
Sayangnya gajah roh dewa yang menjadi penyebab hancurnya bendungan sudah pergi ke arah lain dengan cepat. Meski ada jejak basah di jalan, tapi itu akan hilang seiring keringnya tubuh mereka.
Dewa bencana yang tahu ini hanya bisa menelan amarahnya dan meminta para bawahan untuk membangun bendungan lagi.
Saat air sungai yang menggenangi kebun stroberi mengering, dewa bencana hanya bisa meratap. Semua tanaman stroberi kini hanya menyisakan daun. Semua buahnya habis dimakan ikan roh dewa.
"Aku menanamnya dan menunggu stroberi siap panen bulan ini, siapa tahu bencana ini akan datang. Aku terkena sial. Ini pasti gara-gara dewa kesialan." Dewa bencana mulai menuduh dewa kesialan.
Salah satu bawahan setianya menebak. "Dewa, mungkin ini karena gunung api yang meletus di alam sekuler saat ini?"
"Apa hubungannya dengan ini?"
"Wuming adalah bawahan mantan dewa tertinggi. Dan mantan dewa tertinggi memiliki bintang phoenix yang memiliki esensi delapan dewa-dewi."
"Siapa bintang phoenix nya?"
"Xiu Jimei, anak dari bintang phoenix mantan dewa iblis Xiu Jichen. Kalau tidak salah, namanya adalah Fu Chan Yin. Esensi delapan dewa-dewi pada anaknya berasal dari dia."
"..."
Apakah keluarga mantan dewa iblis ini sungguh mendominasi?
Jadi maksud bawahannya, bencana hari ini karena do'a Xiu Jimei?
Bisakah itu? Pikirnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di alam sekuler.
Xiu Jimei baru saja selesai berdoa agar dewa bencana merasakan karmanya. Dia berdoa karena kesal akibat tempat tinggal warga desa kini tersapu oleh lahar.
Array pelindung sudah dilepaskan dan semua orang menghela napas lega. Para murid kultivator sedikit lelah setelah mengalami banyak kejutan batin yang tidak ada hentinya.
Mereka menyaksikan gunung api meletus serta menyaksikan bagaimana lubang gunung api itu dilempar batu raksasa hingga tidak lagi menimbulkan kerusakan parah.
__ADS_1
"Xiao Mei, apa lagi yang kamu doakan?" Xuan Xing melihat Xiu Jimei baru saja menatap langit sambil bergumam tidak jelas.
"Bukan apa-apa, hanya ingin menyapa dewa bencana."
"..." Kenapa kamu suka sekali menggoda para dewa? Batin Xuan Xing.
Ming Zise yang ada di sampingnya tersenyum diam-diam. Menyapa dewa bencana? Seharusnya itu berhasil. Ming Zise segera memerintahkan Wuming untuk pergi ke Alam Para Dewa dan mengecek apa yang terjadi di istana dewa bencana hari ini.
Sementara itu, Wuming yang baru saja bersandar di bawah pohon raksasa tak jauh dari gunung api pun tampak lelah dan ingin duduk. Dia mengerahkan banyak energi spiritual untuk mengangkat bukit batu. Dia hanya bawahan kecil, kekuatannya tidak sebesar kultivator dewa.
Tapi tak lama, dia mendapatkan pesan telepati dari Ming Zise yang memintanya untuk pergi ke Alam Para Dewa.
Wuming ingin pingsan detik itu juga.
"Tuan tidak berperasaan," gumamnya.
Namun Wuming masih pergi sesuai perintah. Dia tidak berani lalai. Jika berani melawan perintah Ming Zise, mungkin dirinya akan ditendang dari Alam Para Dewa detik ini juga.
Sedangkan saat ini, para warga desa yang kehilangan tempat tinggalnya terpaksa membuat tenda sementara, dibantu oleh para murid yang ada. Para warga desa sangat bersyukur atas kehadiran mereka dan mengucapkan rasa terima kasih yang dalam.
Salah satu guru pendamping membantunya untuk berdiri dengan baik. "Tidak perlu, ini tugas kami."
"Kami telah kehilangan banyak hal hari ini. Tapi selama kami masih hidup, semuanya bisa dimulai lagi dari awal."
"Mengenai beberapa hewan ternak, kami sudah menyelamatkan sebisa mungkin. Harta benda juga sama. Jadi kalian masih memiliki sedikit simpanan untuk masa depan." Meng Meng menenangkan kekhawatiran warga desa.
Xiu Jimei juga mengatakan beberapa hal baik. "Jangan khawatir tentang hewan ternak. Aku juga membantu menyelamatkan mereka."
Seorang wanita tua berbinar saat Xiu Jimei berkata demikian. Dia hanyalah wanita tua berambut putih yang wajahnya keriput tapi ada jejak energi spiritual di tubuhnya. Xiu Jimei merasakannya.
"Ya. Ini dia!" Xiu Jimei mengangguk.
Dia segera mengeluarkan semua hewan ternak dari ruang spiritual bawaan. Semua hewan seperti bebek, ayam, angsa, kuda hingga b*bi pun tak luput muncul di depan mereka begitu saja, seperti sihir. Bukan hanya itu, ikan-ikan di ember juga masih hidup.
"..." Semua warga desa dan para murid ujian sedikit tercengang dengan apa yang dilaksanakan Xiu Jimei.
__ADS_1
Sebanyak itu?
Menyelamatkan banyak hewan ternak pada saat bencana alam yang mengerikan ini, bukankah itu terlalu abnormal?
Tapi wanita tua yang berbinar saat melihat Xiu Jimei pun akhirnya tertawa dan memujinya lebih tulus lagi. Anak muda zaman sekarang sungguh luar biasa. Perkembangan zaman semakin maju. Bahkan kultivator Dunia Langit pun memiliki hati yang baik.
"Anak baik." Wanita tua itu mengangguk sana menepuk pundak Xiu Jimei. Ada sedikit perhitungan kecil di matanya yang segera disembunyikan.
Xiu Jimei sedikit canggung. Apakah dia begitu baik? Ini hanya menyelamatkan beberapa hewan ternak saja.
Untuk membalas budi para murid, warga desa ingin menjamu mereka dengan makanan seadanya. Akhirnya para murid dan warga desa membangun beberapa tenda lebih dulu untuk berteduh dari panas dan hujan. Sisanya akan diurus setelah keadaan stabil.
Karena para murid kultivator memiliki tenaga yang lebih besar, pengerjaan membangun tenda, membuat api unggun, mengumpulkan air dan kayu bakar selesai kurang dari setengah hari. Mereka juga berburu.
Xiu Jimi dengan baik hati mengeluarkan beberapa bumbu dapur untuk digunakan mereka. Dia juga lapar. Hingga dia tertarik dengan wanita tua yang memiliki jejak energi spiritual di tubuhnya.
Mungkinkah mantan kultivator? Pikirnya.
"Sepertinya Nona ini mampu melihat siapa aku?" Wanita tua itu tidak bermaksud untuk menyembunyikannya.
"Ah, apakah mantan kultivator?" tebak Xiu Jimei.
Wanita tua itu memiliki wajah keriput dan sedikit bungkuk tapi tampaknya tidak berada di usia manusia biasa yang normal pada umumnya. Dia adalah istri kepala desa bernama Ruan. Biasanya dipanggil Nenek Ruan.
Xiu Jimei dan Nenek Ruan duduk di kursi yang telah disiapkan oleh murid lain sebagai tempat istirahat. Nenek Ruan juga menyajikan teh untuk Xiu Jimei dan ada jejak nostalgia di wajahnya.
"Ya, dulu aku adalah kultivator yang datang dari Dunia Langit." Nenek Ruan buka suara.
Xiu Jimei terkejut. Dari Dunia Langit?
Nenek Ruan tersenyum setelah meminum tehnya. "Ya, itu benar. Aku datang ke sini setelah penyatuan enam dunia di sana selesai. Aku hanya ingin mengenal dunia baru tapi tidak menyangka akan bertemu cinta sejati di sini. Bahkan jika itu menjadi istri kepala desa yang tidak memiliki energi spiritual atau jejak kultivator, cinta memang bisa mengalahkan segalanya."
Sepertinya Nenek Ruan sangat menikmati hari-hari di alam sekuler.
"Kalau begitu, saat di Dunia Langit, di negeri mana Nenek tinggal sebelumnya?"
__ADS_1