Menikahi Mantan Dewa Tertinggi

Menikahi Mantan Dewa Tertinggi
Telur Api yang Misterius


__ADS_3

Telur yang ditemukan Xiu Jimei terletak di tengah-tengah lingkaran batu yang hangat. Tampaknya akan segera menetas. Ukuran telur itu seperti telur burung besar roh pada umumnya.


Xiu Jimei mengambil telur itu dan melihat permukaannya yang merah bercampur hingga. Sangat cantik. Telur itu sangat hangat dan berat. Sepertinya ada kehidupan lain di dalam telur yang akan menetas kapan saja.


"Aku ingin telur ini!" Xiu Jimei memeluknya.


"Xiao Mei, bagaimana jika itu telur ular?"


"Tidak apa-apa, maka besarkan saja."


"..." Telur api berwarna merah itu sebenarnya bisa mendengar apa yang dikatakan Xiu Jimei.


Tapi dia bukan ular! Bukan ular! Berani mengejek leluhur klan burung, pikirnya.


Sayangnya telur itu tidak bisa mengatakan apa-apa. Dia awalnya ingin melawan dan menyerang Xiu Jimei karena berani menyentuh dan ingin mengambilnya untuk ditetaskan. Tapi setelah merasakan energi spiritual murni yang sangat luar biasa, telur itu mengurungkan niatnya.


Dia mampu melihat seperti apa Xiu Jimei. Ada esensi yang sangat kuat dari tubuh gadis itu. Belum lagi pria di sampingnya memiliki darah dewa. Dia semakin tidak ingin melawan. Dibesarkan manusia yang kuat juga tidak masalah. Dia bisa makan gratis dan tidur tanpa ada kultivator lain yang mengincarnya di masa depan.


"Guru, bisakah ini diambil?" tanya Xiu Jimei.


"Ya, ambil saja. Kalau begitu, biarkan guru menyentuhnya sebentar untuk memastikan sesuatu."


"Baik." Xiu Jimei menyerahkan telur itu pada Ming Zise.


Saat Ming Zise menyentuh permukaan telur, mata dewanya melihat lebih jauh ke dalam telur. Ada jiwa seekor burung berwarna jingga kemerahan di dalamnya. Dia akhirnya bisa mengetahui identitas dari telur tersebut.


Sedangkan telur itu sedikit gemetar di tangan Ming Zise. Tak ada rahasia yang bisa disembunyikan darinya. Telur itu hanya bisa pasrah.


Tolong, jangan makan aku, kata si telur melalui telepati kepada Ming Zise.


Ming Zise mengerutkan kening. Tidak tertarik dengan telur burung yang hambar. Dia menyerahkannya lagi pada Xiu Jimei.


"Tidak ada yang aneh. Ini hanya telur ayam yang tidak berguna," katanya.


"Telur ayam? Guru, yang benar saja?" Xiu Jimei heran. Telur ayam tidak mungkin seperti ini. Jangan membodohinya.


"Ini ayam yang bisa terbang." Pria itu tersenyum dan mengelus kepala gadis itu yang sangat halus.

__ADS_1


"Oh, ternyata burung." Xiu Jimei menghela napas.


Dia pikir sungguh ayam. Jika benar ayam, maka Cip Cip punya saingan.


"..." Telur itu marah pada Ming Zise.


Ayam?


Sekarang dirinya dikatakan telur ayam. Sangat tidak bermoral.


Tapi ketika Xiu Jimei memeluknya, telur itu mulai menyerap energi spiritual yang murni dari tubuh Xiu Jimei dengan rakus. Dia ingin esensi dalam tubuh gadis ini agar bisa menetas lebih cepat.


Awalnya telur berwarna merah bercampur jingga itu sangat percaya diri, mengerahkan kemampuan untuk menyerap esensi energi spiritual di tubuh Xiu Jimei. Tapi siapa yang tahu saat esensi delapan dewa-dewi di tubuh Xiu Jimei merasakan sikap rakus yang tak ada habisnya, perlawanan dilakukan.


Esensi delapan dewa-dewi di tubuh Xiu Jimei langsung menyentil aura roh telur yang dipeluk. Seketika, telur itu sedikit tersentak dan hampir saja tergelincir dari pelukan Xiu Jimei.


Ahh! Sakit, sakit, sakit! Telur itu berkata pada dirinya sendiri dan hanya bisa didengar olehnya sendiri. Esensi energi spiritual di tubuh Xiu Jimei melawannya. Dan itu sangat kuat.


Entah kenapa, telur itu merasa takut dengan esensi delapan dewa-dewi di tubuh Xiu Jimei. Alih-alih menyerap energi spiritual gadis itu untuk mempercepat proses penetasan, justru sebaliknya! Energi spiritual pada telur mulai terserap ke tubuh Xiu Jimei, diisap oleh esensi delapan dewa-dewi. Ini adalah pembalasan.


Xiu Jimei merasa tidak nyaman di tubuhnya. Terutama setelah telur di pelukannya bergerak dan hampir saja jatuh menyentuh batu tajam.


"Ya, tapi tidak bisa kita dengar. Tidak apa-apa. Ketika menetas, dia mungkin menjadi burung yang nakal." Ming Zise berwajah gelap saat tahu trik diam-diam telur itu di peluk Xiu Jimei.


Berani menyerap energi spiritual gadis itu, Ming Zise tidak sabar untuk merebusnya menjadi telur yang enak.


"Apakah ini masih telur biasa atau siap menetas?"


"Ini masih telur. Xiao Mei ingin merebusnya?" tawar Ming Zise.


"Bukankah itu akan membuatnya mati? Mungkin tidak bisa menetas?"


"Ini masih telur dan enak jika dimakan. Bahkan jika itu telur burung, hanya burung roh kecil yang tidak ada gunanya. Mari kita coba merebusnya terlebih dahulu. Jika tidak menetas, maka telur ini hanya telur biasa," jelas Ming Zise.


Dia tersenyum misterius pada telur yang dipeluk Xiu Jimei. Dia tahu telur burung apa itu dan ingin tahu apakah memiliki kemampuan untuk menetas atau tidak.


"..." Telur di pelukan Xiu Jimei merasa bahwa menetas sebelum direbus lebih baik. Pada akhirnya telur itu pura-pura mati.

__ADS_1


Xiu Jimei memasukkan telur ke dalam cincin ruang penyimpanan spiritualnya. Dia akan mengurus telur itu nanti dan berpikir apakah harus merebusnya atau tidak.


Tiba-tiba saja teriakan Yan Yujie menggema di salah satu cabang gua. Xiu Jimei dan Ming Zise sadar jika mereka masih berada dalam bahaya tersembunyi saat ini.


"Kenapa kamu berteriak?" Wang Xuyue kesal dan menampar kepala Yan Yujie karena kesal. Benar-benar mengagetkan dirinya dan Cip Cip.


Yan Yujie mencubit leher ular kecil berwarna merah di tangan kanannya. Wajahnya sedikit pucat tapi tidak takut, hanya terkejut. Ular ini mengejutkannya.


"Hanya seekor anak ular roh api. Kenapa kamu teriak begitu kencang?" Wang Xuyue bertanya padanya sambil berkacak pinggang.


"Ular ini tiba-tiba jatuh di kepalaku."


"Kamu memang selalu sial di mana-mana."


"..." Yan Yujie tahu itu.


"Apakah ularnya mati?"


Cip Cip menatap ular merah roh yang masih kecil itu tak bergerak sedikit pun di tangan Yan Yujie. "Mati tercekik," katanya.


"..." Wang Xuyue tertegun. Mati? Sekali cekikikan sudah mati? Dia percaya jika Yan Yujie takut, bukan terkejut.


Lalu Cip Cip merasa ada yang jatuh di punggungnya. Lehernya yang panjang mampu membuat kepalanya melihat ke punggungnya sendiri. Ada seekor ular merah kecil jatuh ke punggungnya dan mendesis kecil.


"..." Cip Cip terkejut. Dia segera menjatuhkan ular itu dengan menggunakan patuhnya.


Kali ini Wang Xuyue yang terkejut. "Kenapa ada banyak ular kecil di sini? Mungkinkah ini sarangnya?"


Tanpa sengaja, Wang Xuyue menengadah ke langit-langit cabang gua. Seketika dia tertegun. Wajahnya pucat dan kakinya sulit untuk bergerak. Dia sepertinya kehilangan suara untuk berteriak saat ini.


"Xuyue, kenapa kamu terdiam?"


Yan Yujie kebingungan. Dia juga mengikuti pandangannya hingga akhirnya berteriak kembali. Kali ini lebih nyaring dari sebelumnya. Yang lainnya berpikir jika Yan Yujie ini kecanduan untuk membuat keributan di bawah gunung api.


"Bisakah kamu berhenti berteriak? Bagaimana jika ada bintang roh yang terganggu dan datang ke sini?" Jia Lishan kesal.


"Ular! Ada banyak ular! Ini sarang ular'!" Suara Yan Yujie yang penuh kepanikan dan rasa takut pun segera keluar dari cabang gua sambil menyeret Wang Xuyue yang pucat.

__ADS_1


Cip Cip sudah berada di belakang mereka. Tampaknya ular merah kecil itu tidak bermain melawan Cip Cip karena energi spiritual nya yang lebih besar.


"Ular?" Jia Lishan bingung. Dia dan Xuan Xing saling melirik.


__ADS_2