Zise tersenyum. "Kalau begitu Mei'er bisa memberinya sesuatu yang disukai oleh orang-orang yang tinggal di wilayah dingin."


"Tapi aku tidak tahu harus memberinya apa," katanya.


Ming Zise sepertinya memiliki sesuatu. "Kalau begitu, pergilah ke Dewa Cuaca dan tanyakan ini padanya."


"Tentu saja." Ming Zise terkekeh. Dewa Cuaca jarang muncul jadi tentu saja Xiu Jimei tidak tahu. Lagi pula istana nya agak jauh dari sini.


Xiu Jimei tentu saja ingin pergi. Namun Ming Zise tidak perlu membiarkannya pergi, cukup undang Dewa Cuaca untuk datang.


"Apakah dia akan datang?"


"Dia harus memberi wajah padaku, tentu saja datang."


"Kalau begitu—" Xiu Jimei tiba-tiba memegangi kepalanya yang tiba-tiba saja berdenyut kesakitan. "Ah! Sakit!"


Wajah Xiu Jimei menjadi pucat dalam sekejap hingga senyum Ming Zise pun memudar. Gadis yang duduk di pangkuannya mengerang kesakitan seraya menyentuh kepalanya.


"Mei'er, ada apa?" tanyanya serius.


"Kepalaku sakit seperti akan pecah!" Xiu Jimei menggelengkan kepalanya dan ingin berguling di lantai. Tubuhnya lemas.


Ming Zise menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Tapi Xiu Jimei tidak peduli dengan ini. Dia hanya ingin meredakan sakit kepala yang menjeratnya. Dia berteriak dan hampir saja berderai air mata.


Melihat hal ini, Ming Zise merasa dingin di hatinya. Dia ingin meredakan rasa sakit itu tapi tidak tahu bagaimana caranya.

__ADS_1


"Mei'er, Mei'er," gumam Ming Zise seraya memeluknya dengan tangan berkeringat dingin.


Tak lama, Wuming dan Yamla datang seraya memapah Xiu Jikai yang lemas. Kondisinya hampir sama dengan Xiu Jimei. Xiu Jikai terus menggumamkan nama Xiu Jimei.


"Tuan!" Keduanya berkata bersamaan.


Ming Zise melihat kondisi keduanya serius, mau tidak mau meminta keduanya untuk membawa Xiu Jikai ke ruang samping. Dia juga membopong Xiu Jimei ke sana.


Hanya dalam waktu singkat, si kembar menumbuhkan tanduk naga di bagian dahi atasnya. Simbol naga juga muncul di tengah kedua alisnya. Beberapa sisik putih tumbuh di kedua punggung tangan si kembar.


"Ini ... Apa yang terjadi?" Yamla yang berubah menjadi manusia tampak terkejut melihat fenomena keduanya.


Tanduk naga yang muncul tidak besar, hanya sepanjang dua sentimeter saja, agak melengkung ke atas dan bercabang sedikit.


Xiu Jimei dan Xiu Jikai seperti orang yang telah tidur tapi berada di ambang mimpi. Tidak bisa bangun tapi juga tidak bisa tidur.


"Tuan ..." Wuming sedikit bingung.


Ming Zise menyipitkan mata. Dia ingin mengirim pesan pada Xiu Jichen tentang kondisi keduanya. Namun tak butuh lama bagi dia untuk menghubungi pihak lain, Xiu Jichen tiba dengan cara teleportasi ruang spiritual.


Ekspresi Xiu Jichen serius dan aura dinginnya menguar setiap kali dia melangkah.


"Xiu Jichen," sapa Ming Zise. "Mereka ...."


"Tidak apa-apa," tukas Xiu Jichen.


Xiu Jichen saat ini juga menumbuhkan tanduk serta beberapa sisik naganya. Iris mata ungu kehitamannya telah berubah menjadi kuning keemasan.


"Akhirnya hari ini tiba juga," katanya.


"Maaf, apa maksudnya?" Yamla penasaran.


"Masa dewasa Mei'er dan Kai'er telah tiba."


"Masa dewasa?" Yamla dan Wuming terkejut. "Bukankah masa dewasa sudah terjadi saat usia manusia langit tujuh belas atau delapan belas tahun?" tebaknya.


"Ini adalah masa dewasa klan naga. Tentu saja beda. Keduanya memiliki darah jalan nagaku. Sejak lahir, mereka ditakdirkan untuk menjadi manusia setengah naga."


Perlahan, rambut Xiu Jimei dan Xiu Jikai berubah putih keperakan. Bersamaan dengan itu juga, Xiu Jichen mengalami hal serupa. Darah ayah dan anak klan naga terhubung. Xiu Jichen tentu saja tidak akan membiarkan keduanya mengalami kecelakaan.


"Aku akan membawa keduanya ke Dunia Bawah sekarang. Keduanya tidak bisa dibiarkan seperti ini di tempat terbuka. Jika tidak, aura klan naga akan bocor dan menarik beberapa pihak. Belum lagi Alam Neraka juga menginginkan esensi delapan dewa-dewi. Jika mereka tahu Mei'er dalam kondisi lemah, penyerangan bisa saja terjadi," jelas Xiu Jichen pada Ming Zise.


"Tidak! Tidak perlu pergi. Gunakan saja ruang pintu tertutup ku untuk keduanya." Ming Zise menolak.

__ADS_1


Wuming dan Yamla membelalakkan mata. Apakah tuannya serius?!


__ADS_2