
Xiu Jimei yang melihat Ming Zise langsung bertanya. "Bukan dia? Lalu siapa?" Ia menanyakan pertanyaan yang sama dengan Kaisar Alam Baka.
Ming Zise juga belum pasti. "Rubah kecil ini baru berusia 500 tahun lebih dan kekuatannya tidak terlalu besar. Dia hanya memiliki elemen api tapi tidak mampu mengeringkan sungai terbesar begitu saja. Lagi pula, untuk mengeringkan sebuah sungai, setidaknya pihak lain harus berada pada di atas kultivasi alam bawaan tingkat tiga*."
Walaupun Ming Zise bukan penduduk Dunia Langit, dia tahu lebih banyak tentang kultivasi. Apa lagi kultivasi di Dunia Langit lebih beragam dibandingkan orang-orang di Alam Para Dewa. Tidak sulit untuk membedakannya.
"Kultivator alam bawaan tingkat tiga?" Kaisar Alam Baka ingin pingsan.
Tidak banyak kultivator dengan alam bawaan seperti itu. Kecuali dirinya serta beberapa orang di keluarga besar. Karena itu, semakin besar tingkat kultivasi, semakin tinggi juga posisi mereka di Negeri Alam Baka.
Keluarga Fu adalah salah satu contoh. Belum lagi marga Yan yang saat ini dikepalai oleh Yan Rusheng. Yan Yujie sebagia putra pria itu akan menjadi pewaris di masa yang akan datang. Serta masih banyak lagi.
Siapa yang berani menentang aturan Negeri Alam Baka? Bukankah ingin menjadi musuh enam negeri Dunia Langit?
Alasan kenapa tidak ada keluarga kultivator bangsawan yang ingin berkhianat tentu saja karena semua negeri akan memusuhi mereka. Siapa yang tahan dihancurkan oleh enam negeri? Bukankah itu menggali lubang dan mencari kematiannya sendiri?
Tongluo yang masih terkejut melihat Ming Zise, kini sedikit bersantai. Tentu saja dia bukan pelakunya. Kini akhirnya ada orang yang lebih pintar untuk menilai keadaan.
"Apakah kamu tahu siapa yang melakukannya?" tanya Xiu Jimei pada Tongluo.
__ADS_1
"Tidak! Bagaimana aku tahu?!" Tongluo hampir mati karena amarah. Gadis yang memiliki kekuatan mesum itu, apakah otaknya rusak?! Masih menuduhnya.
Ming Zise menggelengkan kepalanya dengan ringan. Xiu Jimei sedang menggoda rubah merah itu. Ia menyentuh kepala gadis itu dengan lembut.
"Tidak semua makhluk Alam Neraka itu jahat. Rubah kecil itu hanya terpesona. Dia tidak sejahat yang dipikirkan." Ming Zise tidak berbohong.
Awalnya dia enggan untuk datang ke Istana Kekaisaran Negeri Alam Baka. Dia tidak mau menunjukkan identitasnya. Untung saja tidak ada yang bertanya tentang dirinya. Mungkin karena Kaisar Alam Baka juga tidak banyak bicara sehingga para bawahan tak memiliki keberanian.
Bagaimana pun juga, Kaisar Alam Baka berada di puncak kultivasi alam bawaan tingkat ke empat yakni ranah kekosongan. Dia tahu berapa banyak kekuatan yang dimilikinya. Lalu pikirkanlah musuh dengan tongkat kultivasi yang sama sedang mengosongkan air sungai terbesar di Negeri Alam Baka.
Saat ini ada dua kemungkinan. Entah itu ulah seseorang yang sengaja membuat masalah atau disebabkan oleh binatang roh lain.
Siapa tahu, Ming Zise mulai mengatakan berbagai hal tentang rubah merah tersebut. Ada darah dewa di tubuh Tongluo. Tidak terlihat jelas tapi ia masih bisa merasakan. Ming Zise menebak dua kemungkinan. Entah itu rakyat Alam Para Dewa yang memang sengaja dijadikan iblis Alam Neraka. Atau kemungkinan terakhir, iblis setengah dewa.
Tongluo mengangguk lemah. "Tentu saja aku tidak jahat. Aku hanya nakal!"
Tongluo berdebat dengan banyak orang di sana dan tiba-tiba saja terjadi gempa yang goncangannya cukup kuat. Tongluo, sebagai iblis rubah Alam Baka, sedikit sensitif terhadap perubahan alam. Bukan hanya dia, tapi beberapa binatang roh lain pun sama.
Orang-orang di istana panik dan berusaha untuk tetap menyeimbangkan tubuh.
__ADS_1
"Gempa bumi?" Xiu Jikai mengerutkan kening.
Tuit Tuit keluar dari ruang spiritual bawaan Xiu Jimei. Ia membisikkan sesuatu pada gadis itu. Mau tak mau, Xiu Jimei juga mengerutkan kening. Tuit Tuit merasakan sesuatu yang akrab di hutan sebelumnya tapi ia abaikan. Burung jingga kemerahan itu mengira rasa keakraban hanya muncul sesaat.
Tapi tampaknya sekarang bukan lagi ilusinya. Ia memang merasakan sesuatu yang akrab dari kejauhan.
"Tuan, guncangan ini berasal dari hutan, tak jauh saat kita bertemu Tongluo. Aku merasa tidak nyaman saat ini. Kenapa tidak pergi dan mencari tahu lebih dulu?" Tuit Tuit ingin pergi.
"Pergilah. Aku akan menyusul nanti," jawab Xiu Jimei ringan.
Kemudian Tuit Tuit terbang meninggalkan istana kekaisaran dan pergi ke arah di mana titik guncangan berada. Xiu Jikai tidak perlu bertanya banyak karena ia baru saja mendengar semuanya.
Gempa hanya terjadi sebentar, kemudian tenang kembali. Tapi orang-orang di Negeri Alam Baka belum tenang sedikitpun. Mereka mungkin menbayangkan jika gempa susulan akan terjadi.
Kaisar Alam Baka jelas menganggap masalah ini serius. "Periksa! Periksa apa yang terjadi dan segera lapor padaku!" titahnya pada para penjaga gelap yang muncul untuk melapor.
"Lalu bagaimana dengan rubah ini?" Mereka menatap Tongluo, pelaku yang membakar hutan.
...****************...
__ADS_1
*NOTE: Kultivasi alam bawaan di sini maksudnya kultivator yang memasuki ranah surga, langit, bumi dan kekosongan. Dan tingkat ketiga adalah ranah bumi (jika tidak salah). Tingkat kultivasi ada pada novel sebelumnya, Wife of Heaven the King of Hell.